Ads 468x60px

.

Rabu, 01 Juni 2011

KUFUR KEPADA THOGHUT



بسم الله الرحمن الرحيم
Oleh : Abu Abdurrahman Al-Atsari رِحمه الله.

1. Urgensi Kafir Kepada Thoghut

Syaikh Sulaiman bin Sahman رِحمه الله berkata :


"Allah سبحنحا و تعال menjelaskan bahwa orang yang berpegang teguh dengan tali keimanan yang kuat adalah orang yang kafir kepada thoghut. Dia mendahulukan kafir kepada thoghut sebelum iman kepada Allah سبحنحا و تعال, karena terkadang seseorang mengaku dirinya beriman kepada Allah سبحنحا و تعال, namun dia tidak menjauhi thoghut, sehingga pengakuannya itu dusta belaka. Allah سبحنحا و تعال berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

'Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu'. (QS. An-Nahl [16] : 36)

Dia memberitahukan bahwa seluruh Rasul telah diutus untuk menjauhi thoghut, maka barangsiapa yang tidak menjauhi thoghut, berarti dia menyelisihi Rasul-Nya". (Ad Duror As Saniyyah : 10/502).


Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy Syaikh رِحمه الله berkata :

"Tauhid adalah kafir kepada thoghut yang disembah selain Allah سبحنحا و تعال. Tauhid merupakan pondasi iman yang dapat memperbaiki seluruh amal. Sebaliknya, tanpa tauhid akan rusak amalan tersebut". (Fathul Majid, Syaroh Kitab Tauhid : 393-394)


Beliau berkata lagi :

"Allah سبحنحا و تعال berfirman,

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا

'Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus'. (QS. Al-Baqoroh [2] : 256)

Ayat ini menunjukkan bahwa tidak mungkin seorang hamba akan berpegang teguh dengan kalimat لا إله إلاَّ الله kecuali jika dia kafir kepada thoghut, itulah tali yang kuat yang tidak akan putus. Barangsiapa yang tidak meyakininya, maka dia bukanlah seorang muslim, sebab dia belum berpegang teguh kepada kalimat لا إله إلاَّ الله. Maka hayati dan yakinilah apa yang dapat menyelamatkanmu dari siksa Allah سبحنحا و تعال, yaitu merealisasikan makna لا إله إلاَّ الله, dengan nafyu (peniadaan) dan itsbat (penetapan)". (Ad Duror As Saniyyah : 11/263)


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رِحمه الله berkata :

"Bahkan tidak sah agama Islam itu tanpa ada sikap berlepas diri dari mereka -yaitu thoghut yang menjadi sesembahan selain Allah سبحنحا و تعال- serta mengkafirkan mereka. Allah سبحنحا و تعال berfirman,

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

[Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat]". (Ad Duror As Saniyyah : 10/53)


Beliau juga menjelaskan perbedaan antara kezholiman yang besar dan kecil :

"Apa perbedaan antara kezholiman yang jika seseorang mengatakannya atau memuji thoghut atau berdebat karena mereka dapat mengeluarkan dari Islam, meskipun dia puasa dan sholat dengan kezholiman yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam, bahkan bisa jadi pelakunya mendapat hukuman qishosh atau diampuni Allah سبحنحا و تعال? Maka keduanya mempunyai perbedaan yang sangat besar". (Ad Duror As Saniyyah 10/55-56)


Beliau رِحمه الله berkata :

"Ketahuilah rohimakalloh, bahwa pertama kali yang diwajibkan Allah سبحنحا و تعال  kepada anak Adam adalah kafir kepada thoghut dan beriman kepada Allah سبحنحا و تعال. Dalilnya adalah firman Allah سبحنحا و تعال,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

'Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu'. (QS. An-Nahl [16] : 36)". (Ad Duror As Saniyyah : 1/161)


Beliau رِحمه الله berkata di dalam Kitab Tauhid :

"Masalah ketujuh adalah masalah yang sangat besar, ibadah kepada Allah سبحنحا و تعال tidak dapat terwujud tanpa mengkufuri thoghut". (Fathul Majid : 39)


Syaikh Sulaiman bin Abdullah رِحمه الله berkata :

"Makna tauhid dan syahadat لا إله إلاَّ الله adalah tidak ada yang disembah kecuali Allah سبحنحا و تعال, tidak meyakini datangnya manfaat dan madhorot kecuali dari Allah سبحنحا و تعال, mengkufuri sesembahan selain Allah, serta berlepas diri dari sesembahan itu dan dari penyembahnya". (Taisir Al 'Aziz Al Hamid : 152)


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam Kitab Tauhid :

"Ini adalah makna yang paling agung dari makna لا إله إلاَّ الله, sebab melafalkan dan mengetahui kalimat ini tidak dapat melindungi darah dan harta, hingga kalimat itu diiringi dengan kufur terhadap semua sesembahan selain Allah سبحنحا و تعال. Seandainya dia ragu dan bimbang, maka halal-lah harta dan darahnya". (Kitab Tauhid)



2. Makna Thoghut


Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Abu Bathin رِحمه الله berkata :

"Nama thoghut mencakup semua sesembahan selain Allah سبحنحا و تعال dan semua pemimpin kesesatan yang mengajak kepada kebathilan dan memandang baik kebathilan itu. Istilah itu mencakup pula siapa saja yang diberi kedudukan oleh manusia untuk menegakkan hukum di antara mereka dengan hukum jahiliyyah yang bertolak belakang dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. Mencakup pula dukun, tukang sihir, patung-patung perantara ibadah para penyembah kubur serta selain mereka yang berdusta dengan berbagai cerita yang menyesatkan orang-orang bodoh, yang menipu bahwa mayat dalam kubur mampu memenuhi kebutuhan orang yang menghadap dan meminta kepadanya, mampu melakukan begini dan begini. Padahal itu adalah dusta, atau perbuatan syaithon untuk mengaburkan manusia bahwa sang mayat dapat mengabulkan permohonan orang yang minta kepadanya. Sehingga mereka terjerumus ke dalam kesyirikan besar serta segala yang menyertainya. Dari itu semua yang paling besar adalah syaithon selaku thoghut yang paling besar". (Majmu'ah At-Tauhid : 138)


Syaikh Sulaiman bin Abdullah رِحمه الله berkata :

"Mujahid berkata, 'Thoghut adalah syaithon berwujud manusia, yang manusia berhukum kepadanya sedang ia menjadi pemimpin mereka'.

Ibnul Qoyyim berkata, 'Thoghut adalah hamba yang melampaui batas hingga disembah, diikuti, atau ditaati. Thoghut adalah seseorang yang dijadikan sandaran hukum bagi hukum selain Allah dan Rasul-Nya, mereka menyembahnya dan mengikutinya tanpa ilmu dari Allah سبحنحا و تعال, atau mentaatinya tanpa mengetahui bahwa ketaatan itu hanyalah milik Allah سبحنحا و تعال. Inilah thoghut dunia, jika kamu perhatikan keadaan mereka dan para pengikut mereka, kamu akan melihat kebanyakan mereka adalah orang-orang yang berpaling dari ibadah kepada Allah سبحنحا و تعال menuju ibadah kepada thoghut. Mereka berpaling dari ketaatan dan ittiba' kepada Rasul menuju ketaatan kepada thoghut dan mengikutinya'. ". (Taisir Al 'Aziz Al Hamid : 49-50)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رِحمه الله berkata :

"Thoghut itu banyak macamnya, sedangkan pentolan mereka ada lima.

Pertama : Syaithon, sang penyeru ibadaha kepada selain Allah سبحنحا و تعال. Dalilnya adalah firman Allah,

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَابَنِي ءَادَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

'Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu'. (QS. Yaasiin [36] : 60)


Kedua : Hakim yang tidak adil, yang mengubah hukum-hukum Allah سبحنحا و تعال. Firman-Nya,


أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ ءَامَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

'Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya'. (QS. An-Nisaa' [4] : 60)

Ketiga : Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah سبحنحا و تعال. Firman-Nya,

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

'Dan barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir'. (QS. Al-Ma'idah [5] : 44)

Keempat : Orang yang mengaku mengetahui hal ghoib selain Allah سبحنحا و تعال. Dalilnya firman Allah سبحنحا و تعال,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

'(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya'. (QS. Al-Jin [72] : 26-27)

Allah سبحنحا و تعال berfirman,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

'Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)'. (QS. Al-An'am [6] : 59)

Kelima : Sesuatu yang disembah selain Allah سبحنحا و تعال, sedang dia ridho akan hal itu. Allah سبحنحا و تعال berfirman,

وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

'Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan, 'Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah', maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim'. (QS. Al-Anbiyaa' [21] : 29)

Ketahuilah bahwa manusia tidak akan beriman kepada Allah سبحنحا و تعال, kecuali setelah dia kufur terhadap thoghut". (Ad Duror As Saniyyah : 1/161-163)



3. Makna Kafir Kepada Thoghut


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رِحمه الله berkata :

"Makna kafir kepada thoghut adalah berlepas diri dari seluruh apa yang diyakini selain Allah سبحنحا و تعال, baik berupa jin, manusia, pohon, batu, atau sesuatu yang lain dan bersaksi bahwa dia kafir dan sesat serta membencinya, meskipun dia adalah saudara atau bapakmu. Adapun orang yang mengucapkan, 'Saya tidak beribadah kecuali kepada Allah سبحنحا و تعال dan saya tidak menentang adanya kubah dan bangunan yang meninggi di atas kuburan serta yang semisalnya', maka dia adalah orang yang dusta ketika mengucapkan kalimat لا إله إلاَّ الله dan belum beriman kepada Allah سبحنحا و تعال serta belum kufur kepada thoghut". (Majmu'ah Ar-Rasail wal Masail An-Najidiyyah : 4/33-34)


Syaikh Sulaiman bin Sahman رِحمه الله berkata :

"Yang dimaksud menjauhi thoghut adalah membencinya, memusuhinya dengan hati, mencelanya dengan lisan, menghilangkannya dengan kekuatan ketika mampu, serta memisahkan diri darinya. Barangsiapa mengaku telah menjauhi thoghut namun tidak melakukan hal itu, berarti dia dusta". (Ad Duror As Saniyyah : 10/502-503)


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رِحمه الله berkata :

"Karakter dari kafir kepada thoghut adalah meyakini kebathilan peribadatan kepada selain Allah سبحنحا و تعال, meninggalkannya, membencinya, mengkafirkan pelakunya serta memusuhi mereka. Adapun makna beriman kepada Allah سبحنحا و تعال adalah meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya yang disembah, tidak ada yang lain, mengikhlaskan seluruh ibadah untuk Allah سبحنحا و تعال dan menafikan seluruh sesembahan selain-Nya, mencintai orang-orang yang ikhlas dan menolong mereka, membenci para pelaku syirik dan memusuhinya. Inilah syari'at Millah Ibrohim, barangsiapa membencinya, maka dirinya adalah orang yang bodoh. Inilah teladan yang telah dikabarkan oleh Allah سبحنحا و تعال,


قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ


Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja' '. (QS. Al-Mumtahanah [60] : 4)". (Ad Duror As Saniyyah : 1/161)


4. Diam Ketika Melihat Kemunkaran Padahal Mampu Mengingkarinya


Diam ketika melihat kemunkaran padahal mampu mengingkarinya, menunjukkan keridhoan terhadap kemunkaran tersebut. Maka bagaimana dengan orang yang membantu dan menolong kemunkaran?


Syaikh Abdurrahman bin Hasan رِحمه الله berkata :

"Guru kami -syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab- menyebutkan dalam Mukhtashor As-Siroh karangannya bahwa Al-Waqidi menyebutkan bahwa ketika munculnya pembangkang, Kholid bin Walid mempersiapkan 200 pasukan berkuda kemudian menangkap Majja'ah bin Muroroh bersama 13 laki-laki dari kaumnya, yakni Bani Hanifah. Kholid bertanya kepada mereka, 'Apa yang kalian katakan kepada sahabat kalian -Musailamah Al-Kadzdzab- ?'. Kemudian mereka bersaksi bahwa dia adalah utusan Allah سبحنحا و تعال. Maka Kholid memenggal leher mereka. Ketika sampai kepada giliran Sariyah bin 'Amir, dia berkata, 'Wahai Kholid, apabila engkau menginginkan kebaikan atau keburukan terhadap penduduk Yamamah, dahulukanlah Majja'ah'. Karena kemuliaannya, Majja'ah tidak dibunuh, demikian Sariyah. Lalu Kholid memerintahkan agar keduanya diikat. Lalu Kholid memanggil Majja'ah dan Sariyah dan berbincang dengannya. Majja'ah mengira bahwa Kholid akan membunuh dirinya, maka dia berkata, 'Wahai Ibnu Mughiroh, sesungguhnya aku masih memeluk Islam, demi Allah saya tidak kafir'. Lalu Kholid menjawab, 'Sesungguhnya sebelum engkau dibunuh dan tidak dibunuh ada satu tempat untukmu, yaitu penjara sampai Allah سبحنحا و تعال memutuskan perkara kita dengan keputusan-Nya'. Lalu diserahkan ia kepada Ummu Mutammim, isteri Kholid, dan berpesan agar berbuat baik kepada tawanannya. Majja'ah mengira bahwa Kholid ingin memenjarakannya untuk memberitahukan kepada musuhnya. Kemudian Majja'ah berkata, 'Wahai Kholid, engkau mengetahui bahwa aku telah datang kepada Rasulullah صلى الله علية وسلم dan membaiatnya di atas Islam, sedang hari ini aku masih sebagaimana kemarin. Adapun pendusta itu telah muncul dari kami, Allah سبحنحا و تعال telah berfirman,


وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

'Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri'.(QS. Al-An'am [6] : 164)'.

 Maka Kholid menjawab, 'Wahai Majja'ah, hari ini engkau telah meninggalkan Islam, sikap diam dan ridho mu terhadap perkara sang pendusta Musailamah -sementara engkau adalah pemimpin Yamamah- adalah sikap setuju dan ridho kepada apa yang dia bawa. Apakah kamu dapat memberikan alasan sehingga aku dapat mengatakan pada orang-orang yang membicarakanmu? Sungguh, Tsumamah dan Al-Yasykuri telah bercerita, dia menolak dan mengingkari. Jika engkau mengatakan, 'Aku mengkhawatirkan kaumku', maka kenapa engkau tidak minta bantuan kepadaku, atau engkau mengutus seorang utusan kepadaku?'.

Coba renungkan bagaimana Kholid menganggap diamnya Majja'ah adalah keridhoan dan persetujuannya dengan apa yang dibawa Musailamah! Jika demikian, di mana posisi orang-orang yang menampakkan keridhoan, menolong, membantu, dan mendukung orang-orang yang menyekutukan Allah di dalam beribadah kepada-Nya dan berbuat kerusakan di muka bumi ini? Allah-lah tempat kita meminta pertolongan". (Majmu'ah Ar Rasail wal Masail An Najdiyyah : 4/292-293)

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...