Ads 468x60px

.

Sabtu, 19 Maret 2011

Bantahan Tuntas Pengakuan Dusta Seorang Agen MOSSAD [2]

[4]. Siapa Sebenarnya “TAKFIR MANIA” itu?




Masih dalam pemberitaannya, Suara Hidayatullah menukil hasil wawancara dengan sang Agen: “Tujuan utama dari pencetakan dan penyebaran buku ini adalah menimbulkan fitnah dan kebencian serta saling mengkafirkan (takfir -red) antar pihak dan menyibukkan mereka dengan pertarungan sampingan sesama mereka…” [Pengakuan Seorang Agen MOSSAD , paragraf 16, hal. 79].


Bantahan:

Jika yang dimaksud dengan pernyataan tersebut adalah buku-buku salaf -dan tampaknya itu yang diinginkan sang Agen dan orang-orang yang meng-copy pemberitaan ini- maka ini adalah fitnah klasik yang coba dibangkitkan kembali gaungnya untuk memojokkan da’wah Salafiyyah.

Baiklah, akan kami perjelas duduk perkara yang sesungguhnya. Akan tetapi kami memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menghirup nafas sedalam-dalamnya; karena akan muncul banyak “kejutan” dalam jawaban kami terhadap tuduhan dusta tersebut. Sekaligus sebagai “hidangan penutup” bagi Suara Hidayatullah dan hizbiyyin (fanatikus golongan) atas sumbangsih mereka dalam menebarkan fitnah keji sang Agen.

Seribu satu macam keheranan telah menghantui kami; tatkala da’wah Salafiyyah melalui da’wah dan buku-bukunya diopinikan sebagai biang keladi fitnah dan takfir (pengkafiran) antar sesama muslim. Ini merupakan tikaman yang kedua, setelah sebelumnya pada tikaman yang pertama, hizbiyyin menggerayangi da’wah Salafiyyah dengan tuduhan buku-buku salaf bersumber dari Yahudi (MOSSAD).


  Insan-insan yang ikhlas dan jujur dalam berusaha menempuh jalan para pendahulu yang shalih, sangatlah berhati-hati dalam memvonis kaum muslimin yang jatuh ke lembah bid’ah dan kekufuran; sebagai ahlul bid’ah atau ahlu syirk. Bukanlah dikatakan seseorang itu Salafy jika dia selalu mengumbar kalimat-kalimat takfir (pengkafiran secara sporadis, radikal dan membabi buta -red) tanpa dilandasi ilmu yang kokoh. Justru jama’ah-jama’ ah yang mengambil bagian dalam penyebaran isu dusta tentang hubungan Salafiyyah dengan Yahudi memiliki karakter yang kental dalam masalah takfir ini. Kami tahu dengan pasti bahwa Suara Hidayatullah dengan latar belakang sejarahnya sampai kini, adalah penggemar-penggemar Sayyid Quthub, seorang tokoh legendaris Ikhwanul Muslimin yang memendam dan menyebarkan bid’ah takfir (pengkafiran) yang sangat radikal dan sporadis[1].

Tentang takfir ini, Sayyid Quthub mengkafirkan hampir seluruh kaum muslimin, termasuk para muadzin yang selalu mengumandangkan kalimat tauhid. Hal ini dapat dilihat pada tulisannya. Diantara pernyataan dia, ialah :
“Manusia telah murtad, (keluar dari Islam- red) kepada menyembah mahluk (paganisme) dan berbuat jahat terhadap agama serta telah keluar dari kalimat laa ilaha illa Allah. Walapun sebagian mereka masih mengumandangkan laa ilaha illa Allah di atas tempat beradzan.” [Fii Zhilalil Qur'an 2/1057, cet.Darusy Syuruq).

Simaklah ucapan Sayyid Quthub tersebut! Kami, kalian dan tidak terkecuali para muadzin di rumah-rumah Allah yang mengumandangkan nama-Nya; mendapat bagian dari rudal-rudal pengkafiran Sayyid Quthub. Dia begitu royal dalam mengkafirkan kaum muslimin secara mutlak dan global; hanya karena perbuatan dosa besar dan tindakan berhukum dengan hukum selain Allah; tanpa memberikan perincian sebagaimana Ahlussunnah memberikan perincian dalam masalah ini. Lalu apa yang dimaksud oleh Sayyid Quthub dengan ungkapan "manusia telah murtad (keluar dari Islam) kepada penyembahan makhluk"? Pernyataannya berikut ini akan memperjelas bagaimana sebenarnya latar belakang pemikiran bid'ah Sayyid Quthub sehingga mencetuskan kalimat pengkafiran tersebut :

"Manusia yang menganggap dirinya muslimah masuk ke dalam masyarakat jahiliyah, bukan karena menyakini uluhiyah kepada selain Allah. Bukan pula karena menunjukkan syiar-syiar peribadatan kepada selain Allah Subhaanahu wa Ta'ala, akan tetapi mereka masuk ke dalam lingkup ini (kekafiran-red) karena tidak beribadah kepada Allah saja dalam hukum-hukum kehidupan (tidak berhukum dengan hukum Allah, dalam kehidupan sehari-hari -red)." [Ma'alim fi Thariq, hal.101, cetakan Darusy Syuruq].
Jelas dari ungkapannya ini, Sayyid Quthub mengarahkan “bedil takfir” kepada seluruh kaum muslimin yang tidak sesuai dengan pemikirannya.

Sayyid Quthub menyelisihi Salafus Shalih dengan menganggap sebab kafirnya manusia bukan karena peribadatan kepada selain Allah. Tetapi tidak lain disebabkan oleh berpalingnya manusia dari apa yang diistilahkan dengan “Tauhid Hakimiyah”[2] ; sebuah istilah baru yang kemudian dipopulerkan oleh “QFC” (Quthub Fans Club). Namun sebelum itu semua, kami ingin meyakinkan kepada orang-orang yang menuduh buku-buku salaf sebagai biang fitnah dan pengkafiran (takfir) : “Justru Sayyid Quthub, tokoh yang kalian elu-elukan sebagai Asy-Syahid adalah seorang “maniak” dalam masalah takfir (kafir-mengkafirkan )”.
Jika kalian butuh bukti, kami harapkan ucapan-ucapan Sayyid Quthub berikut ini akan menyingkap tabir keraguan :

“Orang yang tidak mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dalam hakimiyah disemua zaman dan tempat adalah orang-orang musyrik. Tidak keluar mereka dari kesyirikan ini, walaupun mereka berkeyakinan terhadap laa ilaaha illallah dan tidak punya syiar (peribadatan) yang mereka tujukan kepada selain Allah subhanu wa ta’ala” [Fii Zhilalil Qur'an 2/1492,cetakan Darusy Syuruq].

Masih belum yakin juga? Bagaimana dengan yang ini :
Dipermukaan bumi ini, tidak ada satu pun negara Islam dan tidak pula masyarakat muslim” [Fii Zhilalil Qur'an, 2/2122].

Entah bagaimana harus meyakinkan kalian jika yang satu ini masih juga belum cukup :
“Manusia telah kembali kepada kejahiliyahan dan keluar dari laa ilaaha illallah…. Manusia seluruhnya, termasuk orang-orang yang mengumandangkan kalimat laa ilaaha illallah pada adzan di timur sampai barat bumi ini tanpa pengertian dan pembuktian nyata , bahkan mereka ini lebih berat dosa dan adzabnya pada hari kiamat, karena mereka telah murtad kepada penyembahan makhluk, setelah jelas bagi mereka petunjuk dan setelah mereka berada di agama Allah” [Fii Dzilalil Qur'an 2/1057, cet. Darusy Syuruq].
Lalu siapakah sebenarnya diantara kita yang “getol” dalam masalah kafir-mengkafirkan itu?

[5]. Salafiyyin, Antek Zionis (Yahudi)?

Masih dalam pemberitaan Suara Hidayatullah, sang Agen kembali beraksi dalam drama fitnahnya dengan berkata: “…Anda dapat melihat kira-kira semua masjid dan perkumpulan anak muda di Yaman, Pakistan dan Palestina tenggelam dengan buku-buku ini, yang dicetak dan dibagikan secara gratis bahwa ini semua dibiayai oleh para donatur Saudi padahal MOSSAD ada dibelakang semua ini.” [Pengakuan Seorang Agen MOSSAD, paragraf 17 hal. 79].

Bantahan :

Perkataan ini menimbulkan opini bahwa da’wah Salafiyyah melalui buku-bukunya, didanai oleh MOSSAD melalui kerajaan Saudi Arabia. Namun orang-orang yang sudah ada penyakit dalam hatinya menafsirkan kalimat-kalimat berbisa dari mulut agen ini sehingga sesuai dengan tuduhan-tuduhan basi mereka.
Fitnah ini pernah diungkapkan oleh Laskar Hikmatiyar, di Harian mereka “Syahadat“, no. 338, tanggal 28 Dzul Qo’dah 1411 H, dibawah judul “Kesempatan masih ada” dan pernah pula diucapkan oleh Muhammad Surur Zainal Abidin, dia adalah seorang Ikhwani (kepadanyalah nisbat pemahaman Sururi), yang dengan senang hati pindah dari negara Islam, negara kaum muslimin, negara yang penuh dengan ulama’, negara yang ada dua kota suci kaum muslimin di dalamnya, negara yang menegakkan Syari’at Islam (Saudi Arabia) menuju negara kafir, kampung halaman zionis (Inggris) di kota Birmingham dan mendirikan markaz hizbinya yang bernama Al-Muntada Al-Islami, kemudian dari sana dia menghembuskan racun-racun fitnah kesetiap negeri-negeri kaum muslimin, memicu perpecahan antara aktivis-aktivis da’wah dengan pemerintah, sehingga mereka sibuk mengkafirkan penguasa muslim mereka, dan melupakan menuntut ilmu, dan da’wah tauhid. Bukankah hal ini akan membuat Yahudi tersenyum gembira ?? Sehingga mereka tidak harus susah payah merogoh kantong untuk membiyai mega proyek dengan tema utama : “Bagaimana memecah belah kekuatan Islam”.

Muhammad Surur yang bermarkas di Inggris bersama pendahulu-pendahulu nya yang memiliki pemikiran Sayyid Quthub, punya andil besar dalam pertumpahan darah di dunia Islam antara penguasa muslim dan rakyatnya yang muslim. Hal inilah yang terjadi di Mesir, Suriah, Tunisia, Al-Jazair dan hampir terjadi di negeri tauhid Saudi Arabia. Ini semua disebabkan oleh pengkafiran membabi buta terhadap penguasa muslim yang dilakukan oleh para pengagum pemikiran Sayyid Quthub. Akhirnya Yahudi tidak perlu turun tangan untuk menghancurkan kaum muslimin secara langsung.

Muncul sebuah pertanyaan besar yang sangat menggelikan; bagaimana mungkin markas Muhammad Surur ini di biarkan oleh Inggris muncul di salah satu pusat pemerintahan mereka ? Apakah agen-agen zionis Inggris tidak tahu tentang kegiatan da’wah Al-Muntada ? Atau, apakah Inggris memiliki kepentingan zionisme dengan membiarkan mereka menyerang negeri muslim dengan pemikiran sesat sebagaimana Inggris membiarkan ajaran sesat Ahmadiyah yang merusak aqidah kaum muslimin di seluruh dunia; dimana Ahmadiyah juga bermaskas di Inggris.

Kemudian fitnah ini diadopsi dan disebarkan oleh orang-orang yang tidak suka terhadap da’wah salafiyyah, sehingga para pemuda yang terburu-buru “terjun” ke medan da’wah dan politik termakan oleh fitnah ini (Bahwa Saudi adalah antek AS-Yahudi). Maka tanyakanlah kepada da’i-da’i kalian, bukankah sebagian dari mereka sekolah dengan dana-dana dari Arab Saudi?? Sehingga diantara mereka ada yang kuliah di Saudi dengan beasiswa pemerintah Saudi, bukankah sebagian diantara mereka bekerja di lembaga-lembaga yang dibiayai oleh Arab Saudi? Bukankah sebagian dari mereka mendapat gaji sebagai da’I dari lembaga-lembaga yang dibiayai oleh Arab Saudi? Seperti Atase Agama Kedutaan Arab Saudi, Robithoh Al-Alam Al-Islamy, Haiatul Igotsah Al-Islamiyyah, Yayasan Al-Haramain. Bahkan ada diantara mereka berangkat menunaikan ibadah haji dengan biaya pribadi Raja Fahd bin Abdul Aziz . Kenapa kalian tidak mengatakan mereka antek-antek zionis karena menggunakan dana-dana Saudi?

Kalian mendirikan sekolah di desa Toya, Lombok Timur (NTB), yang tenaga pengajar sebagian besar adalah da’i-da’i kalian, dan siswa-siswanya- pun dari teman-teman kalian. Sekolah ini dibiayai oleh Lajnah-Da’wah dan Ta’lim (L-DATA) cabang Jakarta, yang pusatnya di Riyadh-Arab Saudi, tanyakan kepada da’i-da’i kalian jika mereka bisa berbicara! Niscaya mereka akan mejawab “ya” dengan “malu-malu”, atau akan menjawab “tidak” (berdusta pada kalian), jika kalian belum puas kami dapat membawakan nama-nama mereka dengan bukti yang akurat. Apakah kalian akan mengatakan mereka (dai-dai kalian) sebagai antek-antek zionis, karena mereka mendapat gaji dari Saudi Arabia?

[6]. Siapa Sebenarnya Yang “Main Mata” Dengan Yahudi ??

Kalian telah menuduh da’wah Salafiyyah punya hubungan dengan Yahudi. Maka kini kesempatan kami dengan bukti-bukti yang kokoh untuk menunjukkan bagaimana sesungguhnya sikap tokoh-tokoh kalian terhadap Yahudi.

Hasan Al-Banna berkata : “…Maka saya mengulangi, sesungguhnya permusuhan kami dengan Yahudi bukan permusuhan agama…” [Lihat Al-Ikhwanul Muslimun Ahdatsun Sona'at At-Tarikh (1/409-410)] .

Tidakkah ucapannya ini menyakitkan muslimin dan mujahidin di Palestin yang berjuang untuk meninggikan kalimat Allah ?? Walaupun begitu, Hasan Al-Banna masih tega untuk berkata : “…Dan tidaklah gerakan Ikhwanul muslimun itu menentang satu aqidah tertentu (dari aqidah-aqidah yang ada), atau agama tertentu (dari agama-agama yang ada),…” [Lihat At-Thoriq ilal Jama'aitil Um 132]

“…Bahkan orang-orang Yahudi yang tinggal di sini (Mesir), tidak ada antara kami dan mereka kecuali hubungan baik belaka.” [Lihat At-Thoriq ilal Jama'aitil Um 132]

Dan Yusuf Qardhawi pun berkata : “Sesungguhnya kami tidak memerangi Yahudi karena aqidah, akan tetapi hanya karena mereka merampas tanah kami” [Koran Harian Ar-Royah, Qothar, hal. 17 edisi : 4696 Rabu, 24 Sya'ban 1415 H / 25 Januari 1995 M]

Tidak!! Jangan katakan kami memfitnah sebelum kalian melihat pada sumber-sumber yang kami sebutkan!.Tidak !!, kami tidak menuduh mereka agen zionis seperti kalian menuduh Salafyyin dan Arab Saudi (secara zholim) sebagai agen Zionis. Tapi ada apa dibalik sikap tokoh kalian dengan orang-orang Yahudi?

Bagaimana Dengan Jama’ah Tabligh?

Dan buat saudara-saudara yang menisbatkan dirinya pada Jama’ah Tabligh, sesungguhnya kalian pun telah mengadopsi fitnah ini, yang kalian hembuskan sejak dahulu, ketika kalian menjadi dengki sebab banyak dari saudara-saudara kita mendapat hidayah untuk mengikuti sunnah Rasulullah dalam aqidahnya, ibadahnya, dan muamalahnya. Tidak hanya terbatas pada sunnah makan, tidur, dan buang hajat saja ! Kemudian kalian mendapat “secercah cahaya” (pemberitaan “Suara Hidayatullah” , yang sebenarnya tidak pantas dikatakan cahaya) ditengah kebingungan kalian mencari bukti.

Cukuplah penjelasan kami pada awal-awal pembahasan ini sebagai bantahannya; bahwa bukti kalian bukanlah bukti, hanya bualan, ; bahwa dalil kalian lebih rapuh dari rumah laba-laba, rapuh dari segala segi, kalau seandainya dalil itu selamat dari satu segi, maka dia tidak akan selamat dari banyak segi. Kalian hanyalah “burung beo” dari ucapan sang agen yang sama sekali tidak membawa bukti. Tidakkah kalian mendengar sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

Artinya : “Hendaklah ada bukti bagi orang yang menuduh dan ada sumpah bagi yang mengingkari” [Hadits Hasan Riwayat Al-Baihaqi, Lihat kitab Arba'in Nawawiyyah Hadits No.33]

Lantas kenapa kalian tidak mengamalkannya ?? Atau kalian menganggap ini adalah ilmu masail yang tidak perlu dipelajari! Atau kalian tidak paham maknanya? Atau kalian pura-pura tidak tahu akan hadits ini? Atau pura-pura tidak paham maknanya? Karena kalian dengki kepada kami!! Mengapa kalian begitu benci kepada orang yang selalu menasehati kalian dengan ikhlas? Membawakan dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shohih, membawa bukti dari kitab-kitab kalian, atau kalian sudah seperti orang-orang Syi’ah yang 99 % agamanya taqiyyah (bohong) seperti orang-orang munafiq?

Ada Apa Antara Jama’ah Tabligh Dan Zionis Inggris Di India?

Kami telah membantah tuduhan Jama’ah Tabligh (Amir Bid’i cs.) yang mengaitkan da’wah Salafiyyah dengan zionis internasional (AS, Yahudi dan Inggris). Kini saatnya kami ingin membalik keadaan melalui beberapa pertanyaan. Pertanyaan tersebut akan muncul setelah kita menilik berita temuan kami berikut ini
Hifdzurrahman As-Sayuharwi, mantan anggota parlemen India menyatakan, “Dulu, penguasa Inggris di India membantu gerakan Jama’ah Tabligh di awal perkembangannya dengan harta Haji Rasyid Ahmad, kemudian memutus bantuannya.” [Lihat: Haqiqah Dakwah Ila Allah, hal. 66 dan Jama'ah Tabligh Fi Qarah Hindiyah, hal. 65. Menukil dari Mukalamah Ash-Shadriyin, hal. 4 Cet. Diyobant India]

Kami tidak akan bersikap zhalim dengan menelan bulat-bulat pemberitaan tersebut. Kami tidak akan mengatakan berita ini shahih, tidak pula dusta. Akan tetapi ini adalah sebuah fakta yang berkembang melalui sebuah buku yang dicetak di India (Diyobant), silahkan cek sendiri kebenarannya, kemudian jelaskanlah secara mendetail kepada ummat : “Ada hubungan apa gerangan antara Jama’ah Tabligh dengan Inggris di India…?” Sebab tidak akan pernah sirna dari ingatan ummat bagaimana Inggris menjalin hubungan asmara dengan Yahudi dan AS dalam menghancurkan negeri-negeri Islam.

Konsep Jihad Menurut Jama’ah Tabligh, Sangat Menguntungkan Yahudi.

Jama’ah Tabligh punya pemahaman yang aneh tentang jihad dalam Islam. Jama’ah Tabligh meniadakan konsep Jihad dalam artian perang mengangkat senjata melawan musuh-musuh Islam. Bagi mereka, yang dikatakan jihad adalah khuruj (berkelana pindah-pindah dari masjid ke masjid) selama 3 hari, 40 hari dan 4 bulan.

Konsep ini tentu saja membuat Yahudi dan musuh-musuh Islam bersorak-sorai dalam pesta kegembiraan. Betapa tidak; Islam hanya akan jadi boneka mainan AS dan Yahudi jika makna jihad hanya diartikan dengan melancong, ber-jaulah dan hanya berdiam diri masjid.
Seenak perutnya mereka menafsirkan firman Allah:

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya : “Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, memuji (Allah), as-Saaihun, yang ruku’, yang sujud.” [QS. At-Taubah ; 112]

Menurut Jama’ah Tabligh, as-Saaihun (orang-orang yang mengembara) dalam ayat tersebut dimaksudkan kepada orang-orang yang khuruj. Ini adalah kejahilan terhadap Kitabullah. Sebab yang dimaksud dengan As-Saaihuun (orang-orang yang mengembara), ialah orang-orang yang berjihad (perang) di jalan Allah. Ibnu Katsir (Seorang Ahli Tafsir) berkata, “Ada bukti yang menguatkan, bahwa yang dimaksud dengan siyaahah di sini ialah jihad….bukan maksudnya siyaahah yang dipahami oleh sebagian orang yang beribadah hanya dengan melakukan siyaahah (pengembaraan) di muka bumi.” [Tafsir Ibnu Katsir : II/407]

Hal ini terungkap dari penuturan Nadhar M. Ishaq Shahab, penulis buku “Khuruj fi Sabilillah” [hal. 74, penerbit Pustaka Billah] ; dimana dia menganggap pemberangkatan pasukan perang yang dipimpin oleh Usamah radhiallahu ‘anhu sebagai jama’ah khuruj -na’udzubillah-. Masih dalam buku yang sama, [hal. 22] penulis berkata : “Yang bermujahadah untuk mendapatkan kekuatan fisik adalah kaum ‘Ad”
Subhaanallah, betapa kejinya ungkapan ini; sebuah sindiran yang halus terhadap para Sahabat yang menjalankan perintah Allah dalam mempersiapkan kekuatan fisik dan material untuk menyambut seruan menuju Syahid (perang di jalan Allah) :

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ

Artinya : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. ” [QS. Al-Anfal: 60]

Jama’ah Tabligh memalingkan makna hadits yang berbicara tentang keutamaan jihad (perang) kepada pengertian “khuruj ala Tabligh“; yaitu “tamasya da’wah” selama 3 hari, 40 hari dan 4 bulan. Sebagaimana yang diungkapkan dalam buku “Khuruj fi Sabilillah” [hal. 56].

Demikianlah Jama’ah Tabligh dalam memahami jihad, sebuah pemahaman yang akan merugikan kaum muslimin diseluruh dunia dan menjadikan musuh-musuh Islam leluasa dalam melakukan makarnya tanpa mengkhawatirkan adanya perlawanan kaum muslimin melalui seruan kalimat-kalimat jihad yang suci.
Syaikh Saifur Rahman bin Ahmad Ad-Dahlawi berkata : “Salah satu ciri khas jama’ah ini ialah, mereka meyakini, bahwa siapa yang keluar bersama mereka dalam kerja dakwah berjama’ah, berarti telah melakukan jihad yang besar bahkan akbar.

Mereka beranggapan, keluar bersama mereka dalam kerja dakwah berjama’ah ini lebih afdhal daripada memerangi musuh-musuh Allah dan RasulNya, lebih afdhal daripada memelihara kemurnian Islam dan keutuhan kaum muslimin. Bukti yang menguatkannya ialah pernyataan seorang ‘ulama dan para penuntut ilmu pada masa peperangan jihad Afghanistan melawan komunis, bahwa Jama’ah Tabligh mendatangi tempat-tempat mereka untuk mengajak mereka khuruj bersama jama’ah mereka! Barang siapa melakukannya (yakni khuruj -red), berarti ia telah melaksanakan sunnah para nabi dan rasul, telah melaksanakan sunnah sayyidul anbiyaa’ wal mursalin, Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Bererti ia telah keluar seperti halnya sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in dalam peperangan medan jihad.” [I'tibariyah Haula Al-Jama'ah Tablighiyah, hal. 51]

Anehnya, Jama’ah Tabligh meyakini bahwa inilah “kerja dakwah”para Sahabat semasa hidupnya. Kami katakan : Bagaimana mungkin para Sahabat akan mampu menaklukkan kerajaan Persia, Romawi dataran Afrika sampai Eropa timur hanya dengan “jihad” berupa pindah-pindah masjid dan ber-jaulah ria tanpa menebar da’wah tauhid, mengangkat tombak, tanpa bernaung di bawah kilatan pedang, tanpa melesakkan anak-anak panah tepat di jantung-jantung kuffar. Bagaimana mungkin Jama’ah Tabligh bisa lebih mulia dalam khuruj-nya dibandingkan tentara-tentara Allah yang mempertaruhkan jiwa dan raganya bertempur dan berkemul dengan debu-debu jihad fi abilillah.

Wahai saudara-saudara yang menisbatkan diri pada Jama’ah Tabligh! Carikan kami dalil sepotong saja yang jelas menceritakan bahwa Rasulullah dan para sahabatnya dahulu pindah dari satu masjid kemasjid yang lain seperti kalian! Padahal dahulu sudah ada Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Quba’ dan Masjidil Aqso. Mana bukti kalian mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam berda’wah?

[7] Ekslusivisme Dan Fanatisme Ekstrim; Andil Jama’ah Tabligh Dalam Menimbulkan Perpecahan Ummat

Salah satu senandung Jama’ah Tabligh dan hizbiyyin yang paling jahat adalah menuduh da’wah salafiyyah sebagai penyebab perpecahan dalam tubuh ummat Islam.

Bantahan:

Dakwah Salafiyyah adalah dakwah yang menyerukan “Persatuan Islam” yang hakiki, yaitu di atas aqidah dan keyakinan yang benar menurut pemahaman Rasulullah dan para sahabatnya. Sebagaimana para sahabat telah membangun asas-asas persatuan tersebut. Allah telah berfirman:

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu)” [QS. Al-Baqarah : 137].

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda :

Artinya: “Barang siapa yang hidup sesudahku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnah-ku dan sunnah-sunnah Khulafa’ Ar-Rasyid yang terbimbing dan lurus sesudahku. Gigitlah ia dengn gigi geraham kalian. Dan awaslah kalian terhadap setiap perkara baru yang diada-adakan (bid’ah-red) , karena setiapnperkara yang diada-adakan adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” [Hasan Shohih, H.R. An-Nasai dan At-Tirmidzi] .

Jika seseorang telah menyimpang dari aqidah yang benar, tidak berpegang teguh kepada sunnah dan pemahaman Rasulullah dan para sahabatnya, maka sungguh ia berada dalam permusuhan dengan Rasulullah dan para sahabatnya dan orang orang yang berpegang teguh dengan sunnahnya (mengikuti mereka dengan baik).

Justru Jama’ah Tabligh dengan banyak penyimpanganya dalam masalah aqidah dan manhaj, telah memposisikan dirinya sebagai penyebab perpecahan ummat. Salah satu ajaran Shufi yang sangat populer ialah ketundukan mutlak kepada pemimpin atau guru, benar atau pun salah perintah gurunya itu. Ali Wafa berkata, “Murid yang sejati dalam berperilaku di hadapan Syaikhnya, laksana mayat yang terbaring di hadapan petugas yang memandikannya. ”

Kelihatannya, prinsip taklid buta ini juga dipegang oleh Jama’ah Tabligh. Dalam buku Hikmah Usaha Hidayat, karangan Muhammad Yunus Suraji Panidi, hal.102 disebutkan, “Jama’ah manapun yang datang dari luar negeri sekalipun, apabila mengusulkan atau mengajukan sesuatu yang baru dalam hal kerja Tabligh ini, hendaklah segera menghubungi Nizhamuddin (Markas besar mereka di India), sebelum menerima dan mengamalkan apapun dari usulan itu, walaupun kelihatan baik.”

Dan Jama’ah Tabligh sangat fanatik pada usaha “khuruj”-nya, dan mereka menangisi orang-orang yang meninggalkan “khuruj” bersama mereka, seolah-olah mereka tidak melihat adanya usaha da’wah diluar Jama’ah mereka, padahal “khuruj” ini hanya hasil pemikiran pendiri Jama’ah ini. Hal ini jelas menunjukkan kefanatikan mereka yang ekstrim. Bentuk fanatisme seperti ini, bukankah akar dari setiap perpecahan dan pertikaian di mana setiap kelompok bangga dengan kelompoknya. Ini adalah sikap orang-orang musyrik sebagaimana yang dikabarkan Allah dalam firman-Nya : ”

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Artinya : “Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [QS. Ar-Ruum : 31-32]

Kefanatikan Jama’ah Tabligh juga terlihat dari cara mereka yang melampaui batas dalam mengkultuskan kitab Fadhail Amal. Mereka lebih suka “ber-bayan ria” dalam setiap kali khuruj ketimbang mempelajari Al-Qur’an dan kitab-kitab hadits yang shahih untuk diamalkan dan dida’wahkan. Padahal dalam kitab tersebut banyak hadits-hadits dhoif, dan palsu, serta cerita-cerita hayalan kaum sufi yang sama sekali bertentangan dengan nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Salah satu diantara “1001″ khurafat yang terdapat dalam Fadhail Amal pada bab keutamaan haji adalah kisah tentang Ahmad Rifa’i yang mengunjungi makam Rasulullah pada tahun 555 H; dimana dia berdiri di depan makam Rasulullah dan membacakan dua bait syi’ir, lalu Rasulullah mengeluarkan tangannya dari dalam kubur yang selanjutnya dicium oleh Ahmad Rifa’i. Lihatlah, bagaimana mereka membawakan cerita, yang para sahabat dan Imam-imam pun belum pernah mengalami hal sehebat Ahmad Rifa’I ini.

Masih dalam kerangka fanatisme dan ekslusivisme yang memecah belah ummat ; Jama’ah Tabligh mengikat para anggotanya dengan sumpah setia (bai’at) yang menyimpang dari Sunnah. Pada tahun 1315 H, Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi -pendiri Jama’ah Tabligh- memberikan bai’at shufiyah kepada Rasyid Ahmad Al-Kankuwi yang sangat dicintainya. Setelah meninggalnya Rasyid Al-Kankuwi, kemudian beliau memperbaharui bai’at-nya kepada Kholil Ahmad As-Saharunfuri yang memberikan izin kepadanya mem-bai’at orang lain ala manhaj shufi. [Jama'ah Tabligh Fi Syibhil Qarah Hindiyah, karya Sayid Thalibur Rahman hal. 21 dan Haqiqat Da'wah Ila Allah karya Sa'ad Al-Husein hal. 62]

[8] Sisi Kemiripan Jama’ah Tabligh Dengan Yahudi

Semua ini berawal dari tuduhan dusta Jama’ah Tabligh terhadap da’wah Salafiyyah sebagaimana yang telah jelas bagi pembaca. Maka dihalaman terakhir ini, kami ingin mengungkap sesuatu yang tersembunyi bagi para pembaca; tentang “Tiga Belas Asas Da’wah Jama’ah Tabligh”. Ada satu poin dari 13 asas tersebut yang justru menunjukkan “kemiripan” Jama’ah Tabligh dengan Yahudi. Entah mereka sadar akan hal ini atau tidak.
Nadhar M. Ishaq Shahab dalam bukunya “Khuruj fii Sabilillah” [hal. 27, penerbit Pustaka Billah, Bandung], membawakan 13 asas Da’wah (menurut Jama’ah Tabligh). Pada poin yang ke-5 dia berkata : “Amar ma’ruf, bukan nahi munkar”
 
Prinsip inilah yang menyebabkan hancurnya Bani Israil. Entahlah, Jama’ah Tabligh dan Yahudi dalam hal yang satu ini, tampaknya ada kemiripan. Allah telah berfirman tatkala menggambarkan prinsip dan sikap Yahudi : ”

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ كَانُوا لا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Artinya : “Telah dilaknati orang -orang kafir dari bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu” [QS. Al-Maidah: 78-79]

Sungguh menakjubkan, begitu cepat Yahudi mengetahui rahasia dari sebuah “chaos” (malapetaka yang dahsyat). Prinsip yang telah menyebabkan kehancuran peradaban inilah yang coba mereka tembakkan ke negeri-negeri kaum muslimin. Agar umat Islam tidak lagi menegur saudaranya yang menyimpang dari aqidah dan sunnah yang lurus, agar kaum muslimin tidak lagi mencegah saudaranya yang berbuat syirik, bid’ah dan maksiat. Jika hal ini telah merata di bumi-bumi Islam maka tunggulah kehancuran. Prinsip ini juga membuktikan bahwa Jama’ah Tabligh bukanlah Jama’ah yang membawa kebaikan justru membawa kerusakan dengan tidak memperdulikan kemungkaran yang bertengger di depan hidungnya.
Dan membuktikan pula bahwa Jama’ah ini bukanlah Jama’ah yang membawa ilmu, yang dipuji oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam sabdanya :

Artinya: “Yang akan terus menerus membawa ilmu agama ini pada setiap generasi adalah orang-orang yang adil dan terpercaya ilmu agamanya dan perangainya. Mereka yang membawa ilmu agama dengan kriteria demikian itu melakukan gerakan-gerakan : (1) Meluruskan kembali penyimpangan kalangan ekstrimis dalam memahami agama. (2) Membantah kedustaan para pendusta yang ingin mengekspliotasi agama demi kepentingan pribadi atau golongannya. (3) Meluruskan kembali kesalahan penafsiran agama yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh ” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Al-Jarh wa Ta'dil 1/1/17 dan Al-Baihaqi dalam Sunanul Kubra 10/209]

Dan Jama’ah Tabligh telah membuktikan prinsip tersebut dengan masih menjamurnya simbol-simbol kesyirikan dan bid’ah di India, Pakistan -negeri kayangan yang dielu-elukan Jama’ah Tabligh-. Padahal jumlah mereka yang keliling dunia hampir jutaan. Bukankah syirik dan bid’ah adalah dua dosa besar yang bertengger di papan atas yang mengalahkan dosa-dosa kelas kaliber lainnya ? Inilah akhir dari bantahan kami.

Artinya: “Jika engkau tidak merasa malu, maka berbuatlah sekehendakmu” [HR. Bukhori, Arbain Nawawi No. 20]

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...