Ads 468x60px

.

Selasa, 26 Juli 2011

IZHHARUD DIIN (MENAMPAKKAN AGAMA), KEWAJIBAN DI TENGAH KETERASINGAN.

oleh Umar Faruq pada 25 Juli 2011 jam 14:34
 
بسم الله الر حمن الر حيم



A. Muqoddimah.


Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا فطوبى للغرباء

"Awal mula kedatangan Islam itu asing, dan akan kembali asing sebagaimana semula. Maka beruntunglah orang-orang asing".


Saudaraku, engkau semua tahu bahwa kewajiban setelah tauhid dan haramnya syirik adalah mengamalkan al-wala' wal baro'. Seperti yang diungkapkan syaikh Hamd bin 'Atiq رِحمه الله :

" Di dalam Kitabullah ini tidak ada hukum yang dalil-dalilnya lebih banyak dan lebih jelas dibanding hukum al-wala' wal baro' ini, setelah kewajiban tauhid dan haramnya kemusyrikan". (Hilyah Al-Auliya', Abu Nu'aim. Jilid 1, hal. 175)


Di antara duri-duri penghalang jalan, engkau semua akan menemukan bahwa di antara musuh-musuh tauhid ini adalah sikap keras dan ketegasan mereka dalam memusuhi kita, bahkan tak segan-segan mereka mengusir kita. Hal ini wajar! Ya, hal ini wajar! Begitu pun apa yang dialami oleh para Rasul-Rasul Allah. Mereka mengalami pengusiran oleh kaumnya.

Allah سبحنحا و تعال berfirman :

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا

''Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-Rasul mereka, 'Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami' ''. (QS. Ibrohim : 13)

Dan Allah سبحنحا و تعال menceritakan tentang kaumnya Syu'aib,

لَنُخْرِجَنَّكَ يَاشُعَيْبُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا

''Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu`aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami''. (QS. Al-A'roof : 88)



Maka aku sampaikan perkataan Al-'Allamah Ibnu Qoyyim رِحمه الله untuk kalian yang tak faham Millah ini! Beliau رِحمه الله berkata :

مَن كَان هذا القدر مبلَغ علمه فليستتر بالصمت وَالكتمان

''Barangsiapa ilmunya hanya sebatas ini, hendaklah dia menutupi dirinya dengan diam".



 B. Sebuah Tauladan, Penuh Makna.


- Tauladan Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Allah تعال berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (QS. Al-Ahzab [33] : 21)


Abdullah bin Ahmad bin Hanbal رِحمه الله mengatakan, bapakku telah bercerita kepadaku, Ya'kub berkata, bapakku telah bercerita kepadaku, dan juga Yahya bin Urwah bin Az-Zubair bercerita kepadaku, dia dari bapaknya yaitu Urwah, dia dari Abdullah bin Amr bin Al-'Ash, aku bertanya kepadanya,

ما أكثر ما رأيت قريشا أصابت من رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فيما كانت تظهره من عداوته

'Sejauh mana gangguan orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang kamu lihat?'.

Dia menjawab,

لقد رأيتهم وقد اجتمع أشرافهم يوما في الحجر ، فذكروا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقالوا : ما رأينا مثل ما صبرنا عليه من هذا الرجل قط ، سفه أحلامنا ، وشتم آباءنا ، وعاب ديننا ، وفرق جماعتنا ، وسب آلهتنا وصبرنا منه على أمر عظيم ، أو كما قالوا

''Saya pernah hadir bersama mereka ketika pembesar-pembesar mereka berkumpul di Hijr, lalu mereka membicarakan Rasulullahصلى الله عليه وسلم dan mengatakan, 'Kita sama-sekali belum pernah melihat sesuatu seperti apa yang kita sabarkan dari orang ini. Dia telah membodoh-bodohkan akal kita, mencaci bapak-bapak kita, menghina diin kita, memecah-belah persatuan kita, dan mencela ilah-ilah kita. Sungguh, kita telah bersabar terhadap permasalahan yang besar!'. Atau kata-kata semacam itu.

Ketika dalam keadaan seperti itu tiba-tiba Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang ke arah mereka dengan berjalan. Sampai beliau menyentuh rukun Ka'bah. Lalu beliau melewati mereka ketika berthowaf di Ka'bah. Maka ketika beliau melewati mereka, mereka mencibir beliau lantaran kata-kata yang beliau ucapkan. Maka saya melihat wajah beliau berubah, kemudian beliau berlalu. Lalu beliau melewati mereka yang kedua kalinya. Maka mereka mencibir beliau sebagaimana sebelumnya. Maka saya melihat wajah beliau berubah, kemudian beliau berlalu. Lalu beliau melewati mereka yang ketiga kalinya. Maka mereka mencibir beliau sebagaimana sebelumnya. Maka beliau bersabda,

أتسمعون يا معشر قريش ، أما والذي نفسي محمد بيده لقد جئتكم بالذبح

'Dengarlah wahai orang-orang Quraisy! Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangannya, sesungguhnya aku datang kepada kalian untuk menyembelih kalian!'.

Maka kata-kata beliau ini memukul mereka sampai-sampai tidak ada seorang pun di antara mereka, kecuali seolah-olah ada seekor burung yang hinggap di atas kepalanya (diam tertegun, -pen). Sehingga orang yang sebelumnya paling keras diantara mereka, dia berusaha menenangkan beliau dengan perkataan yang paling baik.

Dia mengatakan,

انصرف أبا القاسم راشدا ، فما كنت بجهول 

'Pergilah Abu Qosim, engkau orang yang benar. Engkau bukan orang yang bodoh'. Lalu Rasulullah pun pergi.

Sampai keesokan harinya mereka berkumpul di Hijr dan ketika itu saya bersama dengan mereka. Lalu sebagian mereka mengatakan kepada sebagian yang lain,

ذكرتم ما بلغ منكم وما بلغكم عنه حتى إذا بادأكم بما تكرهون تركتموه 

'Kalian ingat apa yang telah kalian katakan kepadanya, dan apa yang telah kalian dengar darinya, sehingga ketika dia mengejutkan kalian dengan sesuatu yang tidak kalian sukai, kalian tinggalkan dia?!'.

Lalu ketika mereka sedang seperti itu, tiba-tiba muncul Rasulullah صلى الله عليه وسلم, lalu mereka mengerumuni dan mengepung beliau. Mereka mengatakan,

أنت الذي تقول كذا وكذا 

'Kamukah yang mengatakan begini dan begini?'. Yaitu perkataan beliau yang mereka dengar bahwa beliau mencela ilah-ilah dan diin mereka. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

نعم ، أنا الذي أقول ذلك

'Ya, akulah yang mengatakan hal itu'.

Lalu aku lihat salah seorang di antara mereka memegang tempat pertemuan sorban beliau. Dan Abu Bakr Ash-Shiddiq berdiri menghalangi beliau seraya berkata sambil menangis,

ويلكم أتقتلون رجلا أن يقول ربي الله

'Apakah kalian akan membunuh orang hanya karena dia mengatakan Allah Rabb-ku?'. Kemudian mereka meninggalkan beliau.

Dan sungguh hal itu adalah sesuatu yang paling keras apa yang didengar oleh orang-orang Quraisy dari beliau yang pernah aku lihat". (HR. Ahmad, dalam Al-Musnad hal. 7036. Di tahqiq oleh syaikh Ahmad Syakir, dengan sanad shohih)


Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه berkata :

"Aku bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم pergi menuju Ka'bah. Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepadaku,

أجلس

'Duduklah'.

Kemudian beliau naik di atas pundakku, lalu aku berusaha untuk bangkit mengangkat beliau. Lalu Rasulullah melihat aku lemah, maka beliau pun turun dan duduk untukku. Lalu beliau bersabda,

أصعد عل منكبى

'Naiklah ke atas pundakku'.

Maka aku pun naik ke atas pundak beliau, lalu beliau bangkit mengangkat diriku. Lalu beliau memberi isyarat kepadaku agar kalau bisa supaya aku menggapai atap. Sehingga saya naik ke atas Ka'bah, yang di atasnya terdapat patung dari kuningan atau tembaga. Lalu saya berusaha menggoyangnya ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang. Ketika aku telah berhasil, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda kepadaku,

أقذف به

'Lemparkanlah ia!'.

Maka aku pun melemparkannya sehingga pecah seperti kaca. Kemudian aku turun. Lalu aku dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم cepat-cepat pergi sehingga kami berlindung di antara rumah-rumah karena takut ada orang yang memergoki kami". (HR. Ahmad, Abu Ya'la, Al-Bazzar, dengan sanad tsiqoh)


-Tauladan Nabi Ibrohim.

Allah سبحنحا و تعال :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

''Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja' ''. (QS. Al-Mumtahanah [60] : 4)

Allah سبحنحا و تعال :

قَالَ أَفَرَأَيْتُم مَّا كُنتُمْ تَعْبُدُونَ أَنتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِّي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ

''Berkata (Ibrohim), 'Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb Semesta Alam' ". (QS. Asy-Syu'aro [26] : 75-77)

Allah سبحنحا و تعال :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ

''Dan ingatlah ketika Ibrohim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Rabb Yang menjadikanku, karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku' ". (QS. Az-Zukruf [43] : 26-27)

Allah سبحنحا و تعال :

وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلاَّ عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لأوَّاهٌ حَلِيمٌ   

''Dan permintaan ampun dari Ibrohim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrohim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrohim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun''. (QS. At-Taubah [9] : 114)



C. Perkataan Para 'Ulama.


Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata :

"Barangsiapa cinta karena Allah dan benci karena Allah, loyal karena Allah dan memusuhi karena Allah; sesungguhnya dengan itulah pengayoman Allah akan diterima. Seorang hamba tidak akan dapat merasakan nikmatnya iman, betapa pun banyak sholat dan puasanya, sebelum ia demikian. Persaudaraan sesama manusia telah berubah menjadi hanya berdasar kepentingan duniawi, padahal itu tidak akan memberi manfaat kepada pelakunya sedikitpun". (Hilyatul Auliya', jilid 1 hal.312. Al-Jami' Al-Ulum wal Hikam 3/30).


Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Abdul Wahhab رِحمه الله berkata :

"Pernyataan beliau (Ibnu Abbas), 'Dan loyal karena Allah', menjelaskan sesuatu yang harus ada dalam cinta karena Allah, yaitu loyalitas karena Allah. Sebuah isyarat bahwa dalam hal ini cinta saja tidak cukup. Ia harus disertai dengan loyalitas yang merupakan konsekuensi cinta. Yaitu pembelaan, pemuliaan, penghormatan, dan selalu bersama orang-orang yang dicintai secara lahir dan bathin. Sedang pernyataan, 'Dan memusuhi karena Allah', ini menjelaskan keharusan benci karena Allah. Yakni menyatakan sikap permusuhan dengan secara nyata, seperti jihad melawan musuh-musuh Allah, berlepas diri dari mereka, serta menjauhi mereka secara lahir dan bathin. Ini menunjukkan bahwa kebencian hati saja tidak cukup. Ia harus disertai dengan konsekuensinya, sebagaimana Allah سبحنحا و تعال firmankan,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

 'Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka : "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari [kekafiran]-mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja'. [QS. Al-Mumtahanah : 4]. (Taisir Al-Aziz Al-Hamid, hal. 422).


Al-'Allamah Ibnul Qoyyim رِحمه الله berkata :

"Ketika Allah ta'ala melarang orang-orang beriman untuk berwala' kepada orang-orang kafir, hal itu mengandung konsekuensi untuk memusuhi dan baro' kepada mereka serta menyatakan permusuhan pada setiap keadaan". (Bada'i Al-Fawaid, juz. 3 hal. 69)


Syaikh Hamd bin 'Atiq رِحمه الله juga berkata :

"Izhharud diin adalah mengkafirkan mereka, menghina diin mereka, mencela mereka, baro' kepada mereka, menjaga diri agar tidak mengasihi mereka, dan agar tidak rukuun (condong) kepada mereka, serta memisahkan diri dari mereka. Bahwasanya sekedar bisa melaksanakan sholat itu tidak bisa disebut sebagai izhharud diin". (Ad-Duror As-Saniyyah, Juz Jihad, hal. 196).


Syaikh Abdul Lathif bin Abdurrahman رِحمه الله berkata :

"Tidak bisa dibayangkan! Ada orang yang memahami dan mengamalkan tauhid, namun dia tidak memusuhi orang-orang musyrik. Dan orang yang tidak memusuhi mereka tidak bisa dikatakan dia telah memahami dan mengamalkan tauhid". (Ad-Duror As-Saniyyah, juz jihad hal. 167).


Syaikh Abdullathif bin Abdurrahman رِحمه الله mengatakan :

"Inilah yang dimaksud izhharud diin, bukan sebagaimana yang dikira oleh orang-orang bodoh yang mengira bahwasanya jika orang-orang kafir membiarkannya sholat, membaca Al-Qur'an, dan menyibukkan diri dengan amalan-amalan sunnah yang dia inginkan, berarti dia telah melaksanakan izhharud diin. Ini salah besar. Karena sesungguhnya orang yang menyatakan permusuhannya kepada orang-orang musyrik dan baro' kepada mereka, tidak akan mereka biarkan tinggal di tengah-tengah mereka, akan tetapi mereka akan membunuh atau mengusirnya jika mereka mempunyai kesempatan sebagaimana yang diterangkan dalam firman Allah سبحنحا و تعال mengenai orang-orang kafir, yang berbunyi,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا

'Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-Rasul mereka, 'Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami'. (QS. Ibrohim : 13)

Dan Allah سبحنحا و تعال menceritakan tentang kaumnya Syu'aib,

لَنُخْرِجَنَّكَ يَاشُعَيْبُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا

'Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu`aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami'. (QS. Al-A'roof : 88)

Allah سبحنحا و تعال menceritakan tentang kisah ashhaabul kahfi, sesungguhnya mereka mengatakan,

إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا

'Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya'. (QS. Al-Kahfi : 20)

Bukankah permusuhan mereka terhadap para Rasul itu memuncak hanya setelah para Rasul itu mencaci diin mereka, membodoh-bodohkan akal mereka dan mencela ilah-ilah mereka?". (Ad-Duror As-Saniyyah, Juz Jihad, hal. 208).


Syaikh Hamd bin 'Atiq رِحمه الله berkata :

"Hendaknya orang yang berakal, berpikir, dan orang yang ingin menasihati dirinya sendiri, mencari penyebab yang mendorong orang-orang Quroisy mengusir Nabi صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya dari Makkah yang merupakan daerah yang paling mulia. Sesungguhnya telah kita ketahui bersama bahwasanya orang-orang Quroisy tidaklah mengusir Nabi صلى الله عليه وسلم dan para sahabat, kecuali setelah mereka mencela diin orang-orang Quroisy dan menyesat-nyesatkan bapak-bapak mereka secara terang-terangan. Mereka menginginkan supaya beliau صلى الله عليه وسلم menghentikan hal itu dan mereka mengancam akan mengusir beliau dan para sahabat beliau. Para sahabat pun mengeluh kepada beliau akan kerasnya siksaan orang-orang Quraisy kepada mereka. Maka beliau pun menyuruh mereka untuk bersabar dan meneladani orang-orang sebelum mereka yang mendapatkan siksaan. Dan beliau tidak menyuruh mereka untuk tidak lagi mencela diin orang-orang musyrik dan membodoh-bodohkan akal mereka. Maka beliau pun memilih untuk meninggalkan negeri bersama para sahabat beliau, padahal Makkah adalah tempat yang paling mulia di muka bumi.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

'Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah'. [QS. Al-Ahzab : 21]". (Ad-Duror As-Saniyyah Juz Jihad, hal. 199).


Syaikh Hamd bin 'Atiq رِحمه الله mengatakan :

"Firman Allah سبحنحا و تعال yang berbunyi; وَبَدَا (dan telah nampak), maksudnya adalah ظهرِ (nampak) dan بَانَ (jelas). Perhatikanlah! Didahulukannya al-'adawah (permusuhan) daripada al-baghdho' (kebencian) karena yang pertama lebih utama daripada yang kedua. Karena sesungguhnya, terkadang orang benci kepada orang-orang musyrik, namun dia tidak memusuhi mereka, sehingga dia belum melaksanakan kewajibannya sampai dia merealisasikan permusuhan dan kebencian. Selain itu permusuhan dan kebencian itu harus nampak jelas dan nyata. Dan ketahuilah, meskipun kebencian itu adalah amalan hati, namun kebencian itu tidak ada gunanya sampai nampak tanda-tandanya dan timbul dampak-dampaknya, dan ini tidak akan terealisasi kecuali dengan permusuhan dan memutuskan hubungan, Maka ketika itulah permusuhan dan kebencian nampak". (Sabiilun Najaat Wal Fikaak min Muwalaalaatil Mutaddiin wa Ahlil Isyraak).


Abu Wafa' bin Uqoil رِحمه الله bertutur :

"Apabila engka ingin mengetahui kondisi Islamnya manusia pada suatu masa, janganlah engkau melihat berjubelnya mereka di pintu-pintu masjid atau gema labbaika mereka. Tetapi lihatlah pemufakatan mereka dengan musuh-musuh syari'at. Maka berlindunglah ke dalam benteng diin, berpeganglah dengan tali Allah yang sangat kuat dan bergabunglah dengan wali-wali-Nya yang beriman. Waspadalah terhadap musuh-musuh-Nya yang menyeleweng. Karena ibadah kepada Allah yang paling utama itu adalah membenci orang-orang yang menentang Allah سبحنحا و تعال dan Rasul-Nya, serta jihad terhadapnya dengan tangan, lidah, dan hati sesuai dengan kemampuan". (Ad-Duror As-Saniyyah, Juz Jihad, hal. 238).


Al-'Allamah Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh رِحمه الله berkata -dalam menafsirkan surat Al-Mumtahanah ayat 4- :

"Maka barangsiapa erenungkan ayat tersebut, tentu dia memahami tauhid yang Allah سبحنحا و تعال turunkan melalui para Rasul dan kitab-kitab-Nya, dan tentu dia memahami sikap orang-orang yang menentang ajaran para Rasul dan pengikut-pengikut mereka, yaitu orang-orang bodoh yang tertipu lagi merugi. Syaikh kita [syaikh Muhammad, -ed] ketika menerangkan da'wah Nabi صلى الله عليه وسلم kepada orang-orang Quroisy untuk bertauhid, dan apa yang beliau dapatkan dari mereka ketika beliau menyinggung ilah-ilah mereka, bahwasanya mereka itu tidak dapat mendatangkan manfaat dan madhorot, mereka menganggap hal itu sebagai cacian. Beliau [syaikh Muhammad] mengatakan,

'Maka apabila engkau telah memahami hal ini, tentu engkau memahami bahwasanya manusia itu tidak akan lurus Islamnya, meskipun dia telah mentauhidkan Allah dan meninggalkan syirik, kecuali dengan memusuhi orang-orang musyrik dan menyatakan permusuhan dan kebencian kepada mereka sebagaimana firman Allah سبحنحا و تعال,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

'Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya'. (QS. Al-Mujadalah ; 22)

Apabila engkau telah memahami hal ini dengan baik, tentu engkau mengetahui bahwasanya banyak orang yang mengaku beragama, namun tidak memahaminya. Sebab, apakah yang menyebabkan kaum muslimiin harus bersabar menanggung siksaan, penawanan, dan beban-beban hijrah ke Habasyah, padahal beliau adalah manusia yang paling penyayang, sehingga seandainya ada rukhshoh tentu beliau memberikan rukhshoh kepada mereka. Bagaimana mungkin, sedangkan Allah telah menurunkan kepada beliau ayat,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ

'Dan di antara manusia ada orang yang berkata: 'Kami beriman kepada Allah', maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah'. (QS.Al-Ankabut : 10)

Dalam ayat ini, orang yang menyetujui dengan lisannya saja dikatakan seperti ini, lalu bagaimana dengan yang lainnya?'.

Maksudnya dengan orang yang menyetujui mereka dengan perkataan dan perbuatan, dengan tanpa mendapatkan gangguan. Dia membantu m ereka, membela mereka dan orang yang setuju dengan emreka serta mengingkari orang yang tidak sependapat dengan mereka sebagaimana terjadi sekarang". (Ad-Duror As-Saniyyah, Juz Jihad, hal. 93).


Mengenai surat Al-Mumtahanah ayat 4, syaikh Sulaiman bin Sahman رِحمه الله berkata :

"Inilah Millah Ibrohim yang Allah سبحنحا و تعال maksudkan dalam  firman-Nya yang berbunyi,
وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ

'Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri'. [QS. Al-Baqoroh : 130].

Maka orang muslim harus memusuhi musuh-musuh Allah سبحنحا و تعال, menampakkan permusuhan kepada mereka, menjauhkan diri dari mereka sejauh-jauhnya, dan tidak boleh ber-wala' kepada mereka atau bergaul dengan mereka, atau berbaur dengan mereka". (Ad-Duror As-Saniyyah, Juz Jihad, hal. 221).


Al-'Allamah Abdurahman bin Hasan Alu Asy-Syaikh رِحمه الله berkata :

"Allah سبحنحا و تعال telah mewajibkan baro' terhadap kesyirikan dan orang-orang yang berbuat syirik, serta mengkufuri, memusuhi, membenci, dan jihad terhadap mereka.

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ

'Lalu orang-orang yang zholim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka'. [QS. Al-Baqoroh : 59].

Maka mereka pun ber-wala', membantu dan menolong orang-orang musyrik itu. Dan orang-orang musyrik itu pun meminta bantuan kepada mereka untuk memusuhi orang-orang beriman. Sehingga dalam rangka itu mereka membenci dan mencela  orang-orang beriman. Dan perbuatan-perbuatan ini semuanya membatalkan Islam sebagaimana yang diterangkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah pada beberapa tempat". (MILLAH IBROHIM).


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رِحمه الله berkata :

"Seorang muslim harus menyatakan bahwa dirinya adalah termasuk kelompok orang beriman, sehingga dia menguatkan kelompok tersebut dan kelompok tersebut menguatkan dirinya, serta mengentarkan thoghut, yang mana mereka tidak akan memusuhinya dengan keras sampai dia menyatakan permusuhannya tersebut kepada mereka, dan bahwasanya dia termasuk kelompok yang memerangi mereka". (Majmu'ah At-Tauhid).

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...