Ads 468x60px

.

Sabtu, 14 Mei 2011

WALA’ DAN BARA’ DALAM ISLAM (Bag.3 -TAMAT-)

Hal-Hal Yang Perlu Di Perhatikan



Allah –subhaanahu wa ta’ala- berfirman:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena (agama) dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”(Q.S; Al-Mumtahanah: 8).


Pengertiannya adalah, barangsiapa diantara orang-orang kafir yang telah menahan diri untuk tidak mengganggu, tidak memerangi dan tidak mengusir kaum muslimin dari kampung halaman mereka, maka dalam menghadapi orang-orang kafir semacam itu, kaum muslimin harus memberikan suatu balasan yang seimbang, yakni dengan kebaikan dan berlaku adil dalam hubungan yang bersifat duniawi. Meski demikian, hati mereka tetap tidak boleh mencintai orang kafir, karena Allah U berfirman:

“…untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka.” (Q.S; Al-Mumtahanah : 8).

Dan Allah tidak berfirman : “Untuk berwala’ (setia) dan mencintai mereka.”

Dan sebagai perbandingan dalam masalah ini, Allah –subhaanahu wa ta’ala- berfirman tentang keadaan kedua orang tua yang kafir :

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang  kembali kepada-Ku.”(Q.S; Luqman:15).

Pada suatu ketika ibunda Asma’ binti Abi Bakar radhiallahu 'anhuma yang kafir datang kepadanya (di Madinah) dengan maksud meminta agar hubungan kekeluargaan tetap terjalin meskipun dia kafir, lalu Asma’ minta izin kepada Rasulullah r tentang hal itu, maka beliau bersabda:

 “Sambunglah hubungan kekeluargaan dengan ibumu.”

Dan Allah –subhaanahu wa ta’ala- telah berfirman:

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka.” (Q.S; Al-Mujadilah : 22).

Maka hubungan silaturrahim dan saling membalas budi dalam urusan dunia adalah suatu perkara, sedang suatu sikap rasa cinta dan kasih sayang adalah perkara yang lain.

Disamping menyambung tali kekeluargaan dan hubungan yang baik merupakan suatu pemikat agar orang kafir mau masuk Islam. Dengan demikian perkara tersebut merupakan bagian dari sarana da'wah. Berbeda halnya dengan kasih sayang dan kesetiaan yang menunjukkan setuju dengan keadaan orang kafir, seperti; akhlak, aqidahnya, ibadah dan lain-lain. Yang demikian itu menyebabkan tidak ada keinginan bagi seseorang untuk mengajak mereka masuk Islam.

Demikian pula di haramkannya berwala’ terhadap orang kafir, bukan berarti di haramkan bergaul dengan mereka dalam hal hubungan dagang yang mubah, meng-import barang-barang dan industri, atau mengambil manfaat dari pengalaman dan temuan-temuan mereka. Nabi r pernah menyewa Ibnu Uraiqith Al-Laitsi yang kafir, menjadi penunjuk jalan ketika beliau hijrah ke Madinah. Juga beliau pernah berhutang kepada beberapa orang Yahudi.

Kondisi umat islam dewasa ini yang senantiasa meng-import barang-barang dan industri dari orang kafir, hal ini termasuk dalam masalah jual beli dengan harga yang pantas, bukan berarti mereka memiliki kelebihan dan keutamaan atas kita, dan hal itu juga bukan salah satu sebab timbulnya rasa cinta dan wala’ kepada mereka. Allah U mewajibkan untuk mencintai kaum muslimin dan berwala’ kepada mereka dan membenci orang-orang kafir serta memusuhi mereka.

Allah –subhaanahu wa ta’ala-  berfirman:


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi.” (Q.S; Al-Anfal : 72).

Tentang firman Allah –subhaanahu wa ta’ala- :

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Q.S; Al-Anfal :73 ).

Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata,“Makna firman Allah: "Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar" adalah jika kalian tidak menjauhi kaum musyrikin dan tidak memberikan loyalitas terhadap kaum mu'minin, ketika kamu tidak melakukan hal itu, niscaya akan terjadi fitnah di tengah manusia berupa pencampur-adukan antara perkara kaum mu'minin dengan kaum kafir, hingga menyebabkan kerusakan yang luas dan menyebar.”

Ironisnya, kenyataan ini telah terjadi di zaman sekarang ini. Semoga Allah menolong kita.



Pembagian Manusia Dalam Masalah Wala' Dan Bara'

Manusia dalam masalah wala’ dan bara’ terbagi menjadi tiga bagian :

1.  Mereka yang dicintai dengan suatu kecintaan yang murni, sama sekali tidak terdapat permusuhan dalam kecintaannya.

Mereka adalah kaum mu'minin sejati seperti para Nabi, orang–orang yang jujur dalam keimanannya, syuhada’ dan shalihin. Dan yang paling mulia dari mereka adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh karena itu wajib pula mencintai beliau lebih besar daripada kecintaan kita terhadap diri sendiri, anak, orang tua dan manusia seluruhnya.

Kemudian isteri-isteri beliau yang merupakan ibu kaum mu'minin, Ahlul bait (keluarga Nabis hallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia, terutama khulafa'ur rasyidin dan sepuluh sahabat (yang dijamin masuk surga), kaum muhajirin dan anshar, orang yang ikut serta dalam perang Badar dan orang yang pernah berbai’at dengan Nabi di Bai`atur Ridwan, kemudian para sahabat yang lainnya.

Lalu para tabi’in dan orang-orang yang hidup pada abad yang terbaik, ulama-ulama salaf dan para imam yang empat.


Allah –subhaanahu wa ta’ala- berfirman:


“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdo’Allah, "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Q.S; Al- Hasyr:10).

Dan tidak boleh bagi orang yang di hatinya masih ada iman membenci sahabat Nabi dan para ulama salaf pada  umat ini.

Orang-orang yang membenci mereka adalah orang yang hatinya cenderung untuk menyimpang, kaum munafik dan musuh-musuh Islam seperti golongan syi'ah rafidhah dan khawarij.

2.  Orang yang dibenci dan dimusuhi dengan sebenarnya, serta tidak ada suatu kecintaan sama sekali kepada mereka.

Mereka adalah kaum kafir murni dari orang-orang yang kafir, musyrik, munafik, murtad dan orang-orang yang menentang Islam dari berbagai golongan.


Sebagaimana  firman Allah  –subhaanahu wa ta’ala- :

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka.” (Q.S; Al-Mujadilah : 22).

Allah –subhaanahu wa ta’ala- mencela Bani Israel dalam firman-Nya:

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasik.” (Q.S; Al-Maidah: 80-81).

3.  Orang yang dicintai karena suatu hal dan dibenci karena suatu hal yang lain.

Maka dalam dirinya terkumpul adanya suatu kebencian dan permusuhan, mereka itu adalah orang mukmin yang berbuat kemaksiatan. Mereka dicintai karena ada pada mereka keimanan dan dibenci karena ada pada mereka kemaksiatan yang bukan termasuk kekafiran dan kemusyrikan.

Mencintai mereka dengan konsekwensi menasehati mereka dan mengingkari perbuatan maksiat yang mereka lakukan, bahkan harus mengingkarinya, agar mereka diajak kepada yang baik dan dilarang dari yang mungkar. Dan hendaknya ditegakkan atas mereka hukum-hukum serta ancaman-ancaman sehingga mereka jera dari kemaksiatan dan bertaubat dari kejahatan. Akan tetapi mereka tidaklah dibenci dengan kebencian yang sepenuhnya dan berlepas diri dari mereka, sebagaimana dikatakan oleh kelompok khawarij dalam hal orang yang melakukan dosa besar, yang tidak sama dengan perbuatan syirik. Mereka juga tidak dicintai dan diberi kesetiaan penuh sebagaimana yang dikatakan oleh kelompok murji’ah, tetapi hendaknya adil dalam menyikapi keadaan mereka, sebagaimana yang dijelaskan dalam mazhab Ahlussunnah wal jama’ah([1]).

Suatu kecintaan yang didasarkan karena Allah, dan kebencian karena Allah adalah tali yang sangat kuat dalam keimanan, dan seseorang akan berada bersama dengan orang yang dicintainya di hari kiamat. Demikian di jelaskan dalam sebuah hadits.

Situasi dan keadaan telah berubah, kini kebanyakan manusia setia dan memusuhi karena urusan dunia. Mereka berwala’ terhadap orang yang memiliki kekuasaan, kenikmatan dunia meskipun orang tersebut adalah musuh Allah, Rasul dan agama Islam. Sedang orang yang tidak memiliki nasib baik, mereka memusuhinya, meski orang tersebut adalah wali Allah dan setia terhadap Rasul-Nya, bahkan dikarenakan sebab yang sepele mereka mengucilkan dan menghinakannya.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, berwala’ karena Allah dan memusuhi karena Allah, (maka ketahuilah) bahwasanya perwalian Allah itu hanya bisa dicapai dengan amalan. Dan umumnya manusia mengikat tali persaudaraan karena perkara dunia. Yang demikian itu tidaklah mendatangkan suatu manfa'at sedikitpun bagi pelakunya.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesunguhnya Allah –subhaanahu wa ta’ala- berfirman: "Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka sungguh Aku telah mengumumkan perang padanya.” (HR. Al-Bukhari).

Orang yang paling memusuhi Allah adalah orang yang memusuhi sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencela dan merendahkan martabat mereka, padahal Rasulullah r telah bersabda:

 “Takutlah kepada Allah, Takutlah kepada Allah, terhadap kehormatan sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (cemoohan dan ejekan), barangsiapa menyakiti mereka maka sungguh dia telah menyakiti aku, dan barangsiapa menyakiti aku maka sungguh ia telah menyakiti Allah, dan barangsiapa yang telah menyakiti Allah dikhawatirkan Allah akan menyiksanya.”

Sikap mengejek dan memusuhi sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kini telah menjadi agama dan aqidah sebagian golongan dan kelompok sesat.

Kita berlindung kepada Allah –subhaanahu wa ta’ala- dari kemurkaan-Nya dan pedih siksaan-Nya. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah ke atas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat dan orang-orang  yang mengikutinya dengan baik hingga hari kemudian.

[1]. Khawarij: menganggap orang yang melakukan dosa besar  kafir. Murji’ah : selagi iman masih ada, dosa besar tidak masalah. Ahlus sunnah : Mu'min yang berbuat dosa adalah mu'min yang kurang imannya.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...