Ads 468x60px

.

Sabtu, 09 April 2011

HUKUM MEYAKINI NEGARA ISLAM (BAGIAN 3)



 PENJELASAN IBNU KATSIR 

Ada sebuah ayat Al Qur’an yang maknanya sangat jelas, bahwa setiap insane harus mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka harus tunduk di bawah tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah. Disebutkan dalam Al Qur’an, “Katakanlah: Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika kalian berpaling, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali Imran: 32).


Atas ayat ini Ibnu Katsir rahimahullah memberi penjelasan sebagai berikut:

“Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan kepada setiap orang dari kalangan khusus atau umum, lalu disebutkan ayat di atas. Kalimat ‘Jika kalian berpaling,’ maksudnya: jika kalian menyelisihi ajarannya (ajaran Nabi Saw). Kalimat ‘Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir,’ menunjukkan bahwa siapa yang menyelisihi jalan Nabi, dia kufur, dan Allah tidak suka kepada orang yang disifati dengan hal itu (yaitu kekafiran), meskipun dia mendakwahkan diri dan mengklaim mencintai Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya; sampai mereka ikut Nabi yang ummi, penutup para Rasul, dan utusan Allah kepada golongan jin dan manusia; yang mana jika ada para Nabi, bahkan para Rasul, bahkan Rasul Ulul Amri, mereka ada di jaman Nabi Saw, maka tidak ada kelonggaran atas mereka, selain mengikuti beliau, masuk ke dalam ketaatan kepadanya, dan ikut Syariat-nya.” (Tafsir Al Qur’anul Azhim, Ibnu Katsir, jilid II, hal. 25).

Penjelasan ini sangat jelas, bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya meliputi semua kalangan manusia. Jangankan manusia biasa. Bahkan andai para Nabi dan Rasul hidup di jaman Nabi Muhammad Saw, maka mereka pun harus taat kepada ajaran beliau.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengaku Islami, lalu menghalalkan adanya sistem kehidupan lain, selain yang diajarkan dalam Al Qur’an? Baik itu sistem berdasarkan ajaran Barat kapitalis, Timur komunis, Persemakmuran Inggris, Zionisme Yahudi, nasionalisme, tradisionalisme, primordialisme (kesukuan), dan lain-lain? Apakah mereka diberi keluasan untuk mengambil sistem non Islam, sementara para Nabi dan Rasul tidak diberi keluasan mengambil selain ajaran Nabi Saw? Apakah mereka lebih mulia dari Nabi dan Rasul As?

Mengikuti ajaran non Islam yang tidak diajarkan oleh Nabi, dalam Al Qur’an disebut sebagai: Ittiba’ khuthuwatis syaithan (mengikuti jalan-jalan syaitan). Tentu saja, semua itu haram, dilarang, dan tidak boleh diikuti. Mengikuti jalan syaitan sama saja dengan menjerumuskan diri ke dalam kesusahan dunia-Akhirat. Na’udzubillah min dzalik.

PHOBIA NEGARA ISLAM 

Di kalangan kaum Muslimin banyak yang merasa phobia (takut) dengan Negara Islam. Jangankan untuk meyakini atau mendakwahkan, mendengar namanya saja mereka takut. Ketakutan mereka kepada Negara Islam melebihi takutnya kepada Yahudi dan Nashrani. Bahkan bisa jadi, mereka lebih takut kepada Negara Islam daripada kepada PKI. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Pikiran dan hati mereka telah sedemikian dalam terjerumus ke dalam perangkap-perangkap ajaran non Islam, sehingga untuk meyakini sesuatu yang benar, mereka begitu ketakutan. Di jaman Orde Lama, mereka ketakutan mendengar istilah DI/TII. Di jaman Reformasi, mereka ketakutan mendengar istilah “perang melawan teroris”. Nanti di jaman yang baru lagi (jika ada demikian) pasti akan muncul lagi bentuk ketakutan yang lain. Akhirnya, sepanjang masa mereka tidak pernah meyakini kebenaran Negara Islam. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Banyak orang berprasangka buruk kepada konsep Negara Islam, selain karena memang hatinya mendengki, juga karena pikirannya kacau oleh penyesatan-penyesatan yang canggih, juga karena mereka terjerumus perangkap-perangkap syubhat yang disebarkan oleh kaum “alim-ulama”. Para ulama biasanya disebut Wara-tsatul Anbiya’ (pewaris Nabi). Tapi ini berbeda, mereka malah anti dan memusuhi warisan Hadharah Nabawiyyah (peradaban kenabian).

Ulil Abshar Abdala pernah mengatakan bahwa, “Negara sekuler itu bisa mewadahi energi kesalehan sekaligus energi kemaksiatan.” Ide yang dilontarkan Ulil ini banyak dianut kaum Muslimin di Indonesia saat ini. Mereka takut dengan Negara Islam, karena takut kebebasan mereka untuk melakukan maksiyat akan dipasung atau dipenjara. Katanya, “Negara Islam itu terlalu banyak larangan. Ini tak boleh, itu tak boleh. Hidup jadi tak enak, serba dilarang. Lebih baik hidup seperti bangsa Amerika, hati bisa puas dan merdeka berbuat maksiyat.”

Sebenarnya, semua jenis perbuatan amoral (maksiyat) itu merugikan manusia. “Perbuatan dosa itu berbiaya tinggi,” demikian prinsipnya. Semua bangsa yang senang berbuat maksiyat, mereka bisa jatuh dalam kemiskinan, seperti negara-negara di Amerika Selatan. Begitu pula, perbuatan maksiyat bisa menghancurkan struktur sosial. Di Eropa, banyak negara mengeluh karena generasi mudanya enggan menikah, sehingga pertumbuhan penduduk minus. Anak-anak muda Eropa sudah senang dengan seks bebas, mereka enggan berkeluarga. Kalau berkeluarga, cepat sekali bercerai. Lagi pula, amoralitas itu menghancurkan produktifitas. Buktinya, klub-klub bola di Inggris sering kewalahan karena perbuatan selingkuh pemain-pemainnya. Bahkan pelatih Timnas Inggris saat ini, dia melarang para pemain Inggris minum minuman keras selama musim Piala Dunia. Hampir tidak ada satu pun negara waras yang membenarkan minuman keras, pornografi, pelacuran, homoseks, kriminalitas, pembunuhan, dan sejenisnya. Kalaupun ada negara yang sangat permissif paling Belanda, Jepang, atau Amerika. Bahkan di Amerika sendiri, sopir yang kedapatan mabuk alkohol bisa mendapat masalah besar. Begitu pula, kalau ada seseorang terbukti membunuh orang lain, dia bisa dikenai hukuman mati. Bahkan pelecehan seksual, misalnya hanya melontarkan suara “suit-suit” kepada seorang wanita, lalu dia tidak suka; hal itu bisa diadukan ke pengadilan.

Ada 7 ATURAN yang sering ditakuti oleh manusia, ketika mereka berbicara tentang Syariat Islam. 

Pertama, kewajiban Shalat Lima Waktu, bagi yang sudah dewasa.
Kedua, kewajiban menutup aurat, khususnya kewajiban memakai jilbab bagi kaum wanita dewasa.  
Ketiga, larangan makan makanan haram seperti babi, bangkai, darah mengalir, ular, tikus, dll.  
Keempat, larangan mengambil harta orang lain secara haram, baik melalui mencuri, menipu, merampok, korupsi, praktik rentenir, dll.
Kelima, larangan melakukan hubungan seks di luar nikah, baik melacur, selingkuh, seks bebas, perkosaan, homoseks, dll.  
Keenam, larangan membunuh jiwa manusia yang haram dibunuh, atau menyakiti fisik orang lain tanpa hak, atau menyebarkan fitnah yang tidak benar, dll.
Ketujuh, larangan berbuat kekafiran, seperti murtad, menyebarkan paham kekafiran, melakukan sihir, menyebarkan perdukunan, dll.

Kalau mau jujur, HANYA 7 ATURAN itu yang menjadi sumber ketakutan manusia terhadap Syariat Islam. Artinya, jika mereka sanggup mentaati 7 PERKARA itu dengan baik, jalan untuk hidup damai di bawah naungan Islam, terbentang luas di hadapannya.

Shalat 5 Waktu adalah sumber hidupnya jiwa manusia, sebab Shalat itu menghubungkan jiwa manusia dengan Rabb-nya. Kalau tidak mengerjakan Shalat, seseorang seperti “layang-layang putus” di langit. Mereka hidup terombang-ambing dalam segala bentuk kerisauan. Jadi ini menyangkut kestabilan spiritual manusia. Mungkinkah ada peradaban yang stabil, jika jiwa-jiwa manusianya penuh masalah dan gelisah? Kewajiban memakai jilbab bagi wanita adalah demi memelihara kehormatan mereka, dan agar tidak menyebarkan praktik amoralitas di tengah masyarakat. Kemana saja seorang wanita bergerak, dia membawa potensi godaan bagi syahwat laki-laki. Aturan jilbab bermanfaat menjaga kebaikan wanita, menjaga mata kaum laki-laki, dan menyelamatkan moralitas masyarakat secara luas.

Larangan makan makanan haram, terlepas dari segala hasil penelitian modern, hal ini tidak sulit ditaati. Jumlah makanan yang haram dimakan jauh lebih sedikit ketimbang makanan yang halal di makan. Prinsipnya, “Semua makanan halal, kecuali yang jelas-jelas diharamkan.” Coba, kalau aturan ini dibalik, “Semua makanan haram, kecuali yang jelas-jelas dihalalkan,” kira-kira akan bagaimana sikap manusia terhadap Syariat Islam?
Larangan mengambil harta orang lain. Ini sangat mudah dipahami. Logikanya, “Jika Anda tidak suka harta Anda diambil orang lain, maka jangan mengambil harta orang secara bathil.” Tentang masalah seks bebas, semua itu akibatnya sangat buruk bagi masyarakat. Seks bebas menyebabkan aborsi, perceraian, wanita melahirkan tanpa ayah, rusaknya garis keturunan, konflik, dll. Adapun tentang pembunuhan dan kekerasan, ya di hukum apapun, perbuatan membunuh atau menganiaya orang lain jelas-jelas dilarang.

Sedangkan tentang larangan menjadi kafir, murtad, atau melakukan hal-hal yang bisa membawa kepada kekafiran, hal ini menjadi hak asasi setiap agama yang ingin mempertahankan dirinya. Di negara sekuler seperti Amerika, kita tidak bisa melarang orang disana menjadi sekuler. Kalau kita larang, malah kita dianggap melanggar hukum. Di Turki, kalau ada orang yang menghina nilai-nilai sekularisme, dia bisa dipenjara. Begitu pula di China, kalau ada yang melarang penyebaran ideologi marxis-atheis, mereka bisa dituduh sebagai musuh negara.

Secara umum, hanya 7 ATURAN itu yang menjadi sumber ketakutan manusia jaman sekarang terhadap pemberlakuan sistem Islam. Mereka terlalu banyak berprasangka buruk, sambil tidak mau melakukan kajian secara serius. Pikiran mereka banyak menyeleweng akibat berbagai upaya penyesatan yang tak henti-henti, baik oleh media-media massa sekuler, pemikir-pemikir berkedok “cendekiawan muslim”, juga karena banyaknya syubhat yang disebarkan oleh orang-orang sesat berkedok “ahli ilmu”. Di sisi lain, kaum hedonis juga tak henti-hentinya meneriakkan semboyan kebebasan dan penghambaan hawa nafsu.

Demi Allah, Negara Islam itu merupakan jalan yang mudah, realistik, dan sangat manusiawi. Kalaupun di otak kita tumbuh banyak ketakutan terhadap sistem ini, hal itu lebih karena kita tidak tahu saja. Dan satu lagi, kita tidak pernah mengalami indahnya kehidupan di bawah sistem Islam. Jadi, ini adalah ketakutan yang dibuat-buat, merupakan was-was bisikan syaitan, serta gejala halusinasi dari masyarakat yang belum pernah mengalami sesuatu.

Bayangkan saja, kalau masyarakat Indonesia mau patuh dalam 7 ATURAN itu, seketika itu mereka telah mendapatkan Negara Islam, Sistem Islam, Peradaban Islam. Selanjutnya, tinggal kita maksimalkan berbagai kemudahan dan kebebasan yang kita peroleh dari kemurahan ajaran agama ini. Masya Allah, kalau manusia tahu hakikat persoalan ini, sungguh mereka akan MALU BESAR untuk bersikap sinis atau anti Negara Islam. Hanya para syaitan saja yang akan menolak diberi kebaikan, menolak diberi rizki, menolak dipayungi barakah, menolak diberi kasih-sayang, serta menolak perlindungan yang kuat.

KALAM AKHIR 

Dari sekian panjang pembahasan ini, kita mendapati kesimpulan, bahwa konsep Negara Islam adalah konsep yang benar. Ia bukan saja merupakan konsep warisan Salafus Shalih, bahkan ia adalah KONSEP NABAWI yang dibimbing oleh Wahyu dari langit. Nabi Saw dan para Khulafaur Rasyidin Ra menjadi perintis pelaksanaan sistem Negara Islam ini.

Lalu bagaimana hukum melaksanakan Negara Islam ini dalam kehidupan kaum Muslimin? Tidak diragukan lagi, hukumnya adalah wajib bagi kaum Muslimin yang mampu menunaikannya. Adapun bagi Ummat Islam yang merasa dirinya lemah atau tidak mampu, mereka harus tetap meyakini kebenaran konsep Negara Islam ini, dan tidak silau oleh sistem apapun selainnya. Bahkan hendaklah setiap Muslim meyakini kebenaran sistem Negara Islam ini dalam hidupnya, terlepas apakah dalam hidupnya diterapkan sistem Islami atau tidak.
Sebuah nasehat besar bagi setiap Muslim: “Wa laa tamutunna illa wa antum muslimin” (janganlah kalian mati,kecuali dalam keadaan sebagai Muslim). Ayat ini juga bermakna, janganlah kita mati dalam keadaan tidak meyakini kebenaran sistem Negara Islam dan mengagumi sistem non Islam. Siapa yang mati dalam keadaan mendurhakai sistem Negara Islam, dia mati dalam jahiliyyah. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Namun untuk merealisasikan sistem Negara Islam ini, saya menyarankan agar kita menempuh cara-cara damai. Kita bisa berdakwah, membina Ummat, menyampaikan bayan, berdiskusi secara hikmah, dan sebagainya. Hindari cara-cara kekerasan! Sebab kondisi Ummat Islam ini lemah di berbagai sisinya. Di tingkat lokal maupun internasional, keadaan kita terjepit. Jika ada elemen-elemen Ummat Islam yang menempuh cara kekerasan, hal itu akan mengundang GELOMBANG REAKSI berat. Media-media massa akan menghujani kita dengan berbagai fitnah yang sangat menyakitkan hati. Kita tahu, banyak media yang eksistensinya memang untuk menghalangi gerakan pembangunan Islam. Mereka tidak akan ragu untuk menjadikan kasus-kasus kekerasan itu sebagai senjata untuk merusak citra perjuangan kaum Muslimin.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Ummat, bagi generasi muda Muslim, bagi bangsa Indonesia; juga bermanfaat bagiku, ayah-ibuku, serta keluargaku seluruhnya. Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang mencintai Islam, mencintai peradaban Islam, mencintai sistem Islam, sekaligus mencintai Negara Islam. Semoga Allah menjadikan kita sebagai Muslim yang sepenuhnya, zhahir dan bathin, dunia Akhirat. Semoga Allah menolong kita atas kesulitan dan kesempitan yang kita alami, dalam meniti jalan Islam. Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Tulisan ini secara khusus saya dedikasikan untuk KH. Firdaus Ahmad Naqib, yang memiliki obsesi ingin wafat di bawah naungan sebuah Negara Islam. Juga saya dedikasikan untuk Ki Bagoes Hadikoesoemo rahimahullah, seorang sesepuh Muhammadiyyah, yang sepanjang hayatnya sangat gigih membela Syariat Islam di Indonesia. Juga saya dedikasikan kepada setiap Muslim yang mendambakan Daulah Islamiyyah di negeri Nusantara ini. Barakallah fikum jami’an.

Wallahu A’lam bisshawaab.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...