Ads 468x60px

.

Senin, 27 Juni 2011

Ikrooh (paksaan) Bagian 1

بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh : Syaikh ‘Abdul Qoodir Bin ‘Abdul ‘Aziiz
Judul : Status Pendukung Para Thoghut
HAL: 85-93

Masalah : Hal-hal yang secara syar’i  dianggap sebagai penghalang untuk mengkafirkan orang yang melakukan kekafiran (mawaani’ut takfiir).


QS.AN NAHL:106-107

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.


ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.

________________________________________________________
 Ikrooh (paksaan)

Di sini ada beberapa permasalahan : Yaitu definisi ikrooh, syarat-ayarat diterimanya ikrooh dan batasannya, dan penjelasan tentang tidak terpenuhinya syarat-syarat tersebut pada diri para pendukung orang-orang murtad.

  • A.Definisi ikrooh : Definisi yang paling simpel adalah yang disebutkan oleh Ibnu Hajar ra “Yaitu mengharuskan orang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan” (Fat-hul BaariyXIV : 311)

  • B.Syarat-syarat diterimanya ikrooh. Ibnu Hajar ra berkata : Syarat-syarat ikrooh ada 4 :

Pertama: Hendaknya orang yang melakukan ikrooh tersebut mampu untuk melakukan yang dia      ancamkan, dan orang yang disuruh tidak mampu melawan walaupun dengan melarikan diri.

Kedua: Ia yakin seandainya jika ia tidak mau melaksanakan perintahnya orang yang mengancam      itu akan melakukan ancamannya.

Ketiga : Ancamannya itu akan dilakukan segera. Sehingga kalu dia mengetahui kalau kamu tidak berbuat begini kamu akan aku pukul besok, hal ini tidak dianggap sebagai ikrooh, kecuali jika waktunya sangat dekat sekali atau menurut kebiasaan ia tidak akan bohong.

Keempat : Ia tidak menunjukkan adanya pilihan lain bagi orang yang disuruh. (Fat-hul Baariy XII / 311) Dalam perkataaannya ini Ibnu Hajar rh, tidak menyebutkan bentuk ancaman yang dianggap sebagai ikrooh, akan tetapi ia menyebutkan setelah itu, sehingga selayaknya menjadi syarat yang kelima.

Kelima: bentuk ancaman atau disebut dengan “batasan ikrooh”. Ibnu Hajar berkata: “Dan para Ulama berselisih pendapat tentang bentuk ancaman yang dianggap sebagai ikrooh. Mereka sepakat pembunuhan, pemotongan anggota badan, pukulan yang keras dan kurungan yang lama. Dan mereka berselisih pendapat pada pukulan ringan dan kurungan sebentar sehari atau dua hari.” Ia juga berkata: “Para Ulama berselisih pendapat tentang  batsan ikrooh. ‘Abad bin Humaid meriwayatkan dalam hadits shohih bahwa ‘Umar berkata: Seseorang itu dirinya tidak aman apabila dikurung atau diikat atau disiksa. Dan juga riwayat yang serupa dari jalur Syuroih dengan tambahan lafadz-lafadz: 4 macam semuanya adalah ikrooh: kurungan, pukulan, ancaman dan ikat.” Dan diriwayatkan Ibnu Mas’uud berkata: Tidaklah satu ucapan pun yang dapat menghindarkan dari dua kali cambukan kecuali aku akan mengucapkannya.”Dan inilah pendapat jumhuur (mayoritas Ulama).” (Fat-hul Baariy XII/312 dan 314).


  • Beberapa bentuk ikrooh tersebut yang merupakan batasan ikrooh ini dibagi oleh kalangan madzhab-madzhab Hanafiy menjadi dua bagian :


Pertama  : Ikrooh Mulji’ (paksaan yang sempurna) : yaitu dengan cara mengancam untuk membunuh atau memotong atau memukul yang dikhawatirkan akan menghilangkan nyawa atau anggota tubuh.

Kedua: Ikrooh ghoiru mulji’ (paksaan yang kurang): Yaitu selain kurungan dan ikatan dan pukulan yang tidak dikhawatirkan akan membikin cacat. (Badaa-i’u Ash Shonaa-i’ karangan Al Kasaaniy IX/4479).

Dan menurut pendapat jumhuur (mayoritas) ulama bahwa yang diberi rukhshoh (keringanan) untuk melakukan kekafiran hanya diperbolehkan dengan Ikrooh mulji’. Ini adalah pendapat Hanafiy, Maalikiy dan Hambaliy. Sedangkan Asy Syaafi’iy berkata: sesungguhnya kurungan, daan ikatan itu ikrooh untuk berbuat murtad. Pendapat madzhab Hanafiy daklam buku Badaa-i’u Ash Shonaa-i’ IX /4493 dan pendapat madzhab Maalikiy dalam buku Asy Syarhush Shoghiir II/ 548-549 dan pendapat madzbah Hambaliy dalam buku Al Mughniy Ma’asy Syarhil Kabiir X/107-109 dan pendapat madzhab  Syaafi’iy buku Majmuu’ XVIII / 6-7. Dan semuanya sepakat bahwa orang yang dipaksa lalu dia memilih dibunuh maka pahalanya disis Alloh lebih besar dari pada orang yang memilih rukhshoh (keringanan). Ini adalah perkataan Ibnu Bathool didalam Fat-hul Baariy XII / 317 Al Qurthubiy juga menyatakan ijma’ dalam masalah ini dalam tafsirnya X / 188.

Dalam menentukan  mana yang lebih kuat (tarjiih) antara dua pendapat yang berbeda tentang batasan ikrooh untuk melakukan kekafiran ini, Ibnu Taimiyyah memilih pendapat jumhuur (mayoritas ‘Ulama), dan ini merupakan pendapat madzhab Hambaliy, ia mengatakan: “Saya telah perhatikan madzhab (Hambaliy) lalu saya dapatkan bahwa ikrooh (paksaan) itu berbeda-beda tergantung apa yang dipaksakan untuk dilakukan. Sehingga ikrooh yang diterima untuk mengucapkan kata-kata kafir tidak sama dengan ikrooh yang diterima untuk melakukan hisbah (pembenaran) dan yang serupa dengannya. Karena sesungguhnya Ahmad telah menyatakan pada lebih dari satu tempat bahwa ikrooh untuk berbuat kekafiran itu tidak bisa diterima kecuali berupa siksaan seperti pukulan dan belenggu. Dan paksaan yang berupa ucapan itu tidak dianggap sebagai ikrooh”. (Ad Difaa ‘An Ahlis Sunnah Wal Ittibaa’, karangan Hamad bin ‘Atiiq hal. 32 dan Majmuu’atut Tauhiid hal. 419 dalam risalah ke 13 karangan Hamad bin ‘Atiiq juga).

Yang dijadikan hujjah oleh jumhuur adalah asbaabun nuzuul (sebab turunnya ayat). Yaitu sesungguhnya ‘Ammaar bin Yaasir tidak mengucapkan kata-kata kafir sampai dia disiksa olth orang-orang musyrik. Dan sudah masyhur bahwa ini merupakan sebab turunnya ayat:

مَن كَفَرَ بِاللهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ

“Barangsiapa yang kafir kepada Alloh setelah dia beriman kecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tetap tenang dengan iman” (QS.An Nahl:106).

Ibnu Hajar berkata: “Yang masyhur bahwa ayat tersebut turun mengenai peristiwa ‘Ammaar bin Yaasir, sebagaimana diriwayatkan melalui jalur Abu ‘Ubaidah bin Muhammad bin Ammaar bin Yaasir, ia berkata: “Orang-orang musyrik mengambil Ammar bin Yasir lalu menyiksanya sampai dia mengatakan sebagian apa yang mereka inginkan. Maka dia mengadukan hal itu kepada Nabi صلى الله عليه وسلمmaka beliau bersabda:

كيف تجد قلبك

“Bagaimana hatimu?”

Maka dia menjawab: “Hatiku tetap tenang dengan iman.” Maka Rosululloh bersabda:

فإن عادوا فعد

“Jika mereka mengulangi maka ulangilah”.

Hadits ini mursal dan para rowinya tsiqqoot (terpercaya). Diriwayatkan oleh Ath Thobariy dan sebelumnya diriwayatkan oleh ‘Abdur Rozzaaq dan ‘Abad bin Hamid meriwayatkan darinya.” (Fat-hul Baariy XII/312). Dan Al Bukhooriy rh mengisyaratkan --- sebagaimana kebiasaan dia memberi isyarat --- batasan ikrooh yang dapat memberi rukhshoh (keringanan) untuk berbuat kekafiran, yaitu dalam bab “Orang Yang Memilih Dipukul, Dibunuh Dan Dihinakan Daripada Berbuat Kekafiran”. Dalam Shohiih Al Bukhooriy, Kitaabul Ikrooh.

  • Dan dia menyebutkan 3 hadits:

1.Yang pertama hadits Anas secara marfuu’  :

ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان – ومنها – وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار

“3 hal yang apabila ada pada diri seseorang ia mendapatkan manisnya iman --- diantaranya adalah --- hendaknya dia tidak suka untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke dalam naar (Neraka).

Hadits ini mengisyaratkan bahwa kembali kepada kekafiran itu setara dengan masuk naar (Neraka) yang berarti kebinasaan sehingga tidak diberi rukhshoh untuk melakukan kekafiran kecuali ketika dikhawatirkan akan celaka dan hilangnya nyawa, dan ini adalah pendapat jumhuur (mayoritas ulama).

2.Dan hadits yang kedua hadits dari Sa’iid bin Zaid, ia mengatakan:
لقد رأيتُني وإن عمر موثقي على الإسلام

“Dahulu saya pernah diikat oleh Umar karena saya masuk Islam”.

Hadits ini menerangkan bahwa ‘Umar Ibnul Khoththob --- sebelum masuk Islam --- mengikat Sa’iid bin Zaid supaya dia murtad dari Islam namun ikatan itu tidak memberikan rukhshoh kepadanya untuk murtad. Dan isyarat hadits ini merupakan bantahan terhadap madzhab Syaafi’iy yang mengatakan bahwa kurungan dan ikatan itu merupakan ikrooh yang diterima untuk murtad.

3.Kemudian Al Bukhooriy menyebutkan hadits Khobab secara marfuu’:
قد كان من قبلكم يؤخذ الرجل فيحفر له في الأرض فيجعل فيها، فيجاء بالمنشار فيوضع على رأسه فيجعل نصفين، و يمشط بأمشاط الحديد من دون لحمه وعظمه، فما يصده ذلك عن دينه

“Dahulu orang-orang sebelum kalian seseorang ditangkap lalu ditanam ke dalam tanah. Lalu diambil gergaji kemudian ditaruh di atas kepalanya sehingga dia terbelah dua, dan ada yang disisir dengan sisir besi yang menyisir antara daging dan tulangnya, namun itu semua tidak memalingkannya dari diinnya”. (Al-Hadits).

Dan dalam hadits ini Rosululloh صلى الله عليه وسلم memuji orang-orang yang memilih dibunuh dan disiksa daripada berbuat kekafiran, dan beliau memuji mereka. Dengan hadits ini Al Bukhooriy mengisyaratkan dalil yang sesuai dengan ijma’ bahwa orang yang memilih dibunuh daripada berbuat kekafiran itu lebih besar pahalanya. Tiga hadits tersebut nomernya adalah: 6941, 6942, 6943.

Demikianlah pembahasan yang berkaitan dengan syarat-syarat ikrooh yang bisa diterima dan batasannya yang dapat memberikan rukhshoh untuk berbuat kekafiran.

Bersambung :

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...