Ads 468x60px

.

Senin, 27 Juni 2011

Ikrooh (paksaan) Bagian 2 -selesai-

بسم الله الرحمن الرحيم

  • C.Penjelasan bahwa para pendukung pemerintah murtad itu tidak memenuhi syarat-syarat ikrooh yang bisa diterima; dan dalam hal ini ada 4 permasalahan:


Pertama: Penjelasan bahwa para pendukung pemerintah murtad itu tidak memenuhi syarat-syarat ikrooh yang bisa diterima; karena diantara syarat ikrooh iru ---sebagaimana yang telah saya nukil--- ia tidak menunjukkan adanya pilihan lain bagi orang yang disuruh. Hal itu karena ikrooh itu dianggap sebagai penghalang yang syah untuk menjatuhkan hukum atau hukuman karena merusak pilihan. Jika pada mukallaf itu ada hal-hal yang menunjukkan bahwa dia melakukannya atas dasar kemauannya, meskipun hanya terdapat pada satu sisi. Dan kalau kita praktekkan syarat ini kepada para pendukung penguasa murtad, kita dapatkan mereka melakukan perbuatan mereka itu atas keinginan mereka. Berikut ini golongan-golongan mereka :


Orang-orang yang membla dengan ucapan: Seperti sebagian ‘ulama suu’, wartwan dan penyiar berita. Mereka mengucapkan perkataan mereka atas dasar kemauan mereka sendiri dan mereka ingin mendapatkan kedudukan dan harta.

Meskipun mereka mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu batil, maka mereka adalah termasuk orang yang kafir berdasarkan kemauan mereka tanpa ada ikrooh (paksaan) yang Alloh katakan dalam firman-Nya :


مَن كَفَرَ بِاللهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمُُ  ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى اْلأَخِرَةِ وَأَنَّ اللهَ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

….Akan tetapi orang yang lapang dadanya untuk berbuat kekafiran, maka murka Alloh yang mereka dapatkan dan bagi mereka adalah siksa yang besar. Yang demikian itu disebabkan sesungguhnya mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada akhirat dan sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (QS. An-Nahl : 106-107).


Dengan demikian yang mendorong mereka melakukan perbuatan mereka itu adalah cinta dunia, bukan ikrooh (paksaan). Adapun orang-orang yang membela dengan perbuatan itu ada 2 macam :


yang pertama: Adalah orang yang mendaftar menjadi tentara bagi penguasa murtad atas dasar kemauannya. Seperti para perwira yang sekolah diakademi-akademi militer atas dasar kemauan mereka. Dan seperti tentara sukarelawan. Orang-orang seperti mereka ini melakukan perbuatan mereka tersebut. Atas dasar kemauan mereka. Maka tidak ada ikrooh pada orang semacam mereka ini.


yang kedua: adalah  orang yang mendaftarkan diri sebagai tentara bagi penguasa yang murtad karena wajib militer dan --- ini terjadi di beberapa negara saja dan tidak disemua negara --- artinya dia diwajibkan untuk mendftar dan seandainya dia tidak mau maka dia akan diancam dunianya dari berbagai sisi seperti dilarang menjadi pegawai negeri, dilarang bepergian, dan diancam dengan hukuman penjara. Dan ancaman-ancaman semacam ini tidak sampai batas ikrooh mulji’ yang diberikan rukhshoh untuk melakukan kekafiran, yaitu dengan masuk tentara penguasa murtad. Dengan demikian maka tidak ada ikrooh yang bisa diterima pada orang-orang semacam mereka ini.


Dan macam tentara tersebut pulang pergi dari kesatuannya atas dasar kemauannya. Dan masing-masing kelompok tentara diatas seandainya ada yang memperlihatkan ketaatannya dalam menjalankan diinnya sebelum dia menjadi tentara --- khususnya kalau dia pernah dipenjara lantaran ketaatannya dalam menjalankan diin --- tentu dia dilarang untuk bekerja menjadi anggota pasukan demi menjaga system keamanan menurut istilah para thoghut tersebut. Dan kedua macam tentara tersebut masing-masing jika menampakkan ketaatannya dalam menjalankan diin ketika dia bekerja sebagai tentara pasti dia dijauhkan dari pekerjaannya. Dan jika dia memanjangkan jenggotnya --- di beberapa negara --- sedangkan dia berada di tengah-tengah pasukan murtad pasti dia dihukum dengan kurungan kemudian dipecat dari tentara. Semua ini menunjukkan bahwa pada orang-orang semacam mereka ini tidak ada ikrooh yang dapat diterima dan bahwa semua orang yang bekerja sebagai tentara penguasa murtad sesungguhnya dia bekerja atas dasar kemauannya atau karena dial alai dan berpaling dari diinnya, dan dia tidak memperhatikannya sama sekali. Inilah pembahasan yang menjelaskan bahwa para pendukung penguasa murtad itu tidak memenuhi syarat-syarat ikrooh yang bisa diterima.


Kedua: Penjelasan bahwa seandainya ada ikrooh yang bisa diterima sesungguhnya hal itu tidak memberikan rukhshoh (keringanan) kepadanya untuk membunuh dan memerangi kaum muslimin. Dan ini adalah ijma’ Ibnu Rojab Al Hambaliy rh berkata: “Para ulama telah bersepakat seandainya ada orang yang dipaksa untuk membunuh orang yang ma’shuum (nyawanya dilindungi oleh syariat) maka orang tersebut tidak boleh melakukannya. Karena sesungguhnya dia membunuh orang tersebut atas dasar kemauannya untuk menebus dirinya dari kematian. Ini merupakan ijma’ para ulama yang bisa dipercaya”. (Jaami’ul Uluum wal Hikam, hal. 329). Dan sebelum dia Al Qurthubiy telah menyatakan ijma’ (Tafsiir Al Qurthubiy X/183) dan Ibnu Taimiyyah (Majmuu’ Fataawaa XXVIII/539). Ijma’ ini juga dinyatakan oleh Abu Ishaaq Asy Syairoziy (Fat-hul Baariy XII/312) dan ‘Izzud Diin bin ‘Abdis Salaam (Qowaa’idul Ahkaam I/79) dan banyak lagi yang lainnya.


Maka ikrooh itu meskipun syarat-syaratnya telah terpenuhi sesungguhnya tidak diberikan rukhshoh (keringanan) untuk membunuh atau memerangi orang-orang Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh para pendukung pemerintah murtad tersebut dan tentara-tentaranya. Bahkan seharusnya yang mereka perbuat memang mereka Islam sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah. Bahkan Nabi SAW telah memerintahkan orang yang dipaksa untuk berperang pada saat terjadi fitnah (tidak jelas mana yang benar dan mana yang salah) agar dia mematahkan pedangnya dan dia tidak boleh ikut berperang meskipun dia dibunuh, sebagaimana yang terdapat dalam Shohiih Muslim yang diriwayatkan dari Abu Bakrah --- Lalu ia menyebutkan hadits tersebut kemudian dia berkata --- maksudnya adalah apabila dia dipaksa untuk berperang ketika terjadi fitnah (tidak jelas mana yang salah dan mana yang benar) maka dia tidak boleh ikut berperang akan tetapi dia harus merusak senjatanya, dan bersabar sampai dia terbunuh secara terdholimi. Lalu bagaimana apabila dia dipaksa untuk memerangi kaum muslimin bersama kelompok yang keluar dari syariat Islam, seperti orang-orang yang tidak mau membayar zakat, orang-orang murtad dan orang-orang yang serupa dengan mereka, tidak diragukan lagi apabila dia dipaksa untuk berperang, dia wajib untuk berperang meskipun kaum muslimin membunuhnya.” (Majmuu’ Fataawaa XXVIII/538-539).


Ketiga: Penjelasan bahwa jika ikrooh yang bisa diterimapun ada maka ini tidak bisa menghalangi untuk menghukumi mereka sebagai orang kafir.

Sebagaimana penjelasan yang lalu bahwa orang-orang mumtani’ itu dihukumi tanpa dengan “istitaabah”, dan ini merupakan ijma’ sahabat. Dalil yang lain adalah hadits Al Abbaas. Rosululloh memberlakukan hukum-hukum kafir terhadapnya karena dia berada di barisan orang-orang musyrik pada waktu perang Badar, meskipun dia mengaku Islam dan dipaksa (mukroh). Dan hadits ini telah kami sebutkan.


Keempat: Penjelasan bahwa jika ikrooh yang bisa diterimapun ada ini tidak bisa menjadi penghalang untuk membunuh dan memerangi mereka.

Hal ini karena secara hukum mereka adalah orang-orang kafir, padahal orang kafir itu boleh dibunuh dan diperangi, meskipun dia melakukannya karena dipaksa dan secara batin dia sebagai orang Islam. Dan dalilnya adalah apa yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah ketika membahas perang melawan Tartar yang keluar dari syariat Islam padahal mereka mengaku Islam. Ibnu Taimiyyah rh berkata: “Barang siapa yang dipaksa mereka untuk berperang maka dia akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya, sedangkan kita wajib untuk memerangi seluruh pasukan karena tidak bisa dibedakan antara yang dipaksa dan yang tidak.

Dan disebutkan dalam hadits shohih bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

يغزو هذا البيت جيش من الناس, فبينما هم ببيداء إذ خسف بهم. فقيل: يا رسول الله إن فيهم المكرَه فقال: يبعثون على نياتهم.

“Akan ada sebuah pasukan yang menyerang Ka’bah, namun ketika mereka sampai ke sebuah padang sahara, mereka ditenggelamkan ke dalam bumi”. Lalu ada yang bertanya: “Wahai Rosululloh, bagaimana kalau diantara mereka ada yang ikut karena dipaksa? Beliau menjawab: “Mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya”.

Hadits ini terkenal diriwayatkan dari Nabi صلى الله عليه وسلم dari banyak jalur dan para penulis kitab Shohih meriwayatkannya dari ‘Aa-isyah, Hafshoh dan Ummu Salamah --- kemudian Ibnu Taimiyyah menyebutkan riwayat-riwayat lain tentang hadits yang sama kemudian berkata: “--- maka Alloh Ta’aalaa membinasakan pasukan yang hendak melecehkan kehormatanNya --- baik yang dipaksa atau yang tidak --- padahal Alloh mampu untuk membedakan mereka, namun mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka masing-masing. Lalu bagaimana mungkin para mujahidin wajib untuk membedakan antara yang dipaksa dan yang tidak sedangkan mereka tidak tahu..? Bahkan seandainya ada yang mengaku bahwa dia ikut berperang itu karena dipaksa, maka sekedar pengakuannya itu tidak berguna baginya.

Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Al Abbaas bin Abdul Mutholib, mengatakan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم ketika ia ditawan oleh kaum muslimin pada waktu Perang Badar: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya saya ini dipaksa!”

Maka Rosululloh صلى الله عليه وسلم bersabda:

أما ظاهرك فكان علينا، وأما سريرتك فإلى الله

“Secara dhohir kamu memerangi kami dan adapun secara batin terserah Alloh”.

Bahkan seandainya diantara mereka ada orang-orang sholih dan sebaik-baik manusia, sedangkan tidak mungkin memerangi pasukan tersebut kecuali dengan membunuh mereka, tentu mereka juga dibunuh. Karena sesungguhnya para imam bersepakat bahwa seandainya orang-orang kafir menjadikan orang-orang Islam sebagai tameng (tatarrus), dan dikhawatirkan kaum muslimin akan hancur jika tidak berperang, maka kita boleh memanah mereka dengan tujuan untuk memanah orang kafir. Dan seandainya tidak dikhawatirkan kaum muslimin akan hancur, juga diperbolehkan memanah orang-orang Islam tersebut. Menurut salah satu dari dua pendapat ulama. Dan barangsiapa yang terbunuh karena untuk kepentingan jihad yang diperintahkan oleh Alloh dan RosulNya --- sedangkan sebenarnya dia terdholimi --- maka dia syahid, dan dia akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya. Dan terbunuhnya dia tidak lebih merugikan daripada terbunuhnya mujahidin.

Apabila jihad itu wajib meskipun kaum muslimin ada yang terbunuh sesuai dengan kehendak Alloh, maka membunuh orang Islam yang berada di barisan mereka (musuh) tidak lebih berat dari pada ini.” (Majmuu’ Fataawaa XXVIII/535-538) dan beliau ulang pada hal. 546-547.

Inilah pembahasan mengenai ikrooh. Maka barang siapa yang mengetahui ada ikrooh yang bisa diterima --- yaitu ikrooh mulji’ --- pada salah seorang anggota tentara murtad itu, maka dia menyikapinya sebagai orang muslim. Namun hal ini tidak menghalangi kita untuk menghukuminya sebagai orang kafir secara hukum selama dia berada di barisan musuh.

Inilah penghalang-penghalang syar’iy yang paling penting yang apabila terdapat pada sebagaian tentara murtad itu akan dapat menjadi penghalang untuk dihukum kafir secara batinnya bagi orang yang bisa meneliti hal itu pada mereka karena mempunyai hubungan pribadi. Namun secara hukum mereka semua adalah orang-orang kafir secara ta’yiin sebagaimana yang telah kita tetapkan sebelumnya.


SEMOGA BERMANFAAT
barakallaahu fiykum

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...