Ads 468x60px

.

Jumat, 22 Juli 2011

RUKHSHOH .... Edisi Kedua

oleh Hardi Ansyah pada 27 Juni 2011 jam 9:04

1. Makna Rukhshoh

Secara bahasa : التّسهيل فى الأمر
(mempermudah urusan)

Secara Syar’i : ما ثبت على خلاف دليل شرعىّ لمعارض راجح

Apa saja yang ditetapkan oleh sesuatu yang berbeda dengan hukum syar’i dikarenakan oleh sesuatu yang kuat

Misalnya : idealnya sholat dikerjakan dengan berdiri, tiba-tiba dikerjakan dengan duduk (padahal sholat dengan duduk menyelesihi dalil syar’i), akan tetapi karena sakit yang menyebabkan ia tidak mampu berdiri maka sholat dengan duduk diperbolehkan.


Rukhshoh selaras dengan kaedah ushul fiqh. Di antaranya :

الضّرورة تبيح المحضورات

Keadaan darurat membolehkan melanggar larangan
Misalnya karena lapar sementara tidak ada makanan kecuali yang diharamkan maka memakan yang diharamkan diperbolehkan karena kondisi yang mendesak dimana bila tidak memakannya akan menyebabkan kematin

المشقّة تجلب التيسير

Kesulitan mendatangkan kemudahan
Misalnya karena gosok gigi setiap sholat akan menyulitkan umatnya maka rosululloh shollallohu alaihi wasallam tidak jadi mewajibkannya

2. Hukum Mengambil Rukhshoh

Status rukhshoh bisa berbeda-beda tergantung dari kasus yang dihadapi seseorang sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu. Tidak semua orang harus dipukul rata, diseragamkan agar sama karena masing-masing manusia memiliki kemapuan berbeda.

Syaikh Sulaiman Al Asyqor membagi menjadi empat hukum :

1. Wajib
Seperti makan bangkai di saat kondisi mendesak

2. Mustahab (dianjurkan, sunnah)
Mengqoshor sholat dan berbuka ketika berada dalam perjalanan

3. Mubah
Jual beli ariyah dimana ia bagian dari pengecualian keharaman riba

4. Makruh
Menjama’ dua sholat ketika kondisi sulit
Terbitkan Entri
dimana meninggalkannya adalah lebih baik.


َوَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَرَجَ عَامَ اَلْفَتْحِ إِلَى مَكَّةَ فِي رَمَضَانَ, فَصَامَ حَتَّى بَلَغَ كُرَاعَ الْغَمِيمِ, فَصَامَ اَلنَّاسُ, ثُمَّ دَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ فَرَفَعَهُ, حَتَّى نَظَرَ اَلنَّاسُ إِلَيْهِ, ثُمَّ شَرِبَ, فَقِيلَ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ: إِنَّ بَعْضَ اَلنَّاسِ قَدْ صَامَ. قَالَ: أُولَئِكَ اَلْعُصَاةُ, أُولَئِكَ اَلْعُصَاةُ ) َوَفِي لَفْظٍ: ( فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ اَلنَّاسَ قَدْ شَقَّ عَلَيْهِمُ اَلصِّيَامُ, وَإِنَّمَا يَنْظُرُونَ فِيمَا فَعَلْتَ، فَدَعَا بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ بَعْدَ اَلْعَصْرِ، فَشَرِبَ ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam keluar pada tahun penaklukan kota Mekah di bulan Ramadhan. Beliau shaum, hingga ketika sampai di kampung Kura' al-Ghomam orang-orang ikut shaum. Kemudian beliau meminta sekendi air, lalu mengangkatnya, sehingga orang-orang melihatnya dan beliau meminumnya. Kemudian seseorang bertanya kepada beliau bahwa sebagian orang telah shaum. Beliau bersabda: "Mereka itu durhaka, mereka itu durhaka." Dalam suatu lafadz hadits shahih ada seseorang berkata pada beliau: Orang-orang merasa berat shaum dan sesungguhnya mereka menunggu apa yang baginda perbuat. Lalu setelah Ashar beliau meminta sekendi air dan meminumnya. [HR Muslim]

َوَعَنْ حَمْزَةَ بْنِ عَمْرٍو الْأَسْلَمِيِّ رِضَى اَللَّهُ عَنْهُ; أَنَّهُ قَالَ: ( يَا رَسُولَ اَللَّهِ! أَجِدُ بِي قُوَّةً عَلَى اَلصِّيَامِ فِي اَلسَّفَرِ, فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ? فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم هِيَ رُخْصَةٌ مِنَ اَللَّهِ, فَمَنْ أَخَذَ بِهَا فَحَسَنٌ, وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصُومَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ
)
Dari Hamzah Ibnu Amar al-Islamy Radliyallaahu 'anhu bahwa dia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku kuat shaum dalam perjalanan, apakah aku berdosa? Maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ia adalah keringanan dari Allah, barangsiapa yang mengambil keringanan itu maka hal itu baik dan barangsiapa senang untuk shaum, maka ia tidak berdosa [HR Bukhari-Muslim]
Wallahu 'alam bisshowab.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...