Ads 468x60px

.

Rabu, 30 Maret 2011

JAUHI GHURUR! JAUHI TENAR! JAUHI RIYA'

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Manusia begitu bersemangat untuk menutupi kejelekan-kejelekan mereka, mereka tutup sebisa mungkin, kejelekan sekecil apapun, dibungkus rapat jangan sampai ketahuan. Hal ini dikarenakan mereka ingin terlihat baik dimata manusia.

Dengan terungkapnya kejelekan yang ada pada mereka maka akan turun kedudukan mereka di mata manusia. Seandainya mereka juga menutupi kebaikan-kebaikan mereka, sekecil apapun kebaikan itu, jangan sampai ada yang tahu, siapapun orangnya (saudaranya, sahabat karibnya, guru-gurunya, anak-anaknya, bahkan istrinya) tidak ada yang mengetahui kebaikannya, maka tentunya mereka akan mencapai martabat mukhlisin (orang-orang yang ikhlas).


Mereka berusaha sekuat mungkin agar yang hanya mengetahui kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan hanyalah ALLAH. Karena mereka hanya mengharapkan kedudukan di sisi ALLAH.

============================

ABU HAZIM SALAMAH bin DINAR

Berkata Abu Hazim Salamah bin Dinar:
“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga).”(Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman)

Berkata Syaikh Abdulmalik:
"Namun mengapa kita tidak melaksanakan wasiat Abu Hazim ini?? Kenapa??, hal ini menunjukan bahwa keikhlasan belum sampai ke dalam hati kita sebagaimana yang dikehendaki ALLAH"
(Dari ceramah beliau yang berjuduk ikhlas)

Oleh karena itu banyak para imam salaf yang benci ketenaran. Mereka senang kalau nama mereka tidak disebut-sebut oleh manusia. Mereka senang kalau tidak ada yang mengenal mereka. Hal ini demi untuk menjaga keikhlasan mereka, dan karena mereka khawatir hati mereka terfitnah tatkala mendengar pujian manusia.

============================

AYYUB

Berkata Hammad bin Zaid:
“Saya pernah berjalan bersama Ayyub (As-Sikhtyani), maka diapun membawaku ke jalan-jalan cabang (selain jalan umum yang sering dilewati manusia), saya heran kok dia bisa tahu jalan-jalan cabang tersebut ?! (ternyata dia melewati jalan-jalan kecil yang tidak dilewati orang banyak) karena takut manusia (mengenalnya dan) mengatakan : “Ini Ayyub”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad (7/249), dan Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/232))

Berkata Hammad:
“Pernah Ayyub membawaku ke jalan yang lebih jauh, maka akupun perkata padanya: “Jalan yang ini yang lebih dekat”, maka Ayyub menjawab:
”Saya menghindari majelis-majelis manusia (menghindari keramaian manusia)”.
Dan Ayyub jika memberi salam kepada manusia, mereka menjawab salamnya lebih dari kalau mereka menjawab salam selain Ayyub. Maka Ayyub berkata :
”Ya ALLAH sesungguhnnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini !, Ya ALLAH sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya tidaklah menginginkan hal ini!.”
(Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d (7/248) dan Al-Fasawi (2/239))

============================

AHMAD bin HAMBAL

Berkata Imam Ahmad:
“Aku ingin tinggal di jalan-jalan di sela-sela gunung-gunung yang ada di Mekah hingga aku tidak dikenal. Aku ditimpa musibah ketenaran”
(As-Siyar (11/210))

Tatkala sampai berita kepada Imam Ahmad bahwasanya manusia mendoakannya dia berkata:
“Aku berharap semoga hal ini bukanlah istidroj”
(As-Siyar (11/211))

Imam Ahmad juga pernah berkata tatkala tahu bahwa manusia mendoakan beliau:
“Aku mohon kepada ALLAH agar tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang riya’”
(As-Siyar (11/211))

===============================

YAZID bin AL-ASWAD

Berkata Abu Zur’ah Yahya bin Abi ‘Amr:
“Ad-Dlohhak bin Qois keluar bersama manusia untuk sholat istisqo (sholat untuk minta hujan), namun hujan tak kunjung datang, dan mereka tidak melihat adanya awan. Maka beliau berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?” (Dalam riwayat yang lain: Maka tidak seorangpun yang menjawabnya, kemudian dia berkata: ”Dimana Yazid bin Al-Aswad?, Aku tegaskan padanya jika dia mendengar perkataanku ini hendaknya dia berdiri!”,

Maka berkata Yazid: ”Saya di sini!”, berkata Ad-Dlohhak: ”Berdirilah!, mintalah kepada ALLAH agar menurunkan hujan bagi kami!”. Maka Yazid pun berdiri dan menundukan kepalanya diantara dua bahunya, dan menyingsingkan lengan banjunya lalu berdoa: ” Ya ALLAH, sesungguhnya para hamba-Mu memintaku untuk berdoa kepada-Mu”. Lalu tidaklah dia berdoa kecuali tiga kali kecuali langsung turunlah hujan yang deras sekali, hingga hampir saja mereka tenggelam karenanya.
Kemudian dia berkata: ”Ya ALLAH, sesungguhnya hal ini telah membuatku menjadi tersohor, maka istirahatkanlah aku dari ketenaran ini”, dan tidak berselang lama yaitu seminggu kemudian diapun meninggal.”(Sittu Duror karya Syaikh Abdul Malik Romadloni hal 47)

Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana Yazid Al-Aswad merasa tidak tentram dengan ketenarannya bahkan dia meminta kepada ALLAH agar mencabut nyawanya agar terhindar dari ketenarannya. Ketenaran di mata Yazid adalah sebuah penyakit yang berbahaya, yang dia harus menghindarinya walaupun dengan meninggalkan dunia ini..Allaahu Akbar!

====================================

ALI bin HUSAIN

Dari Abu Hamzah Ats-Tsumali, beliau berkata:

”Ali bin Husain memikul sekarung roti diatas pundaknya pada malam hari untuk dia sedekahkan, dan dia berkata :
”Sesungguhnya sedekah dengan tersembunyi memadamkan kemarahan ALLAH”
(As-Shohihah 4/539, hadits no 1908)

Dan dari ‘Amr bin Tsabit berkata:
”Tatkala Ali bin Husain meninggal mereka memandikan mayatnya lalu mereka melihat bekas hitam pada pundaknya, lalu mereka bertanya: ”Apa ini”, lalu dijawab :
”Beliau selalu memikul berkarung-karung tepung pada malam hari untuk diberikan kepada faqir miskin yang ada di Madinah”

Berkata Ibnu ‘Aisyah:
”Ayahku berkata kepadaku: ”Saya mendengar penduduk Madinah berkata: ”Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain.”
(Sifatus Sofwah (2/96) (Aina Nahnu hal 9)

Lihatlah bagaimana Ali bin Husain menyembunyikan amalannya hingga penduduk madinah tidak ada yang tahu, mereka baru tahu tatkala beliau meninggal karena sedekah yang biasanya mereka terima di malam hari berhenti, dan mereka juga menemukan tanda hitam di pundak beliau.

===========================

TAMIM AD-DARI

Seseorang bertanya pada Tamim Ad-Dari:
”Bagaimana sholat malam engkau”, maka marahlah Tamim, sangat marah, kemudian berkata:
“Demi ALLAH, satu rakaat saja sholatku ditengah malam, tanpa diketahui (orang lain), lebih aku sukai daripada aku solat semalam penuh kemudian aku ceritakan pada manusia”
(Dinukil dari kitab Az- Zuhud, Imam Ahmad)

===========================

Ibnul Qayyim berkata:

“Betapa banyak orang yang teristidroj dengan diberi kenikmatan (dibiarkan tenggelam dalam kenikmatan sehingga semakin jauh tersesat dari jalan ALLAH) padahal dia tidak menyadari hal itu. 

Mereka terfitnah dengan pujian orang-orang bodoh, tertipu dengan keadaannya dimana kebutuhannya selalu terpenuhi, dan aibnya yang selalu ditutup oleh ALLAH.
Kebanyakan manusia menjadikan tiga perkara (pujian manusia, terpenuhinya kebutuhan, dan aib yang selalu tertutup) ini merupakan tanda kebahagiaan dan keberhasilan baginya, dan sampai disitulah rupanya ilmu mereka....”

semoga bermanfaat
barakallaahu fiykum


0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...