Ads 468x60px

.

Sabtu, 09 April 2011

SAKSIKANLAH !!! BAHWA KITA HIDUP DI DUNIA YANG KEJAM (BAG 3)


[36] Selama ini banyak beredar aliran-aliran sesat, mulai dari sesat amalan, sampai sesat sesesat-sesatnya. Seperti yang mengaku sebagai nabi palsu, sebagai penjilmaan Jibril, dan lainnya. Malah ada aliran sesat baru, yaitu gerakan black satanic (pemujaan kepada syaitan). Besar kemungkinan, aliran pemuja syaitan ini sengaja dibuat oleh agen-agen Freemasonry untuk makin mengeruhkan keadaan. Aliran-aliran semacam ini subur di tengah kondisi masyarakat yang kian sakit parah
.

[37] Di jaman sekarang ini segalanya serba komersial. Sampai hal-hal yang bersifat ibadah pun dikomersilkan. Ceramah dikomersilkan, taushiyah dikomersilkan, SMS nasehat dikomersilkan, bahkan sampai “doa qubur” pun dikomersilkan. Khawatir nanti, untuk mengurus jenazah pun ada event organizer-nya.

[38] Para pencermah agama di jaman ini tidak malu-malu untuk “pasang tarip”. Alasan mereka, “Dakwah butuh operasional, jadi harus profesional, dong!” Kalau begitu, seharusnya dakwah mereka juga harus professional. Artinya, dakwah itu harus secara nyata mampu membuat perubahan besar di tengah masyarakat. Jangan taripnya minta profesional, tetapi tanggung-jawab dakwahnya nihil. Itu tidak fair. Harusnya jamaah pengajian membuat parameter, misalnya setelah ceramah ada 10 orang taubat. Baru penceramahnya bisa dibayar. Kalau dakwah tidak profesional, mereka cukup diberi “aqua gelas” saja.

[39] Ada kalanya lembaga yang keagamaan seperti organisasi, yayasan, atau partai, mereka menerima harta atau dana dari jurusan-jurusan haram. Bisa dari hasil korupsi, dari Bandar judi, dari mark up dana proyek, dari dana asing, dll.

[40] Cara masyarakat mencari rizki di jaman sekarang semakin mengerikan. Ada kalanya mereka menjual makanan yang diawetkan dengan formalin, dicampur pemutih kimiawi, memakai pewarna tekstil, dll. Ada kalanya mereka melakukan penipuan label produk, atau melakukan penipuan isi produk. Bahkan tidak jarang, mereka mengolah limbah makanan, lalu dijual lagi. Mereka sendiri tak mau memakan produk-produk itu, tetapi mereka menjualnya ke orang lain.

[41] Dunia pengemis kini menjadi dunia “profesi” tersendiri. Ada pemasoknya, ada jaringannya, ada penyedia logistik, ada pengatur lokasi. Bahkan yang luar biasa, ada jasa penyewaan bayi, agar saat mengemis lebih “mengharukan”. Malah ada pengemis berkedok “sumbangan pembangunan masjid”.

[42] Penerapan sistem outsourcing di dunia kerja. Dalam sistem ini tidak ada istilah pekerja tetap. Rata-rata adalah pekerja kontrak. Mereka dikontrak kerja per tahun atau per 3 tahunan. Tidak ada jenjang karier, tidak ada promosi, bahkan tunjangan-tunjangan pun dipangkas habis. Bila masa kontrak sudah selesai, kontrak bisa diperbaharui lagi dari titik nol lagi. Ssitem demikian membuat ratusan ribu buruh/pekerja menjerit luar biasa. Tetapi anehnya, mereka dalam Pemilu memilih SBY lagi. Katanya benci outsiurcing, tetapi memilih SBY. Ya itulah.

[43] Sejujurnya saat ini banyak mantan-mantan pejabat yang stress, depressi, atau mungkin sudah gila. Mengapa demikian? Karena saat menjabat mereka sewenang-wenang, sehingga dibenci masyarakat. Mereka jumawa saat menjabat, karena perintah dan keputusannya dihargai banyak orang. Tetapi setelah tidak menjabat, mereka stress karena tidak bisa lagi nyuruh-nyuruh, atau marah-marah ke bawahan. Mereka stess memikirkan dampak korupsi mereka selama masih menjabat. Bahkan mereka stress karena khawatir modus korupsinya akan terbongkar. Orang-orang “jelek” itu akhirnya bingung karena dosa-dosanya sendiri.

[44] Fenomena bencana alam yang susul-menyusul di negeri ini. Terjadi sejak dari ujung Barat sampai ke ujung Timur. Berbagai jenis bencana alam sudah terjadi di negeri ini. Korbannya mulai dari yang puluhan, sampai ratusan, ribuan, puluhan ribu, sampai ratusan ribu manusia. Korban materi sejak angka ratusan juta, miliaran, sampai triliunan rupiah. Tabloid Suara Islam mengangkat tema “serial bencana alam” di masa Pemerintahan SBY. Mungkin ia bisa menjadi referensi bagus yang perlu dibaca rakyat Indonesia, seluruhnya.

[45] Sangat kasihan kalau melihat nasib wanita jaman sekarang. Mereka diperlakukan secara hina,
diperlakukan sebatas “daging pemuas”, dinikmati kecantikan dan keseksian dirinya. Tidak ada penghargaan, perlindungan, kasih-sayang, pengertian, kesetiaan, dan sebagainya. Wanita-wanita itu terus dihujani rayuan-rayuan gombal, digoda agar terjerumus, lalu mereka “dimakan” oleh laki-laki bejat. (Semoga Allah menjaga wanita-wanita kita dari kejahatan seperti itu. Allahumma amin). Dunia industri, kapitalisme, politik liberal; telah membuat wanita-wanita dihargai seperti budak. Mereka dinilai sebatas “daging” belaka. Lebih sadis lagi, proses “perbudakan” seperti ini justru ditunjang oleh kampanye feminisme (kebebasan wanita). Padahal sejatinya, kampanye seperti itu hanyalah untuk menjerumuskan kaum wanita agar menjadi budak-budak dunia industri. Allahu Akbar.

Dan lain-lain fakta yang terlalu panjang jika diungkap semua disini. Apa yang disebut di atas adalah kategori fenomena-fenomena sosial. Bukan terjadi satu dua kasus, tetapi sangat sering terjadi, di berbagai tempat. Media-media massa hampir setiap hari memberitakan kejadian-kejadian seperti itu. Malah bisa dibilang, fakta-fakta itu merupakan “ceruk potensial” bisnis media.

Inilah kenyataan hidup di hadapan kita, inilah sejatinya kehidupan kita, inilah nafas kita sehari-hari. Segalanya serba KEJAM, SADIS, BENGIS, ZHALIM, MENINDAS, MENGHANCURKAN, dll. Tidak ada damai, tidak ada toleransi, tidak ada kelembutan, tidak ada bijaksana, tidak ada kearifan, tidak ada kerjasama, tidak ada saling percaya, tidak ada budi pekerti, tidak ada akal sehat, tidak ada kejujuran, tidak ada komitmen, tidak ada rasa kemanusiaan yang selama ini kita rindukan.

Nilai-nilai moralitas yang kerap diucapkan dalam pidato, orasi politik, pernyataan pers, ceramah, kuliah, diskusi, dll. umumnya hanya PALSU belaka. Semua itu hanya KEBOHONGAN belaka. Kehidupan kita sejatinya sangat kejam, sangat sadis, penuh kezhaliman dan angkara murka. Wajar jika kemudian bangsa ini tidak pernah sepi dari bencana. Bagaimana tidak dilamun bencana, wong moral bangsa ini sudah sebobrok-boroknya, sudah rusak parah!

Hal-hal demikianlah yang kerap membuat masyarakat stress, mengalami depressi, atau putus-asa. Hati mereka ingin mendapati hidup yang damai, jujur, saling kerjasama, menghormati, dan harmoni. Tetapi kenyataan yang dihadapi sangat jauh dari harapan. Harapan mereka menjulang ke langit, sedangkan kenyataan di depan mata menukik ke dasar lautan terdalam. Kasihan sekali…

Coba sekarang, setelah menyadari semua ini, kita mau berbuat apa? Apa yang akan kita lakukan? Apa rencana Anda, apa rencana kita, dan apa rencana bangsa kita untuk memperbaiki keadaan ini? Apakah cukup dengan menebar spanduk-spanduk di jalan-jalan raya bertuliskan, “Harapan itu masih ada!” Apakah cukup dengan membuat even nasional bertema dzikir, sedekah, atau doa? Apa cukup dengan menggelar seminar, muktamar, atau konggres yang nihil dampaknya?

Silakan para pakar, profesor akademisi, ahli hukum, wartawan media, tokoh ormas, politisi, perwira militer, anggota dewan, birokrator, purnawirawan jendral, ahli intelijen, ahli agama, aktivis LSM, aktivis mahasiswa, peneliti independen, atau siapa saja. Silakan Anda semua memikirkan cara menghadapi semua penyakit-penyakit sosial ini? Sanggupkah otak, tangan, dan pundak Anda menghadapi semua itu? Bagaimana cara memperbaiki negara ini, wahai saudara budiman?

Saudaraku…inilah keadaan ketika telah DICABUT BERKAH dari tengah-tengah kehidupan bangsa kita. Bangsa kita tidak lagi dinaungi berkah, tetapi justru dibiarkan tenggelam dalam segala musibah, bencana, konflik, kriminalitas, korupsi, penindasan, penipuan, kemunafikan, kesesatan, dan sebagainya.
Negara-negara kafir masih memiliki kelebihan dibanding negeri kita. Mereka membersihkan birokrasi dari korupsi; mereka menegakkan keadilan hukum bagi rakyat kecil dan kaum elit; mereka sungguh-sungguh memelihara jiwa warganya; mereka menyantuni warga miskin dan kaum lemah; mereka masih menghargai ilmu pengetahuan, kejujuran, dan akal sehat; mereka mau bekerja keras mencapai hasil terbaik; mereka mau memelihara lingkungan; mereka masih mau menyisihkan harta untuk menolong negara lain yang tertimpa bencana. Meskipun kafir dan menganut paham kebebasan, mereka masih komitmen dengan nilai-nilai kebaikan bagi warga dan rakyatnya. Sedangkan kita di Indonesia, secara keagamaan rusak, secara moral rusak, secara birokrasi korup, secara budaya ancur, secara mental juga bobrok. Lalu apa yang bisa diandalkan dari negeri ini?

Seharusnya, bangsa Indonesia bersikap RENDAH HATI (tawadhu). Akuilah bahwa hidup itu sulit, membangun kesejahteraan sulit, membangun keadilan dan martabat itu sulit. Saat merasa sulit, kita sesungguhnya membutuhkan ALLAH TA’ALA untuk menyelesaikan semua persoalan ini. Otak, tangan, dan pundak kita tak kuasa memikul semua ini. Beban kehidupan ini terlalu sulit, kita membutuhkan Allah. Sudah ribuan pemimpin, pejabat, politisi, perwira, tokoh, pemikir, ahli, dll. dikerahkan untuk memperbaiki bangsa. Faktanya, bangsa kita semakin ambles (terpuruk).

Dalam hidup ini banyak hal yang bisa kita manipulasi, kita atur dan kontrol. Tetapi lebih banyak lagi yang tak sanggup kita jangkau; lebih banyak yang tak terdefinisikan dalam sains; lebih banyak yang mengandung spekulasi dan dugaan; lebih banyak yang multi dimensi; lebih banyak yang menuntut kepekaan naluri dan sensitifitas spiritual. Lebih banyak elemen-elemen kehidupan yang tak sanggup kita jangkau. Disanalah kita membutuhkan bimbingan Allah Ta’ala untuk mengatur kehidupan ini, untuk mengatur urusan bangsa dan negara ini.

Janganlah berlagak sombong, dengan enggan mengambil tuntunan Allah. Kita semua ini bodoh, lemah, dan kerdil; di hadapan Allah Ta’ala. Buktinya: Kita tidak bisa mengingati seluruh kejadian yang terjadi pada 3 hari lalu; kita tidak tahu apa yang akan terjadi 1 jam ke depan; kita tidak ingat apa saja yang muncul saat mimpi kita tadi malam; bahkan kita tak tahu penyakit apa yang sedang bergolak di tubuh kita. Terlalu banyak kelemahan kita. Mengapa lalu harus sombong?

Siapa sih kita sehingga berani berlagak sok pintar, sok kuat, sok berkuasa? Dengan tiupan angin sedikit saja, kita bisa mati mendadak, sehingga musnahlah semua kesombongan kita. Hidup ini sangat membutuhkan bimbingan Allah. Bukan dengan segala tetek-bengek teori yang tidak karuan.

Kaidahnya sangat jelas: “Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa (kepada Allah), niscaya Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (agama Allah), maka Kami siksa mereka akibat perbuatannya.” (Surat Al A’raaf: 96).
Kehidupan kita selama ini merupakan kehidupan yang berat, kejam, sadis, penuh kezhaliman dan penindasan. Hal itu terjadi karena Allah telah mencabut BARAKAH-BARAKAH dari tengah-tengah kehidupan kita. Meskipun bangsa Indonesia kaya-raya, tetapi kekayaan itu tidak membuat kita hidup nyaman. Bahkan sekedar untuk menikmati sedikit kekayaan saja, tidak bisa. Hidup di negeri ini justru seperti berteman badai dan petir sepanjang waktu. Tidak ada hidup nyaman disini, semua serba penuh tekanan, gelisah, dan penderitaan.

Bila hari ini kita melihat ada korban kejahatan. Mungkin suatu saat kita sendiri yang akan menjadi korban. Mungkin saat lainnya, kita akan menjadi pelaku kejahatan itu. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Kata sebagian orang, “Homo homini lupus!” Antar sesama manusia, saling makan-memakan.

Alhamdulillah, Islam agama yang mulia dan bersih. Islam tidak bertanggung-jawab sedikit pun atas semua derita bangsa Indonesia. Derita bangsa Indonesia adalah akibat perbuatan manusia Indonesia sendiri. Bahkan Islam sangat berjasa memberikan kebaikan, sifat mulia, dan rasa kehormatan bagi bangsa ini. Meskipun bangsa kita tidak pernah sepenuh hati mau menerima prinsip-prinsip Islam. Dan alhamdulillah, kita masih memiliki nama ISLAM. Islam adalah identitas mulia, kebanggaan diri, ketika tidak ada lagi yang bisa dibanggakan dari negeri ini.

Tidak ada kebanggaan sebagai orang Indonesia dengan segala realitas kebobrokan, kezhaliman, dan penindasan yang ada. Sebagai manusia, tidak layak kita hidup seperti itu. Manusia bukan binatang yang tidak mengenal etika dan moral. Mungkin, suatu saat label Indonesia akan menjadi aib yang sangat memalukan. Serupa seperti label Israel atau Amerika. Taufik Ismail sendiri dalam syairnya mengatakan, “Malu (Aku) Menjadi Orang Indonesia.”

Sedih, sedih, sedih… Tetapi, apa mau dikata? Inilah, kenyataan hidup kita. Islam datang ke negeri ini sebagai anugerah, rahmat, dan kekuatan; tetapi Islam malah dimusuhi, dirusak nama baiknya, dipecah-belah barisannya, dimarginalkan peranan dan ekonominya, disesatkan konsep-konsepnya, dihujani teror sistematik, diperangi para pembelanya… Akibatnya, bangsa ini MENDAPAT KUTUKAN akibat kejahatan-kejahatannya terhadap Islam.

Kami sebatas mengingatkan… Hak Anda untuk menerima atau menolak. Kami tidak kuasa memaksa. Biarlah apapun kan terjadi. Silakan nikmati apa yang mesti dinikmati; silakan tanggung apa yang mesti ditanggung. Pada dasarnya, Allah tidak menzhalimi siapapun; kita lah yang menzhalimi diri sendiri.

“Rabbana, innana amanna faghfirlana dzunubana, wa qina ‘adzaban naar.” Ya Allah, sesungguhnya kami beriman (kepada-Mu), ampunilah dosa-dosa kami, dan jauhkanlah kami dari siksa neraka. Allahumma amin.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...