Ads 468x60px

.

Selasa, 21 Juni 2011

Mereka Adalah "Irhabi Takfiri Wahabi"

بسم الله الرحمن الرحيم

Teroris, Ekstrimis, Fundamentalis, dan  Tekstualis. Begitulah kata-kata yang dilukiskan oleh orang-orang non-muslim dan liberalis (baca : kafir dan zindiq) kepada para mujahidin, da’i jihad dan simpatisan mereka. Hal ini sudah menjadi sesuatu yang wajar. Sebab bukan hanya kepada mereka yang menyeru ke thaifah manshurah saja para non-muslim ini mengejek dan menjelek-jelekkan. Seringkali mereka juga menyerang kelompok islam “moderat” dengan julukan-julukan sesuka mereka.


Ejekan para liberalis ini sekali lagi merupakan hal yang wajar bagi mujahidin. Namun hal yang lebih parah adalah banyak bagian dari kaum muslimin yang sering dijuluki harokiyyun, ikhwaniyyun, atau mungkin wahabiyyun juga ikut-ikutan melabeli pendakwah tauhid hukum dan jihad dengan label-label yang buruk namun lebih terdengar syar’i dalam dunia Islam. Tuduhan-tuduhan ini sangat aneh, sebab para pendakwah tauhid dan jihad di masa ini sebenarnya berangkat dari pelajaran pokok para syaikh (guru besar) penuduh-penuduh ini. Dengan istilah yang lebih terdengar islami, pendakwah tauhid dan jihad seringkali dituding sebagai takfiri, khawarij, ahlul baghyi, atau istilah lain yang penggunaannya sering terdengar dari mulut para ulama.


Sejarah Tuduhan-tuduhan

Sebenarnya bukan hal yang aneh jika para pejuang kebenaran yang menempuh jalan yang berat dalam perjuangan mereka selalu dituding sebagai ekstrimis. Para Rasul yang membebaskan pengahambaan manusia terhadap manusia juga seringkali mendapat cercaan yang sama, bahkan tidak jarang mereka harus dianiaya, dikejar-kejar bahkan dibunuh dengan kejam. Sehingga merupakan hal yang enteng jika di zaman ini bentuk penolakan tersebut hanya berupa cercaan dan tuduhan.

Sejak zaman hidupnya para shahabat hingga masa kini, orang-orang yang teguh dengan kebenaran selalu mendapatkan tuduhan-tuduhan jelek. Berikut ini beberapa macam tuduhan jelek yang dilabelkan kepada pejuang kebenaran hingga masa kini :

1. Nawasib

Nawasib, bentuk jamak dari Nasib, adalah julukan yang diberikan kepada orang-orang yang berani melaknat khalifah rasyidah terakhir, yakni Imam Ali radhiyallahu anhu. Sudah pasti golongan Nawasib bukanlah bagian dari ahlussunnah. Akan tetapi oleh beberapa kalangan ahlul bid’ah seperti mayoritas kalangan syiah, memasukkan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka dalam masalah imamah sebagai Nawasib. Julukan ini sangatlah batil. Bahkan banyak shahabat Rasulullah yang berada dalam al-jamaah mendapatkan vonis ini, yang berkonsekuensi pada anggapan bahwa Nawasib lebih hina daripada kufur asli dari kalangan ahli kitab dan musyrikin.

2. Mujassimah

Julukan ini diberikan kepada orang-orang yang berani menggambarkan Allah sebagaimana makhluk. Orang-orang nasrani adalah salah satu contoh yang jelas dari golongan ini. Mereka berani menyematkan sifat-sifat makhluk kepada Allah. Akan tetapi dakwah tauhid yang bersumber dari pemahaman salaf, terutama dalam masalah asma wa shifat, seringkali dicap dengan cap seperti ini. Para Asyairah yang ekstrim dalam pemikiran mereka menjuluki ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyyim dengan gelaran batil ini karena para penganut madzhab salaf menyerahkan segala urusan asma wa shifat kepada nash yang ada. Tidak jarang para penganut manhaj falsafi ini menghina dan menjelek-jelekkan ulama yang menempuh manhaj qurani secara serampangan. Kedengkian mereka seringkali membuat mereka menolak segala buah karya ulama-ulama qurani tersebut.

3. Wahabi

Sebenarnya secara bahasa sebutan ini memiliki arti yang sangat indah. Tetapi dalam arti secara istilah, julukan ini diberikan kepada serombongan ulama Najd yang menyegarkan kembali pemikiran bertauhid masyarakat Islam pada zamannya. Golongan yang digawangi oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ini tidak pernah melabeli diri mereka dengan embel-embel yang baru. Secara pemikiran, mereka kembali kepada pemahaman salaf secara keseluruhan dan mengikuti ulama-ulama yang telah mendahului mereka seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Gelaran Wahabi ini diberikan oleh para penyembah kubur, penjajah imperialis, ahli bid’ah dan penyeru undang-undang Eropa, karena memang dakwah Najdiyah ini menyeru untuk menjauhi syirik, baik dari segi qubur maupun dustur.

4. Takfiri

Secara umum pada abad modern ini, tokoh yang dianggap bertanggung jawab dalam konsep takfir adalah Sayyid Quthb. Beliau dan orang-orang yang sepemahaman beranggapan bahwa setiap pemerintahan yang tidak mau menerapkan Islam dalam sistemnya adalah kufur. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Sebab takfir yang mereka dengungkan adalah sebagian dari manhaj Islam. Orang-orang yang menuduh demikian pada asalnya ingin berhati-hati dengan sikap takfir yang dilakukan oleh Khawarij pada masa dahulu. Namun lama kelamaan para penuduh menjadi bersifat anti dengan takfir, padahal takfir sendiri adalah salah satu kaidah dalam Islam, dan takfir ahlussunnah past berbeda dengan takfir Khawarij.

5. Irhabiyyun

Irhabiyyun atau Teroris adalah julukan yang kini banyak disematkan pada para mujahidin yang melawan pemerintahan kafir, atau yang menganjurkan pada hal itu. Julukan ini ternyata sudah ada semenjak perang Afghanistan di akhir 1980-an. Syaikh Abdullah Azzam pernah menyinggung hal ini dalam pidatonya, dan beliau sendiri tidak terlalu keberatan jika tuduhan ini disematkan pada mujahidin yang selalu meneror keberadaan ahlul harbi dimanapun berada.




Secara umum tanggapan para tertuduh, yakni para mujahidin dan penyeru kepadanya tidak terlalu berkeberatan dengan tuduhan-tuduhan batil yang dialamatkan kepada mereka. Bahkan dengan kondisi tertentu, mereka menerima dan setuju dengan nisbat-nisbat tersebut kepada mereka. Hal ini berbeda dengan harokah-harokah tertentu yang seringkali berkeberatan dengan tuduhan-tuduhan yang dialamatkan dari musuh-musuh Islam pada mereka.


Salah satu contohnya adalah tentang tuduhan wahabi kepada sebuah harokah politik Indonesia yang berafiliasi dengan jamaah Ikhwanul Muslimin. Khalayak yang paham dengan kondisi dakwah pasti sangat paham dengan harokah ini. Seperti yang diketahui bahwasanya tuduhan wahabi sebenarnya bukanlah tuduhan buruk. Akan tetapi jamaah ini sangat tegas menolak dikaitkan dengan perjuangan ulama-ulama najdiyah. Bahkan mereka memesan rubrik khusus dalam surat kabar nasional hanya untuk menjelaskan bahwa mereka bukanlah wahabi, dan tidak ingin dikait-kaitkan dengannya. Padahal sangat jelas bahwa banyak aktivis-aktivis jamaah ini terdidik dari ulama-ulama yang mengikuti pemahaman dakwah najdiyah. Jamaah ini seolah malu dengan cap kolot dan ekstrim dengan tuduhan wahabi tersebut.

Tuduhan dan Sedikit Jawaban



Cap teroris atau dalam bahasa arabnya adalah irhaby dapat diartikan menjadi dua maksud. Maksud yang pertama adalah bersepakat dengan musuh-musuh Islam dalam menamai mujahidin dan beranggapan bahwa keberadaan para irhabi tersebut mengganggu ketertiban dunia. Maksud-maksud yang seperti ini sebenarnya hanya akan menyenangkan musuh-musuh Islam. Kutukan-kutukan mereka kepada aksi-aksi mujahidin tidak lain hanyalah menjadi justifikasi musuh-musuh Islam dan kaum awam untuk semakin membenci mujahidin. Hal ini akan semakin para jika para penuduh tersebut turut membantu melemahkan semangat mujahidin atau bahkan membantu memburu keberadaan mujahidin. Sebab dalam hal ini telah terjadi kekacauan dalam masalah al-wala wal baro’.

Dalam kekacauan ini setidaknya diambil dua poin :

  1. Para penuduh ini sepakat dengan orang-orang kafir dan lebih memilih jalan Yahudi dan Nasrani dalam menghukumi keberadaan mujahidin. Mereka lebih membenci mujahidin dan lebih setuju dalam memberangus mereka daripada memberangus Yahudi serta Nasrani. Bagaimana mungkin mereka menghujat pejuang-pejuang Islam, padahal kedudukan orang yang berperang di dalam jalan Allah telah diterangkan dalam al-Quran :

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (QS at-Taubah : 19)

  1. Mereka-mereka yang berani mengambil resiko dalam membantu memusuhi atau bahkan menangkapi mujahidin telah dijamin statusnya dalam Islam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menerangkan bahwa salah satu pembatal keislaman adalah tolong menolong dengan orang kafir dalam memusuhi kaum muslimin. Sebagaimana diterangkan dalam al-Quran :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(QS al-Maidah : 51)

Oleh sebab itu Islam melarang keras bentuk tolong menolong, persahabatan, perwalian dan kesepakatan memerangi muslim dengan orang-orang kafir, serta menjadikannya sebagai amalan yang membatalkan iman.

Maksud yang lain adalah meyakini bahwa memang teror itu telah disyariatkan dalam Islam sebagai bagian dari jihad fii sabilillah. Sehingga memang mujahidin adalah golongan yang bersungguh-sungguh dalam menjalankan syariat tersebut. Syaikhul Mujahid Abdullah Azzam menegaskan hal ini dalam pernyatannya: “Saudara-saudara, kami ajak pemuda-pemuda Islam kembali mengikuti ajaran Muhammad SAW dan mencontohi apa yang telah beliau laksanakan. Dan kami ajak menuju kemari datang kelembah-lembah dan pegunungan ini, supaya hati mereka menjadi jernih kembali dan iman mereka bertambah mantap. Nyatakan kepada orang kafir dan salibis, bahwa kami adalah teroris, karena teror itu adalah sebuah kewajiban yang tercantum dalam Kitabullah. Dunia timur dan barat harus tahu bahwa kita adalah teroris dan ekstrim. Itu tercantum dalam surat Al-Anfal ayat 60:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

Jadi menteror musuh-musuh Allah adalah sebuah kewajiban dari Allah Subhanahu Wata’ala.”

Begitulah keberanian para pejuang Islam yang sejati. Mereka tidak ragu untuk mengakui bahwa sunnah merupakan hal yang berat dan banyak dibenci oleh orang-orang kafir. Mereka tidak takut juga dengan tuduhan berlebih-lebihan yang diberikan oleh kalangan yang mencoba menutupi kepada ummat tentang syariat-syariat berat dalam Islam. Sebagaimana Imam Syafii yang tidak taku dengan tuduhan rafidhah, begitu pula para mujahidin. Mereka tidak takut dengan tuduhan khawarij, sebab beberapa kesamaan dengan ahlul bid’ah seperti dalam masalah takfir, tidak membuat syariat tersebut serta merta terhapus.

Pada akhirnya perlu diulang-ulang dan dicamkan dalam benak setiap kaum muslimin bahwa hendaknya ummat berpandai-pandai memilih kawan dan lawan. Sebab loyalitas adalah bagian dari aqidah Islam. Barangsiapa terpeleset di dalamnya dapat pula mengeluarkan dari keimanan.


Bahan bacaan :
 
Al-Quranul Karim

Abdul Aziz, Abdul Qodir. 2001, Terorisme Dalam Timbangan Islam, tanpa kota : Maktab Nidaul Jihad
Al-Ulwan, Sulaiman bin Nashir. 2000, Penjelasan Tentang Pembatal Keislaman, Solo : At-Tibyan
At-Tinjuluni, Mukhlas. tanpa tahun, Koreksi Majalah Asy-Syariah, tanpa kota : tanpa penerbit
At-Tinjuluni, Mukhlas. tanpa tahun, Madzhab-Bermadzhab dan Wahabi, tanpa kota : tanpa penerbit
Bin Ladin, Usamah. tanpa tahun, Komando Al-Qaidah atas Perang Salib, tanpa kota : tanpa penerbit
Zain, Abdullah. 2007, Biarkan Syiah Bercerita Tentang Agamanya, Yogyakarta : Pustaka Muslim
dan dari beberapa sumber lain.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...