Ads 468x60px

.

Senin, 25 April 2011

USHULUS SUNNAH WA I’TIQAD DIEN




Imam Ibnu Abi Hatim

Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah radliyallahu'anhuma tentang madzhab Ahlus Sunnah dalam masalah ushuluddin (pokok–pokok agama) juga tentang pemahaman para ulama di berbagai kota yang mereka ketahui, serta apa saja yang mereka berdua yakini. Maka, keduanya berkata : Kami telah berjumpa dengan para ulama diseluruh kota baik di Hijaz, Iraq, Mesir, Syam maupun Yaman, maka diantara madzhab yang mereka anut adalah (1)

1. Iman itu berupa perkataan dan perbuatan (2), bertambah dan berkurang (3).

2. Al–Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk, dalam segala aspeknya(4).

3. Takdir yang baik maupun yang buruk adalah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala(5)

4. Di kalangan ummat ini, sebaik–baik orang setelah Nabi adalah Abu Bakar Ash–Shiddiq, kemudian ‘Umar bin Al–Khattab, lalu ‘Utsman, lalu ‘Ali bin Abu Thalib radliyallahu 'anhum. Mereka Khulafaur Rasyidun Al–Mahdiyun para khalifah yang berpegang teguh kepada agama dan mengikuti kebenaran (6).

5. Bahwa sepuluh sahabat yang disebut dan dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk jannah, mereka itu sesuai dengan pernyataan beliau dan perkataan beliau (7) itu benar. 

6. Memintakan kasih sayang (8) bagi seluruh sahabat serta keluarga Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam, serta menahan untuk membicarakan perselisihan yang terjadi diantara mereka.

7. Bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya (9), terpisah dari seluruh makhluk-Nya, sebagaimana sifat yang diberitahukan-Nya dalam kitab-Nya melalui lisan Rasul-Nya, tanpa diketahui kaif (bagaimana)nya. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

8. Allah Tabaraka wa Ta’ala akan dapat dilihat di akhirat (10). Segenap penduduk jannah akan melihat-Nya dengan mata kepala mereka. Allah berbicara, sebagaimana dia berkehendak.

9. Jannah (syurga) adalah benar dan naar (neraka) adalah benar (adanya). Keduanya adalah makhluk yang kekal abadi (11). Jannah adalah balasan bagi para wali-Nya, sedangkan neraka adalah hukuman bagi orang–orang yang bermaksiat kepada-Nya, kecuali yang mendapatkan rahmat-Nya.

10. Shirath adalah benar (adanya) (12).

11. Mizan (timbangan) yang memiliki dua sisi timbangan untuk menimbang amalan para hamba, yang baik maupun yang buruk adalah benar (adanya) (13).

12. Haudh (telaga) yang dijadikan sebagai penghormatan bagi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan segenap keluarganya, adalah benar (adanya) (14).

13. Syafa’at adalah benar (adanya). Dan bahwa sebagian ahli tauhid keluar dari neraka lantaran adanya syafa’at, adalah benar (15).

14. Adzab kubur adalah benar (adanya) (16).

15. Munkar dan Nakir adalah benar (adanya) (17).

16. Malaikat mulia yang mencatat amal perbuatan menusia adalah benar (adanya) (18).

17. Kebangkitan setelah mati adalah benar (adanya) (19).

18. Para pelaku dosa besar berada dalam masyi’ah (kehendak) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita tidak mengkafirkan ahli kiblah disebabkan dosa mereka. Kita menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

19. Kita melaksanakan kewajiban jihad dan haji bersama imam–imam kaum muslimin, disetiap masa.

20. Kita tidak boleh melakukan pembelotan terhadap para imam atau peperangan di masafitnah.

21. Kita mendengar dan menta’ati siapa saja yang dijadikan Allah sebagai pemimpin kita. Kita tidak akan melepaskan diri dari ketaatan.

22. Kita mengikuti sunnah dan jama’ah serta menghindari sikap menyimpang (nyleneh), perselisihan dan perpecahan.

23. Jihad berlaku semenjak Allah mengutus Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam hingga terjadinya hari kiamat, bersama imam–imam kaum muslimin, tanpa ada sesuatupun yang menghapuskannya.

24. Demikian pula haji.

25. Begitu pula pembayaran zakat saimah (20) kepada imam kaum muslimin yang menjadi pemimpin bagi kita.

26. Pada aslinya manusia secara umum digolongkan mukmin berdasarkan hukum–hukum dan pewarisan, adapun hakekat keimanan mereka disisi Allah tidak diketahui. Barangsiapa yang berkata bahwa ia seorang mu’min sejati, maka ia adalah orang yang berbuat bid’ah. Barangsiapa yang berkata bahwa ia adalah orang yang mu’min disisi Allah, maka ia termasuk pendusta, sedangkan orang yang mengatakan, “Saya beriman kepada Allah” maka yang dilakukannya adalah benar (21).

27. Kaum Murji’ah adalah kaum yang berbuat bid’ah dan tersesat.

28. Kaum Qadariah adalah kaum yang berbuat bid’ah dan tersesat. Barangsiapa diantara mereka yang menyatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mengetahui apa yang akan terjadi sebelum terjadinya, maka ia kafir.

29. Kaum Jahmiyah adalah kafir (22).

30. Kaum Rafidhah adalah kaum yang menolak Islam.

31. Kaum Khawarij adalah kaum yang meluncur keluar dari agama (23).

32. Barangsiapa menyatakan bahwa Al–Qur’an itu makhluk, maka ia orang yang kafir kepada Allah Yang Maha Agung, dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari millah. Barangsiapa yang faham tetapi meragukan kekafirannya, maka ia kafir.

33. Barangsiapa yang ragu terhadap Kalam Allah Ta’ala (Al–Qur’an), bimbang mengenainya dan mengatakan, “Saya tidak tahu apakah makhluk atau bukan makhluk” maka ia orang yang berfaham jahmiyah

34. Orang yang bimbang mengenai Al–Qur’an dikarenakan kebodohan, maka harus diajari dan dibid’ahkan, tetapi tidak dikafirkan.

35. Barangsiapa yang mengatakan “Bacaan Al–Qur’an-ku adalah makhluk” atau “Al–Qur’an dengan bacaanku adalah makhluk” maka ia adalah orang yang berpaham jahmiyah. Syaikh Abu Thalib berkata: Ibrahim bin ‘Umar berkata: Ali bin Abdul ‘Aziz berkata : Abu Muhammad berkata: Saya mendengar ayahku radliyallahu 'anhu berkata :

36. Tanda–tanda ahli bid’ah adalah mengumpat ahlul ‘atsar (orang – orang yang berpegang teguh dengan sunnah).

37. Tanda–tanda orang zindiq adalah mereka menyebut ahlul ‘atsar sebagai orang hasywiyah, karena ingin menghapuskan sunnah.

38. Tanda–tanda kaum jahmiyah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum musyabbihah.

39. Tanda–tanda kaum qadariyah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum yang berpaham jabriyah

40. Tanda–tanda kaum murji’ah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum mukhalifah (yang suka mempertentangkan) atau nuqshaniyah (yang suka mengurangi).

41. Tanda–tanda kaum rafidhah  adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum tsaniyah.

42. Dalam perkara ini telah tersesat banyak kelompok (dalam memahami ahlus sunnah), padahal ahlus sunnah hanya menyandang satu nama dan nama – nama ini semua tidak mungkin menyatu (ada) pada mereka.

43. Abu Muhammad bercerita kepada kami, katanya: Dan saya mendengar ayahku dan Abu Zur’ah mengisolasi orang yang memiliki pemahaman yang menyimpang dan melakukan bid’ah, menyalahkan pendapat mereka dengan keras, menolak penulisan buku–buku dengan pendapat tanpa berdasarkan atsar, melarang berteman dengan ahli kalam atau membaca buku–buku kaum mutakallimin, serta berkata “Penganut ilmu kalam tidak akan beruntung selamanya.”

Telah saya sampaikan semuanya, dan segala puji bagi Allah Rabb semua alam, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan para keluarganya. Akhir kitab I’tiqaduddin.
__________________________________________________________
FOOTNOTE

1 Periwayatan hadits diatas dapat dilihat pada text asli dalam bahasa arabnya

2 Perkataan (ucapan) dengan lisan, keyakinan dengan hati dan perbuatan dengan anggota badan

3 Banyak dalil mengenai hal itu, diantaranya adalah firman Allah Ta’ala : ".. supaya orang yang beriman bertambah imannya.." (Qs. Al Muddathsir:31)“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dankepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (Qs Al Anfal : 2)

4 Ia dihafal di dalam dada, diucapkan dengan lidah dan ditulis di berbagai mushaf. Barangsiapa yang
berkeyakinan bahwa Al–Qur’an itu makhluk, maka ia adalah seorang penganut faham Jahmiyah
yang sesat. Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersepakat bahwa Al–Qur’an adalah kalam Allah dan
bukan makhluk.

Peringatan:

Sebagian ahlul ahwa’ dan orang–orang yang di dalam hatinya ada penyakit, menyatakan bahwa Al-Imam Al-
Bukhari berkata : “Bacaan Al-Qur’anku adalah makhluk.” Pernyataan ini merupakan kebohongan dan
kedustaan yang diatasnamakan Al-Bukhari Abu ‘Abdillah ‘sang matahari agama dan dunia’ rahimahullah. Itu
tidak lain merupakan perkataan orang–orang yang memusuhi dan dengki.

Muhammad bin Nashr berkata : “Saya pernah mendengar Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari
berkata : “Barangsiapa menyatakan bahwa aku pernah mengatakan : ‘Bacaan Al-Qur’anku adalah
makhluk maka sesungguhnya ia adalah seorang pendusta. Sungguh aku tidak pernah  mengatakannya.’ Maka saya bertanya kepadanya : “Wahai Abu Abdillah, orang–orang banyak sekali memprbicangkan hal ini ?” Ia menjawab : “Yang benar hanyalah apa yang kukatakan ini.” Lihat ‘Hadyus Sari Muqaddimmah Fathul Bari’ 492, ‘Thabaqat Al-Hanabillah’ 1/227, ‘Siyar A’lam An-Nubala’ XII/457, ‘Mukhtashar Ash-Shawa’iq’, Ibnul Qayyim.

5 Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya, segala sesuatu Kami ciptakan dengan takdir. ” (Al-Qamar 49). Takdir adalah rahasia Allah. Barangsiapa yang tidak menerima ketentuan dan takdir Allah dengan ridla, maka hidupnya tidak akan tenang.

6 Mengenai hal itu terdapat beberapa hadits shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang bersabda : “Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin sesudahku.” Riwayat ini melalui jalur Al-Irbadh bin Sariyah. Adapula riwayat dari Ibnu ‘Umar yang berkata : “Kami berkata, sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masih hidup : Sebaik – baik ummat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam setelah beliau adalah Abu Bakar, Umar kemudian Utsman.” Muttafaqun ‘Alaih.

7 Ada beberapa atsar (hadits) yang diriwayatkan mengenai hal itu. Dari Sa’id bin Zaid yang berkata :
Bahwa saya pernah mendengar bahwa beliau bersabda : “Sepuluh orang ada di jannah, Nabi di jannah, Abu Bakar di jannah, Umar di jannah, Utsman di jannah, Ali di jannah, Thalhah di jannah, Sa’ad bin Malik di jannah, Abdurrahman bin ‘Auf di jannah. Bila aku mau akan kusebutkan yang kesepuluh.” Para sahabat bertanya : “Siapakah dia ?” Beliau bersabda : “Sa’id bin Zaid ” Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan selain An-Nasa’i. Adapula riwayat lain yang menyebutkan kesepuluh orang itu, dari jalur Abdurrahman bin ‘Auf pada riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad shahih. Di situ, yang kesepuluh adalah Az–Zubair bin Al–‘Awwam.

8 Memintakan kasih sayang dan ridla untuk para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam merupakan salah satu sifat hamba–hamba Allah yang beriman dan bertaqwa, yang di dalam hati mereka tidak terdapat kebencian, kemunafikan dan kedengkian. Bagaimana mungkin seorang  mukmin tidak memintakan rahmat dan ridla Allah untuk para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi  wa sallam, sedangkan mereka semua berada di jannah berdasarkan keterangan dari nash Al-Qur’an : “Dan Allah menjanjikan, untuk masing–masing al-husna (kebaikan).” Al-Husna (kebaikan) disini artinya jannah. Allah sendiri telah menyatakan keridlaan-Nya kepada mereka : “Allah meridlai mereka dan mereka pun ridla kepada Allah.”

9 Bersemayamnya Allah di atas ‘Arsy-Nya disebutkan dalam tujuh tempat di Al-Qur’an yaitu :
1). Al-A’raf ayat 56
2). Yunus ayat 3
3). Ar – Rad ayat 2
4). Thaha ayat 5
5). Al – Furqan ayat 59
6). As – Sajadah ayat 4
7). Al – Hadid ayat 4

10 Allah Ta’ala berfirman : “Wajah–wajah mu’minin pada hari itu berseri–seri kepada Rabbnya mereka melihat.”(Al-Qiyamah 22-23).Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda : “Sungguh kalian akan melihat Rabb kalian seperti kalian melihat bulan pada malam purnama…”Hadits ini terdapat dalam kitab–kitab shahih.

11 Dalam Syarah Aqidah Thahawiyah hal. 476-477, Imam Ath-Thahawi berkata : “Ahlus Sunnah bersepakat bahwa jannah dan neraka adalah dua makhluk yang sekarang telah ada…” Kemudian beliau menyebutkan banyak dalil, diantaranya Allah Ta’ala berfirman : “Telah disediakan (jannah) itu bagi orang–orang yang bertaqwa.” (Ali ‘Imran 133). Dia Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman : “Yang telah disediakan (jahannam itu) bagi orang kafir ” (Ali ‘Imran 131). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda menceritakan kisah ‘Isra’ dan Mi’raj : “Kemudian, saya memasuki jannah, ternyata ia berupa bukit–bukit permata.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.


Peringatan Penting :


Salah satu kesalahan yang banyak menimpa para tokoh adalah penisbatan pendapat mengenai ketidak kekalan neraka, kepada Al-Hafizh Ibnul Qayyim rahimahullah. Hal itu telah diberitakan kepada kita oleh Doktor Bakr Abu Zaid dalam bukunya, “Asy-Syafa’ah wa Bayaanul Ladzina Yasyfa’un.”

12 Shirath adalah jembatan di atas Jahannam. Kita memohon kesentosaan dan keselamatan kepada Allah. Mengenai itu terdapat banyak hadits yang diriwayatkan dalam kitab – kitab shahih, sunan, musnad dan mu’jam. Lihat buku kami : “Asy-Syafa’ah wa Bayaanul Ladzina Yasyfa’un.”

13 Allah Ta’ala berfirman : “Kami memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat.”(Al-Anbiya’ 47). Ayat–ayat atau hadits – hadits mengenai hal ini telah diketahui.
14 Hadits – hadits mengenai telaga ini mencapai derajat mutawatir, diriwayatkan oleh lebih dari tiga puluh sahabat. Lihat “Al-Bidayah wan Nihayah” Ibnu Katsir, “As-Sunnah” Ibnu Abi Syaibah dan “Ma’arij Al-Qabul” Al-Hakamiy. Dari Anas bin Malik yang berkata : Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Periuk di telagaku besarnya antara Ailah hingga Shan’a di Yaman. Di sana terdapat gayung sebanyak jumlah bintang – bintang di langit” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

15 Lihat buku kami “Asy-Syafa’ah wa Bayaanul Ladzina Yasyfa’un kama Warada fil Qur’an was Sunnah Ash- Shahihah.”

16 Terdapat hadits–hadits yang diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai hal ini. Barangsiapa menyangka bahwa hadits–hadits tersebut tergolong hadits ahad,maka ia keliru.

17 Namanya disebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad hasan dari Abu Hurairah.

18 Allah Ta’ala berfirman : “Dan sesungguhnya bagi kamu ada malaikat–malaikat yang mengawasi.Yang mulia dan mencatat.” (Al-Infithar 10-11)

19 Penyebutan tentang kebangkitan ini banyak sekali terdapat dalam Al-Kitab Al-‘Aziz, khususnya dalam surat–surat Makkiyah, demikian pula dalam sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam

20 Saimah ialah binatang – binatang ternak baik itu unta, sapi maupun kambing, yang digembalakan di padang maupun tanah kosong selama satu tahun atau lebih.

21.Barangsiapa yang ingin lebih mendalami kajian masalah ini, hendaklah ia membaca Aqidah Thahawiyah hal. 390-395.

22.Jahmiyah adalah nama yang dinisbatkan kepada Jahm bin Shofwan, dialah orang yang menyatakan peniadaan dan penolakan sifat-sifat ALLAH.

23 Mereka adalah anjing penduduk neraka, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...