Ads 468x60px

.

Sabtu, 09 April 2011

SAKSIKANLAH !!! BAHWA KITA HIDUP DI DUNIA YANG KEJAM (BAG 2)


[16] Banyak perempuan-perempuan muda demi meraih kesempatan menjadi artis, bintang sinetron, atau bintang iklan, mereka mau ditiduri oleh laki-laki bejat dari golongan sutradara, produser, pemain sinetron, bintang film, pencari bakat, orang media, biro iklan, orang TV, dll. Demi diorbitkan, mereka mau menyerahkan kehormatan. (Maklum, ketika masih remaja, kehormatan mereka sudah diambil pacarnya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik).


[17] Banyak anak-anak muda menjadi pecandu narkoba, pecandu miras, pecandu seks bebas, bukan karena keinginan mereka. Mereka terjerumus seperti itu karena dijerumuskan oleh kawan-kawannya. Singkat kata, kawan-kawannya tidak mau masuk neraka sendirian. Mereka mencari teman.

[18] Peredaran narkoba tidak melulu melibatkan jaringan kriminal atau para pecandu. Kadang aparat hukum juga ikut mengedarkan narkoba itu. Mereka menyita narkoba dari pelaku atau pengedar, lalu barang haram itu diedarkan lagi melalui tangan orang lain. Jadi seperti lingkaran setan. Kasus yang sangat tampak ialah Jaksa Ester yang kini berurusan dengan hukum.

[19] Banyak wanita-wanita dusun, ibu-ibu rumah-tangga, kurang berpendidikan, mereka dikirim ke Saudi, Kuwait, UEA, Singapura, Malaysia, Korea, Hongkong, Taiwan, dll. untuk menjadi babu (pembantu rumah tangga). Hak-hak hidup mereka selama di luar negeri tidak dilindungi. Kerap kali mereka pulang ke Tanah Air sudah terkunci dalam peti mati. Uang tidak didapat, nyawa melayang. Praktik seperti ini terjadi bukan semata karena kebodohan wanita-wanita itu. Tetapi mereka telah diperjualbelikan oleh PJTKI, ditipu petugas imigrasi, KBRI, Depnakertrans. Bahkan saat tiba di Terminal III bandara Soeta, mereka masih ditipu oleh calo-calo bejat. Kasihan sekali, jauh-jauh kerja untuk keluarga, malah ditipu.

[20] Dulu perbudakan sudah dihapuskan, tetapi kini perbudakan menemukan bentuknya yang baru. Sebagian wanita kampung direkrut untuk kerja ke Batam atau ditempatkan di luar negeri. Mereka dijanjikan penghasilan besar. Di kemudian hari ternyata, mereka dijual untuk menjadi WTS-WTS di lokasi industri atau tempat-tempat mesum di luar negeri. Kasihan sekali wanita-wanita itu. Dan betapa terkutuk perbuatan manusia-manusia durjana penjual wanita tersebut.

[21] Sebenarnya orang Indonesia banyak yang pintar-pintar. Mereka bisa membuat inovasi-inovasi teknologi yang lebih baik. Produk-produk konsumsi yang beredar selama ini bisa dibuat ivovasi barunya yang lebih baik, efisien, ramah lingkungan. Tetapi sayangnya, karya anak-anak kreatif negeri ini harus dibuang ke tong sampah, karena tidak direstui oleh perusahaan-perusahaan asing. Kalau inovasi itu diterima, perusahaan-perusahaan asing khawatir kehilangan pasar. Ini penyakit lama yang susah sembuh.


[22] Praktik korupsi untuk mendapat kredit bank. Misalnya, Anda butuh dana kredit Rp. 10 miliar dari bank. Sebelum mengajukan kredit, Anda harus menyediakan uang cash senilai Rp. 2 miliar sampai Rp. 3 miliar. Dengan uang itu Anda akan menyogok pejabat-pejabat bank, memberikan pelayanan ini itu, dan seterusnya. Sampai akhirnya pinjaman Rp. 10 miliar pun keluar. Dalam praktiknya Anda menerima kredit Rp. 7 atau 8 miliar, tetapi Anda harus mengembalikan uang Rp. 10 miliar. Praktik bejat seperti ini banyak terjadi di dunia perbankan.

[23] Perusahaan-perusahaan asing sangat tahu bobroknya mental pejabat-pejabat Indonesia. Kalau mereka butuh ijin usaha, ijin pertambangan, perpanjangan kontrak karya, ijin investasi, dll. mereka tinggal memberi sogok kepada pejabat-pejabat terkait dengan mobil, uang, rumah, atau cewek cantik. Dijamin setelah itu ijin akan keluar. Meskipun akibatnya menyengsarakan rakyat banyak. Pejabat-pejabat di Indonesia kebanyakan kaya karena makan sogokan (suap).

[24] Salah satu yang mengenaskan dari nasib banga Indonesia ialah isu terorisme. Isu ini sebenarnya bukan dari bangsa kita, bahkan kita tidak membutuhkan isu semacam itu. Isu terorisme adalah produk asli Amerika, demi hegemoni politik luar negeri mereka. Di Indonesia, isu terorisme didukung penuh, dijadikan isu nasional, bahkan dikerahkan APBN untuk mendukung isu itu. Ternyata, orang-orang yang dituduh sebagai teroris kebanyakan orang miskin, tinggal di kampung atau gang sempit. Keluarga prihatin, anak-anak terlihat kurus. Logikanya, untuk mengurus keluarga sendiri saja susah, bagaimana mereka bisa membeli bahan peledak, membeli senjata, membeli alat transportasi, dan merancang operasi? Inilah, ketika anak-anak bangsa dikorbankan demi melayani kepentingan politik asing.

[25] Dunia politik nasional tidak lepas dari kebohongan publik. Sebagian besar kegiatan politik saat ini dipenuhi oleh kebohongan-kebohongan. Setiap menjelang Pemilu para politisi selalu mengklaim dirinya “pembela rakyat”. Tetapi setelah Pemilu usai, amanah rakyat dilupakan. Dan payahnya lagi, rakyat seringkali lupa dengan sikap-sikap maniak seperti itu. Dan lebih gila lagi, para politisi itu merasa tenang-tenang saja dengan segala kebohongannya.

[26] Katanya, dunia jurnalistik media itu berkarakter independen, jujur, adil, tidak berpihak. Tetapi kenyataannya jauh dari itu. Media kerap menipu juga, seperti para politisi. Politisi menipu, media juga menipu. Banyak berita-berita media yang menghasut, tidak jujur, sentimen, tidak adil, bahkan menjurus ke pembunuhan karakter. Aa Gym itu kan salah satu contoh korban “pembunuhan” oleh media. Saat ini hampir tidak ada media independen. Seluruhnya dipengaruhi oleh komposisi pemegang saham media tersebut.

[27] Pemandangan sangat mengerikan kalau melihat praktik penebangan hutan (illegal logging). Ribuan bahkan jutaan hektar lahan hutan dibabat habis. Hanya ditinggalkan sisa batang atau akar di tanah. Pohon yang berusia ratusan hektar ditebang hanya dalam beberapa menit. Setelah itu tidak diganti dengan pohon baru. Ribuan log kayu-kayu gelondongan dihanyutkan di sungai. Nanti, kayu-kayu itu akan dijual ke negara asing. Furniturnya dinikmati negara-negara Eropa, Asia, Australia, dll. Para penebangnya benar-benar berhati syaitan. Mereka tak peduli kerusakan lingkungan. Filosofi mereka, “Hidup cuma sekali. Selagi hidup isi dengan senang-senang. Goyang terus, Mas!” Na’udzubillah min dzalik.

[28] Di Indonesia banyak pengangguran. Saking sengsaranya cari kerja di Indonesia, sebagian orang mencari kerja ke Saudi. Karena tidak mendapat kerja yang layak, akhirnya mereka menjadi “makelar Hajar Aswad”, menjadi pencopet di depan Ka’bah, atau menjadi pengemis. Jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk kerja sengsara seperti itu. Kasihan sekali.

[29] Di Indonesia banyak LSM yang katanya peduli lingkungan, peduli HAM, demokrasi, wanita, anti korupsi, dll. LSM-LSM itu kerap kali bersikap kritis ke elemen-elemen nasional. Tetapi sayangnya, LSM seperti ini seperti “tukang tadah” bantuan asing. Mereka diberi biaya untuk mencari kelemahan-kelemahan bangsa, lalu melaporkannya ke negara asing. Mereka melaporkan kelemahan bangsa, lalu negara asing memberi imbalan dana. Konon, kasus pembunuhan Munir ketika menuju Belanda juga terkait isu spionase. Munir diduga pergi kesana sambil membawa informasi-informasi sensitif tentang Indonesia.
 
[30] Kalau Anda mau masuk lingkaran pemasaran barang-barang konsumsi umum di suatu kota. Anda harus “nuwun sewu” (permisi) kepada distributor-distributor besar yang menguasai produk itu. Bila tidak, bisnis Anda akan diserang oleh preman-preman bayaran, pengawal distributor besar itu

[31] Para pejabat seperti Walikota/Bupati/Gubernur, mereka bisa kaya sebenarnya bukan karena gajinya. Tetapi karena fee yang mereka peroleh setiap memberi tanda-tangan persetujuan ijin/proyek tertentu. Tanda-tangan itulah yang mahal dan diburu oleh para politisi oportunis. Meskipun di kemudian hari, tanda-tangan itu terbukti menyusahkan masyarakat dan negara.

[32] Aneka modus penipuan telah dilakukan, sejak level kecil sampai level besar. Level kecil misalnya SMS peenipuan, SMS “tolong mama belikan pulsa”, hingga level skandal Bank Indonesia, Bank Century, pembobolan BNI, Bank Mandiri, hingga ultra mega skandal BLBI. Dan sangat gilanya, penipuan itu juga menimpa para jamaah Haji yang ingin ibadah ke Tanah Suci. Untuk orang yang ibadah Haji pun, suatu urusan yang mulia, masih juga ditipu. Masya Allah.

[33] Modus penyimpangan seksual semakin marak dan beragam. Mulai dari free sex, pelacuran, selingkuh, isteri simpanan, kawin kontrak, nikah mut’ah, homoseks, lesbian, dll. Kaum homoseks semakin berani menunjukkan identitas dan penyimpangan seks mereka. Malah ingin diakui seperti orientasi seks yang wajar. Lebih gila lagi, ada dosen UIN Jakarta (namanya Musdah Mulia) yang menghalalkan praktik homoseks-lesbian itu.

[34] Dalam kompetisi apapun, mulai dari akademik, olah-raga, seni, sastra, kuliner, keahlian, hobi, kaligrafi, dll. kerap diwarnai kecurangan. Baik saat seleksi, pelaksanaan, maupun penjurian. Jarang yang murni perlombaan. Kadang, pemenang lomba digilir pada pihak-pihak yang secara tradisional menguasai arena lomba itu. Malah anak-anak sekolah pun sering terlibat “korupsi” demi memenangkan kontingen mereka.

[35] Di masyarakat banyak muncul praktik kejahatan intelektual. Misalnya, pemalsuan ijazah, pemalsuan nilai, pemalsuan karya tulis, penjiplakan karya tulis, plagiatisme, pembocoran soal jawaban, praktik joki, dll. Bahkan ijazah itu diperjual-belikan di internet. Kalau mau mendapat gelar doktor, bisa membeli ijazah Rp. 10 juta.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...