Ads 468x60px

.

News Slide

Sabtu, 28 Februari 2015

Lembaga Pemerintahan Pusat



Lembaga pemerintah ditingkat pusat berarti sebuah lembaga yangmempunyai kekuasaan untuk mengatur negara kita ini. Susunan lembaga negara kita yang dulu dengan sekarang berbeda. Hal ini dikarenakan adanya perubahan (amandemen) terhadap UUD 1945. UUD1945 telah diamandemen sebanyak empat kali. Setelah mengalami empat kali perubahan, negara Indonesia mengenal ada beberapa lembaga Negara di antaranya :

  1. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
  2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
  3. Dewan Perwakilan Daerah (DPD)
  4. Presiden
  5. Mahkamah Agung (MA)
  6. Mahkamah Konstitusi (MK)
  7. Komisi Yudisial (KY)
  8. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
Lembaga di atas menjalankan tiga kekuasaan, yaitu legislatif, eksekutif,dan yudikatif. MPR, DPR, dan DPD disebut lembaga legislatif. Presiden danwakilnya disebut lembaga eksekutif. MA, MK, dan KY disebut lembaga yudikatif.BPK merupakan lembaga yang mandiri.



  • 1.Lembaga Legislatif


Lembaga legislatif merupakan lembaga negara yang mempunyai kekuasaan untuk membuat undang-undang. Lembaga legislatif terdiri dari Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).


  • Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)


Anggota MPR terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang dipilih melalui pemilihan umum. MPR bersidang paling sedikit sekali dalam lima tahun. Sidang tersebut diadakan di ibu kota negara. Akan tetapi, bila terjadi situasi-situasi yang penting dan mengharuskanadanya pembahasan bersama, mereka dapat mengadakan sidang. Sidang tersebut disebut sidang istimewa.


Berikut ini tugas-tugas MPR.

  1. Mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar.
  2. Melantik presiden dan wakil presiden berdasarkan hasil pemilihan umum.
  3. Memberhentikan presiden atau wakil presiden dalam masa jabatannyamenurut UUD.

  • Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)


Menurut UUD 1945, anggota DPR dipilih melalui pemilihan umum. DPR merupakan wakil rakyat yang mewakili seluruh rakyat Indonesia. Jadi, DPR harus membela rakyat, menyampaikan pikiran, kehendak, dan kepentingan rakyat.DPR merupakan lembaga tinggi negara yang kedudukannya setara dengan presiden dan lembaga tinggi negara yang lain.
Berikut ini fungsi DPR.

  1. Fungsi legislasi artinya DPR mempunyai kewenangan membentuk undang-undang dengan presiden untuk mendapat persetujuan bersama.
  2. Fungsi anggaran, artinya DPR menyusun dan menetapkan APBN(Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) bersama pemerintah.
  3. Fungsi pengawasan, artinya DPR melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UUD 1945 dan undang-undang lainnya.


Dalam melaksanakan fungsinya, DPR mempunyai hak interpelasi, hak angket, hak menyatakan pendapat, hak mengajukan pertanyaan, hak menyampaikan usul dan pendapat, serta hak imunitas. Dewan PerwakilanRakyat bersidang sedikitnya sekali dalam setahun. Anggota DPR dipilih melalui pemilihan umum. Pada periode 2004-2009,anggota DPR berjumlah 550 orang.

Urgensi Beramal Dalam Jama'ah



Walaupun satu keluarga kami tak saling mengenal
Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini
Hidupkan lagi ajaran saling mencintai
Ajari lagi kami berkhidmat seperti dulu
-M. Iqbal


Itulah beberapa bait dari sajak doa iqbal. Mungkin batinnya menjerit pada kesaksiannya atas zamannya: umat ini seperti daun daun yang berhamburan. Seperti daun daun yang gugur diterpa angin, tak ada lagi kekuatan yang dapat menghimpunnya kembali, menatanya seperti ketika ia masih menggayut pada pohonnya.

Begitulah kenyataan umat ini: mungkin banyak orang salih diantara mereka, tapi semuanya seperti daun-daun yang berhamburan, tidak terhimpun dalam sebuah wadah bernama jamaah, mereka hilang diterpa angin zaman. Mungkin banyak potensi yang tersimpan pada individu-individu diantara mereka, tapi semuanya berserakan di sana sini, tak terhimpun.


Maka, jamaah adalah alat yang diberikan islam bagi umatnya untuk menghimpun daun-daun yang berhamburan itu, supaya padu dengan kekuatan setiap orang shalih, orang hebat atau satu potensi bertemu pada dengan kekuatan saudaranya yang lain, yang sama shalihnya, yang sama hebatnya, yang sama potensialnya.


Jamaah juga merupakan cara yang paling tepat untuk menyederhanakan perbedaan-perbedaan individu. Di dalam satu jamaah, individu-individu yang mempunyai kemiripan disatukan dalam sebuah simpul. Maka, meskipun ada banya jamaah, itu tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Bagaimanapun, jauh lebih mudah memetakan orang banyak melalui pengelompokan atau simpul simpulnya, ketimbang harus memetakan mereka sebagai individu.

Maka jalan panjang menuju kebangkitan umat ini harus dimulai dari menghimpun daun-daun yang berhamburan itu, merajut kembali jalinan cinta diantara mereka, menyatukan potensi dan kekuatan mereka, kemudian meledakkannya pada momentum sejarahnya, menjadi pohon peradaban yang teduh, yang menaungi kemanusiaan.

Kamis, 26 Februari 2015

"Manakah kelompok yang lebih baik diantara umat Islam? Salafy, HTI, PKS?"

Teman saya pernah ditanya oleh seorang aktivis MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), Ustad Abdullah namanya.


"Manakah kelompok yang lebih baik diantara umat Islam, Salafy yang berjuang dengan fokus Tholabul Ilmi, atau Jamaah Tabligh yang menyeru orang untuk sholat di Masjid, atau Hizbut Tahrir yang memperjuangkan Kekhalifahan, atau PKS yang berjuang di Parlemen, atau NU yang Islam kultural, atau Muhammadyah yang berjuang di sektor pendidikan"? begitu tanyanya kepada kawan saya.



Kawan saya menjawab, "Akhi kalo antum bertanya seperti itu pada saya, maka sama saja antum menanyakan manakah yang lebih baik, apakah tangan lebih baik dari kaki, apakah mata lebih baik dari pada mulut, apakah telinga lebih baik dari pada hidung?"

Bukankah Rasulullah SAW mengatakan bahwa umat islam itu sepertt satu tubuh. Bila satu anggota tubuh merasakan sakit maka yang lain juga ikut merasakan sakit.

Selasa, 24 Februari 2015

Munafik dan pergeseran makna



Belakangan sebutan munafik kerap disalahgunakan oleh anak2 muda,

"Udah ga usah munafik, deh. Kalo suka minum, minum aja"


"Gw sih ga munafik ya, kalo emank pengin pacaran ya pacaran aja"
Mereka mengira, seorang beriman yg menahan diri dari syahwat dunia adalah munafik, krn dianggap lain di hati dan lain yg nampak.
Mereka tak mampu fahami bhw setiap org, sememangnya memiliki hasrat thd hal2 duniawi, namun seorang yg memiliki iman akan menahan diri darinya.

Pun, Mari kita fahami, semua org pernah berbuat salah, tak ada manusia yg sempurna. Setiap org pasti punya sisi gelap yg ia sembunyikan, dg berbagai latar belakangnya. Bulan nan indah tak hanya punya sisi benderang, ia punya sisi gelap yg ia sembunyikan.


Seorang beriman yg menyembunyikan aib atau dosa artinya ia masih punya iman, krn secara fitrah dosa itu memang harus ditutupi. Itu bukan munafik, tapi lebih kpd rasa malu atas dosa yg ia lakukan. "Dosa itu apa yg mengganjal di hatimu dan engkau malu bila diketahui orang lain"

Senin, 23 Februari 2015

Bisnis dan Infaq



Bisnis dan Infaq

Oleh: M. Anis Matta


Rajinlah berinfaq walaupun kita miskin. Gunanya apa? Supaya antum tetap mengganggap uang itu kecil dan supaya tidak ada angka besar dalam fikiran kita.


Misalnya kita punya tabungan 10 juta, infaqkan. Supaya antum meneguhkan, mesti ada yang lebih besar dari ini. Jadi angka itu terus bertambah di kepala kita, walaupun dalam kenyataannya belum.

Tetapi dengan berinfaq seperti itu, kita memperbaiki cita rasa kita tentang angka. Bukan sekadar dapat pahala tetapi efek tarbawinya bagi kita akan bertambah terus.

Kita belum pernah merasakan bagaimana menginfaqkan mobil, sekali waktu kita berusaha untuk menginfaqkan mobil. Begitu antum punya uang sedikit terus berinfaq, terus seperti itu kita latih sambil menjaga jarak. Kita membuat sirkulasi jadi bagus.

Kemudian mulailah melakukan bisnis real. Terjun ke dalam bisnis secara langsung. Karena Rasulullah SAW mengatakan 9 per 10 rezeki itu ada dalam perdagangan.

Saya juga ingin menasehati ikhwah-ikhwah yang sudah jadi anggota DPR dan DPRD, jangan mengandalkan mata pencaharian dari gaji DPR dan DPRD. Itu bahaya. Sebab belum tentu kader-kader di Riau ini nanti masih menginginkan Pak Khairul untuk periode selanjutnya.

Jumat, 20 Februari 2015

Kesiapan Negara Bersyari'ah


Oleh: Anis Matta


alhikmah.ac.id - Apakah persisnya yang kita maksud dengan penerapan syari’ah? Apakah salah satu dari tiga pengertian ini: Mengakomodasi satuan-satuan hukum-perdata dan pidana-Islam dalam konstitusi dan undang-undang serta berbagai penjabaran hukumnya? Atau mengisi segenap ruang konstitusi dan undang-undang serta berbagai penjabaran hukumnya, di negeri kita, dengan ajaran Islam? Atau mengatur Negara ini, pada semua aspeknya, dengan cara Islam dan oleh orang-orang Islam?


Pengertian pertama memandang Islam sebagai “salah satu” referensi perundang-undangan nasional, dan secara praktis telah dilakukan sejak masa orde baru, khususnya pada aspek hukum perdata.


Yang kedua memandang Islam sebagai referensi utama yang mewarnai seluruh aspek perundang-undangan nasional. Kenyataan ini ada di Mesir. Di negeri itu, Islam diletakkan sebagai dasar Negara. Tapi para penguasa negeri itu, sepanjang sejarah kemerdekaan mereka, selalu sekuler; maka Islam tidak pernah lebih dari sekedar simbol, bahwa negeri itu dihuni mayoritas muslim.


Yang ketiga memandang Islam sebagai referensi utama sekaligus penguasa mayoritas. Dalam pandangan ini, Islam menjadi ruh yang mewarnai konstitusi negara dengan segala derivasi (penjabaran) hukumnya, sekaligus mempunyai “kekuatan eksekusi” yang memungkinkannya mengarahkan segenap kehidupan berbangsa dan bernegara.


  • Apapun pengertian kita tentang penerapan syariat Islam, kita tetap perlu menyepakati kerangka logika ini;


Pertama,
bahwa Islam adalah sistem kehidupan yang integral dan komprehensif, yang karenanya memiliki semua kelayakan untuk dijadikan sebagai referensi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Kedua,
bahwa berkah sistem kehidupan Islam hanya dapat dirasakan masyarakat apabila ia benar-benar diterapkan dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara kita.


Ketiga,
bahwa dapat diterapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka diperlukan dua bentuk kekuatan; kekuatan legalitas dan kekuatan eksekusi.


Keempat,
bahwa untuk dapat memiliki kekuatan legalitas dan kekuatan eksekusi, diperlukan

kekuasaan yang besar dan sangat berwibawa, yang diakui secara de facto maupun de jure.

Atas dasar kerangka logika tersebut, maka urutan persyaratan yang harus kita penuhi adalah meraih kekuasaan, memiliki kompetensi eksekusi dan bekerja dengan keabsahan konstitusi. Dalam perspektif politik praktis, keabsahan konstitusi adalah bagian akhir dari seluruh rangkaian proses penerapan syari’ah Islam, bukan syarat pertama. Sebab apalah arti sebuah konstitusi yang agung, jika tidak ada tangan-tangan kuat yang memiliki “political will” dan “execution competence”.

Selain itu, ada pelajaran lain dari sejarah. Tidak pernah ada sebuah negara yang menyatakan Islam sebagai ideologinya, melainkan ia pasti memasuki hari-hari panjang yang penuh keringat, air mata dan darah. Sejak Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam pindah ke Madinah, beliau harus menghadapi 68 kali pertempuran dan memimpin 28 diantaranya.



Di zaman kita, setidaknya kita belajar dari Iran (1979) dan Sudan (1987). Begitu kedua Negara itu menyatakan diri sebagai Negara Islam, dunia segera bertindak; embargo. Sudan bahkan masih merasakannya hingga saat ini.



Sejarah itu mengajarkan kepada kita, bahwa ada risiko yang harus ditanggung begitu sebuah negara menyatakan Islam sebagai jati dirinya. Risiko itu tidak hanya ditanggung oleh para pemimpinnya, tapi juga rakyat ikut menanggung – bahkan mungkin sebagian besar – risiko tersebut. Jika rakyat tidak benar-benar siap menghadapi risiko itu, boleh jadi merekalah yang akan menjadi musuh utama penerapan syariat Islam. Logika mereka sederhana;”karena Islamlah mereka menderita”.



Dalam kerangka itu semua, penerapan syariat Islam tidak dapat dipandang sebagai sebuah proses perundang-undangan an sich. Ia merupakan sebuah proses yang menyeluruh, yang menandai terjadinya peralihan besar-besaran pada struktur ideologi, budaya dan kekuasaan dalam sebuah masyarakat. Tentu saja peralihan itu mempunyai implikasi sangat besar dalam kehidupan masyarakat, sebab yang berubah adalah keseluruhan tatanan kehidupan mereka.


Penyederhanaan yang berlebihan terhadap proses penerapan syariat Islam hanya akan membuat kita bekerja di tengah kejutan-kejutan. Terlalu banyak fakta tidak terduga yang akan kita hadapi. Kita akan kesulitan mengantisipasinya. Dalam keadaan begitu, peluang gagal kita lebih besar.


  • Siapkan Dulu Landasannya


Itu sebabnya kita perlu memenuhi syarat-syarat kesiapan menuju syariat Islam yang paripurna. Itulah landasan yang kokoh bagi sebuah masa depan yang tidak akan mudah tercabut oleh badai dalam semua bentuknya. Tingkat kesiapan itu dapat kita ukur melalui standar berikut;



Pertama,
adanya komimen dan kekuatan aqidah pada sebagian besar kalangan kaum muslimin. Yaitu komitmen aqidah yang menandai kesiapan ideologi masyarakat Muslim untuk hidup dengan sistem Islam pada seluruh tatanan kehidupannya. Serta kekuatan aqidah untuk menampilkannya dalam kehidupan di lingkungan secara mempesona.



Kedua,
supremasi pemikiran Islam di tengah masyarakat sehingga muncul kepercayaan umum bahwa secara konseptual Islamlah yang paling siap menyelamatkan bangsa dan negara. Dengan begitu Islam menjadi arah yang membentuk arus pemikiran nasional..



Ketiga,
sebaran kultural yang luas dimana Islam menjadi faktor pembentuk opini publik dan – untuk sebagiannya – tersimbolkan dalam tampilan-tampilan budaya, seperti pakaian, produk kesenian, etika sosial, istilah-istilah umum dalam pergaulan dan seterusnya.



Keempat,
keterampilan akademis yang handal untuk dapat mentransformasikan (legal drafting) ajaran-ajaran Islam kedalam format konstitusi, undang-undang dan derivasi hukum lainnya.



Kelima,
kompetensi eksekusi yang kuat dimana ada sekelompok tenaga leadership di tingkat negara, yang visioner dan memiliki kemampuan teknis untuk mengelola negara. Merekalah yang menentukan – di tingkat aplikasi – seperti apa wajah Islam dalam kenyataan, dan karenanya menentukan berhasil tidaknya proyek Islamisasi tersebut.



Keenam,
kemandirian material yang memungkinkan bangsa kita tetap survive begitu kita menghadapi isolasi atau embargo. Apabila siklus perekonomian tetap dapat berjalan di dalam negeri, maka itu sudah merupakan tanda kesiapan untuk lebih independen.



Ketujuh,
kapasitas pertahanan yang tangguh, sebab tantangan eksternal yang mungkin kita hadapi tidak terbatas pada gangguan ekonomi, tapi juga gangguan pertahanan. Lihatlah Iraq, misalnya. Begitu ia memiliki sedikit kemampuan militer ia harus menghadapi serangan Amerika sebelum kekuatannya menjadi ancaman.


Kedelapan,
koneksi internasional yang akan memungkinkan kita tetap eksis dalam percaturan internasional, atau tetap memiliki akses keluar begitu kita menghadapi embargo atau invasi.


Kesembilan, tuntutan politik yang ditandai dengan adanya partai-partai politik – bersama publik – yang secara resmi meminta penerapan syariat Islam di tingkat konstitusi. Partai-partai politik itu harus menjadikan Islam sebagai proposal politiknya. indikator ini perlu disebutkan terutama karena kita berbicara dalam konteks demokrasi. Tapi di luar konteks demokrasi, delapan indikator sebelumnya adalah cukup, ditambah dengan tuntutan publik tanpa partai politik.


  • Pertanyaan Besar


Sekarang, pertanyaan besarnya adalah berapakah indikator kesiapan yang sudah tersedia? Semangat perjuangan haruslah senantiasa mendorong kita untuk bekerja keras dan lebih keras lagi. Tapi rasionalitas dan objektivitas haruslah mewarnai keseluruhan cara kerja kita, baik dalam menilai kemampuan internal ummat kita, maupun dalam menaksir kekuatan eksternal musuh-musuh umat.


Sumber : Buku "Dari Gerakan Ke Negara - Sebuah Rekontruksi Negara Madinah Yang Dibangun Dari Bahan Dasar Sebuah Gerakan" karya Anis Matta (Presiden PKS & Mantan Wakil Ketua DPR RI)

Rabu, 18 Februari 2015

Mari Berdonasi || Relawan Siaga



Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillah..Relawan Siaga kembali membukakan jalan kebaikan utk sahabat melalui program2 Relawan Siaga 2015:


  • 1. SinariNTT


Program donaSI makaN santRI Pesantren Yatim dan Dhuafa di Pulau Lembata, NTT.

Donasi berupa Kencleng SinariNTT yg akan ditarik dr donatur stp akhir bulan dan disalurkan ke NTT stp awal bulan.
Kencleng bisa didapat di
Wilayah Bandung 082117490115 dan Wil Jakarta 081932224595.

Daftar Donatur Tetap :
Nama_no hp_twitter/fb_email_SinariNTT

Donasi jg bs ditransfer ke :
Bank Syariah Mandiri 7066471823 a.n. RelawanSiaga.
Masukkan kode 111 di akhir nominal transfer (cth.Rp100.000,00 menjadi Rp100.111,00)
Konfirmasi transfer 082114790115 (wa)disertai bukti transfer dan nama donatur.


  • 2. MENTARI


MEmbantu peNderita kusTA RIngankan duka adalah Program bantuan kebutuhan hidup sehari2 Tiga Penderita Kusta di Ds. Tuwokona, Halmahera Selatan.

Daftar Donasi Tetap Mentari:
Nama_no hp_twitter/fb_email_Mentari.

Share It

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...