Ads 468x60px

.

Kamis, 15 September 2011

Beberapa Kekeliruan Orangtua Dalam Mendidik Anak

Tanbihun – ”Kawan yang baik lebih baik dari duduk sendirian,  duduk sendirian lebih baik dari kawan yang jahat,  mengutarakan kebaikan lebih baik daripada diam, dan diam lebih baik dari berkata yang tidak baik” (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ).

Seorang anak ibarat kain putih kosong dan orangtua adalah pembatiknya. Kain itu akan berubah menjadi kain yang berharga jika pembatiknya (ortu) mau membatik dengan goresan yang indah nan mempesona, sebaliknya kain itu akan kurang bernilai jika pembatiknya menodai dengan goresan-goresan tak bermotif alias semrawut.

Mendidik anak merupakan pekerjaan terpenting untuk membentuk karakter anak dan tanggung jawab orang tua. Dalam mendidik anak diperlukan beberapa langkah/cara tepat yang dapat mendukung terbentuknya karakter baik bagi anak. Namun, kondisi yang terjadi di masyarakat kadang malah justru sebaliknya, kebanyakan mereka cenderung menggunakan cara-cara ”sadis”/ semaunya sendiri, yang bisa merampas kebebasan bereksplorasi dan membunuh karakter anak.

Beberapa kekeliruan tersebut di antaranya adalah:

1.Membuat takut anak/ membohongi
Perbuatan ini sering kita jumpai di masyarakat. Misalnya: ”jangan nangis nak, nanti ditangkap polisi lho!” Ucapan ini akan membekas di benak anak sehingga akan tertanam perasaan takut pada polisi sedangkan polisi adalah pelindung/mitra masyarakat. 

Contoh lain: ”kalau gak belajar, saya pukul pakai sapu”. Hal ini tentu membuat anak selalu merasa terancam jiwanya. Anak melakukan perintah ortu karena perasaan takutnya, bukan karena keinginan hendak menurut. Contoh lagi: ”makan ya nak, nanti kalau gak makan didatangi mak lampir lho!”. Sangat fatal kiranya jika masih kecil saja sudah terbiasa dibohongi. (”Allah menyuruh untuk berbuat kebaikan dan menahan yang salah” [QS Ali Imran: 104]).
2. Banyak menyuguhi mitos-mitos
Sangat riskan jika di era sekarang masih ada ortu yang menyuguhkan anak-anaknya dengan mitos-mitos yang sudah jelas tidak benar. Contohnya: ”kamu jangan suka makan kelapa (yang sudah diparut), nanti kamu cacingan (krawiten) lho”. Sudah jelas, ucapan ini sangat mengada-ada dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Selama ini tidak ada buku/berita yang mengabarkan bahwa makan parutan kelapa dapat menyebabkan cacingan. Tidak ada yang memberitakan bahwa dampak negatif makan parutan kelapa adalah cacingan. (secara ilmiah ada di Biologi SMA kelas X, silakan baca sendiri bab avertebrata tentang siklus hidup cacing kremi). 

Contoh lain: ”kalau ada kupu2 hinggap di sebuah rumah pertanda akan kedatangan tamu”. ”Kalau makan keselek/ kegigit, pertanda dirinya sedang dibicarakan orang lain” (secara ilmiah ada di Biologi kelas XI bab sistem pernapasan & pencernaan). ”Kalau matanya bergetar2 terus, jika yang bergetar sebelah kiri pertanda akan menyaksikan kesedihan kalau yang sebelah kanan akan menyaksikan kebahagiaan”. Alangkah baiknya jika pemikiran nyeleneh itu segera dibuang jauh2. (”Pergunakanlah akal dan ilmu” [QS. Yunus: Ar-Rum: 29, An-Nahl: 43, Az-Zumar: 9).
3.Terlalu banyak larangan dan perintah tanpa teladan
Kita tidak boleh melarang anak jika sekiranya sesuatu yang diperbuatnya itu positip (bukan negatip). Jika keinginan anak yang positip dilarang, berarti telah menghalang-halangi bakat mereka dan mematahkan semangatnya. Contoh: ”Sepulang sekolah harus di rumah, tidak boleh keluar, tidak boleh main sepak bola dengan teman2nya”. Kapan lagi mereka bisa bermain? Anak butuh beradaptasi dengan lingkungannya. Anak juga butuh merefresh otaknya setelah berjam2 disuguhi rumus2 matematika di sekolahnya, menghafal ayat-ayat pendek misalnya, anak juga butuh lebih banyak berinteraksi dengan teman2nya, butuh meluapkan keinginannya. Dengan sepak bola mungkin bisa belajar bagaimana bekerjasama dalam teamnya, bisa belajar bagaimana mengatur strategi untuk membobol gawang team lain. Dalam penelitian terhadap lebih dari 500 murid di Kanada, murid yang menghabiskan waktu tambahan setiap harinya di ruang olahraga mampu mengerjakan ujian lebih baik ketimbang mereka yang kurang aktif berolahraga. Di Scripps College California, murid-murid yang berolahraga selama 75 menit seminggu, ternyata bisa bereaksi lebih cepat, berpikir lebih baik dan mengingat lebih cermat (4).


Atau kadang juga ortu terlalu banyak perintah tanpa memberi teladan, misal: ”Tutup pintu”, ”Habiskan makan malammu”, ”Selesaikan PR-mu”, ”Pergilah tidur”. ”Jangan merokok!”, tapi ortu tanpa ada perasaan malu merokok di depan anaknya. Percakapan dalam keluarga cenderung berbentuk perintah dan bukan dialog bermakna. Kebutuhan akan keintiman, karenanya, tidak terpenuhi; dan anak-anak seperti ini bisa merasa terasing dan sendirian secara emosional diantara orang banyak kecuali jika mereka memiliki saudara kandung, teman sebaya atau guru yang menyediakan keintiman yang sangat didambakan (3). Seharusnya ortu harus mengisi dialog bermakna meskipun singkat sekaligus menemaninya, ”Mari kerjakan PR yuk, biar nanti bisa lebih mendalam/paham” dll.


Contoh lain: ”kamu harus masuk jurusan kedokteran, kalau ga itu mending ga usah kuliah”. Ortu tidak boleh memaksa anaknya harus kuliah di kedokteran kalau IQ atau daya ingat si anak di bawah standar, karena di jurusan kedokteran akan dijumpai ratusan bahasa ilmiah dari strukutur organ tubuh manusia. Akan sangat merepotkan si anak nantinya. Jangan memaksakan anak untuk kuliah di Teknik Mesin sementara dia lebih menyukai dan merasa nyaman di bidang seni. 

(”Assya’bi meriwayatkan dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah akan merakhmati kepada aba yang membantu anaknya untuk berbakti taat kepadanya. Yakni tidak menyuruh sesuatu yang dikuatirkan anak itu tak dapat melaksanakannya” (1)).
4. Membicarakan tabiat anak di hadapan orang lain/ membanding2kannya dengan anak lain
Seorang anak akan merasa ”terhina” jika mengetahui bahwa kesalahan-kesalahannya disiarkan kepada orang lain. Sebaliknya, jika anak mengetahui bahwa kebaikan-kebaikannya dipamerkan kepada orang lain maka anak akan menjadi sombong. Alangkah baiknya, panggilah si anak untuk membicarakan kekurangan-kekurangannya tanpa kehadiran orang lain. Dengan kekurangannya maka sekaligus dicarikan solusi dari ortu kepada anak. Ortu tidak boleh terlalu ambisius memamerkan kebaikan-kebaikan anaknya di hadapan orang lain apalagi dalam suatu majelis/ orang banyak, karena hal ini akan menyebabkan orang lain yang diajak bicara merasa sangat bosan alias boring!. Kadang bahkan seringkali kita dapati ortu yang selalu membanding2kan anaknya dengan anak lain. 

Misalnya: ”si A itu kok piala/tropinya banyak, tidak seperti kamu kerjaannya cuma nangis”. Ucapan-ucapan ini bukannya menjadikan anak bersemangat untuk memperbaiki, tetapi justru sangat mematahkan semangat si anak dan anak menganggap bahwa ortu lebih sayang pada anak orang lain, seolah si anak sungguh sangat tidak berarti bagi ortu. Sebaiknya ortu bisa membangun kepercayaan anaknya serta menganjurkan supaya berusaha lebih gigih.
5.Mencacimaki anak
Jikalau anak mendengar ibu bapaknya mengatakan ”kamu jahat”, maka anak tersebut akan merasa kesal dan cenderung pada perlakuan seorang jahat. Sebaiknya, dikatakan pada anak itu ”kau anak yang baik” dan anak baik itu kan tidak suka marah, tidak pernah berkelahi, rajin mengaji, dll. Alangkah baiknya ortu tidak mengucapkan perkataan2 kotor seperti ini. ”Kamu anak tidak benar, (tambeng, mbeling, nakal), bejat, dsb”. Kadang juga ada yang bilang kepada anaknya: ”kamu itu mau jadi apa si?”. Tepis jauh kata2 kotor itu. Ganti dengan kata2 yang lembut, dan lebih baik lagi jika kata itu bisa menyentuh hati anak. Misalnya: orang baik itu dikasihi Allah lho nak, jadi adik yang baik ya. Adik itu anak yang baik kok, jadi ga boleh marah2 lagi ya, ga boleh suka nangis lagi. (”Sesungguhnya manusia itu adalah makhluk etis. Jiwa (nafs) seorang itu memberinya kemampuan untuk membedakan mana yang buruk (fujur) dan mana yang baik” [QS. As-Syams: 8]).
6.Berbicara terlalu banyak dan suara terlalu lantang
Hindarilah berbicara terlalu panjang lebar kepada si anak. Sedikit perkataan tapi jelas dan tepat lebih berpengaruh bagi anak daripada nasihat yang terlalu panjang lebar/ nonstop. Janganlah menyuruh atau melarang anak dengan perkataan yang terlalu banyak sehingga membosankan anak. Dalam rumah tangga juga sebaiknya jangan ada kata-kata yang bernada tinggi. Ucapkanlah perkataan yang lembut yang bisa mendatangkan berkah kepada pendengarnya. Jangan biarkan anak menyaksikan kemarahan, kebengisan, amukan ortu. Anak-anak lebih mengingat nasihat atau kata-kata yang diucapkan tenang dan manis daripada ucapan yang membentak-bentak. Anak yang selalu mendengar suara lantang akan kebal dengannya sehingga suara mengguntur pun tak berarti lagi baginya. 

Jadi, jangan heran jika suatu saat ada anak yang membalas membentak dari bentakan ortunya, karena rupanya bentakan ortu yang telah disuguhkan kepadanya telah melenyapkan sikap lemah lembut si anak. Jangan sampai ada alasan bahwa dengan dibentak anak akan nurut, dengan dipukul anak akan kapok, karena pada hakikatnya kekerasan/kekasaran tidak akan menyelesaikan masalah dan bukan solusi terbaik. (”Kecenderungan manusia untuk memandang musuh kepada sesamanya, sebenarnya dapat diatasi dengan ”saling menasihati agar bersabar dan saling menasihati agar saling berbelas kasihan” [QS. Al-Balad: 17]).

Demikian beberapa kekeliruan ortu dalam mendidik anaknya. Tentu masih banyak kekeliruan2 lainnya yang bisa dijadikan bahan koreksi bagi kita bersama. Tapi ini cukup bisa dijadikan bahan pelajaran untuk kita sehingga bisa memperbaiki jika ada kesalahan/kekurangan, bisa melakukan jika belum sempat dilakukan. Sebaiknya kita juga harus berpikir jernih, kita tidak boleh beranggapan bahwa ”Ah itu kan hanya sekadar teori/ hanya buku yang bilang, tapi kan faktanya tidak/lain!”. 

Kebetulan referensi yang dipakai adalah referensi yang disertai penelitian2 yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan tentang kejadian2 di masyarakat baik di Indonesia maupun di luar negeri.

REFERENSI:

(1)  Assamarqandi, A. 1977. Tanbihul Ghafilin. Jakarta. hlm 169.
(2)  Chatib, M. 2009. Sekolahnya Manusia: Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia (Menjadikan guru kreatif!). Penerbit Kaifa. Bandung. hlm 1-12.
(3)  Given, B.K. 2007. Brain-Based Teaching. Kaifa Publishing. Bandung. 424 hlm.
(4)  Rakhmat, J. 2009. Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak. Kaifa Publishing. Bandung. 288 hlm.
(5)  Sarumpaet, R.I. (tanpa tahun). Rahasia Mendidik Anak. Majalah Rumah Tangga dan Kesehatan.
(6) Utomo, M.S. 1983. 13 Langkah Orang Tua yang Keliru dalam Mendidik Anak. Volume 75. Buletin Anda. Jakarta. hlm 24-27.
Paesan, 11 Agustus 2011
Oleh :Ahkamy

Selasa, 13 September 2011

Ingat Tragedi Ambon, Saudaraku!


Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tragedi Ambon terjadi saat Idul Fithri, tanggal 19 Januari 1999. Saat artikel ini ditulis bulan Mei, bukan Januari. Saat ini masih jauh dari momen Idul Fithri, mengapa harus bicara Tragedi Ambon? Apa hubungannya dengan kondisi saat ini? Mengapa tiba-tiba kita harus bicara tragedi berdarah yang sangat memilukan itu? Bukankah seperti menguak luka lama yang mulai kering?

Peristiwa Tragedi Ambon terjadi sekitar 12 tahun lalu. Ketika itu Ummat Islam mendapat serangan hebat dari kufar Nashrani. Banyak Muslim dibantai, rumah dibakar, anak-anak dan kaum wanita dibunuh; begitu pula masjid-masjid dihancurkan. Perkampungan Muslim di Ambon ketika itu seperti porak-poranda. Yang tersisa hanyalah Masjid Al Fatah yang berdiri tegak dan menjadi benteng terakhir Ummat.


Hampir Sempurna Kondisi Menuju Suatu Tragedi. 
Na'udzubillah.

Kami perlu mengingatkan Ummat Islam akan kekejaman yang terjadi di Ambon, sekitar 12 tahun lalu. Kekejaman semisal itu sangat mungkin akan terjadi lagi, di daerah-daerah lain.


Kalau menyaksikan kondisi kaum Muslimin saat ini, termasuk yang berada di Pulau Jawa, ada tanda-tanda mengarah kepada situasi seperti yang kemudian menjadi latar-belakang terjadinya Tragedi Ambon tersebut.
Perhatikan indikasi-indikasi di bawah ini:

Pertama, kaum Muslimin semakin jauh dari komitmen kepada agamanya. Di sisi lain, kehidupan sekuler semakin erat dipeluk oleh Ummat. Tragedi Ambon tidak akan terjadi, melainkan karena kondisi keislaman Ummat Islam disana ketika itu memang buruk.


Kedua, secara akidah sebenarnya kaum kufar -siapapun itu- selalu menyimpan dendam kesumat, kebencian, dan permusuhan total terhadap kaum Muslimin. Jika ada yang bersikap baik, hanya sedikit saja. Mereka tidak bisa hidup tenang dengan melihat Ummat Islam hidup damai. Hati mereka selalu diprovokasi oleh syaitan untuk menghancurkan kehidupan Ummat. Hal itu seperti ketika syaitan memprovokasi hati orang-orang musyrik Makkah untuk memerangi kaum Muslimin di jaman Rasulullah Saw.

Ketiga, peranan negara dalam melindungi, mengayomi, dan memberdayakan rakyatnya semakin jauh merosot. Masyarakat seperti disuruh bertanggung-jawab sendiri dengan kehidupan mereka. Saat Tragedi Ambon terjadi, kontrol negara sangat lemah. Negara seperti tidak bisa mencegah terjadinya tragedi itu.

Keempat, problem kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial, rendahnya taraf pendidikan, korupsi, kemunafikan politik, amoralitas, dll. semakin meluas di tengah masyarakat. Semua itu sangat potensial memantik terjadi konflik, kerusuhan, atau kekacauan sosial. Situasi di Ambon ketika itu dipicu oleh bentrok antar preman yang baru datang dari Jakarta. Namanya preman, jelas mereka bukan orang yang memiliki aktivitas sosial mapan dan produktif. Umumnya pengangguran.

Kelima, kondisi Ummat Islam secara umum semakin hedonis. Memuja kesenangan, hiburan, dan materi. Media TV sangat berperan besar dalam urusan ini. Kalau Ummat sudah sangat terlena seperti itu, mereka “akan dipanen” oleh orang-orang kufar. Hanya tinggal menanti momentumnya saja. Kufar tak akan berani menyerang Ummat, kalau keimanannya kuat. Kaum Muslim di Ambon sebelum kejadian tahun 1999 juga cenderung hedonis.

Keenam, penghujatan terhadap nilai-nilai Islam atau simbol Islam, semakin terang-terangan. Lihat betapa beraninya pembela Zionis berencana memperingati HUT Israel di Jakarta; lihat bagaimana Hanung Bramantyo menyerang Islam melalui film “?”; lihat ucapan Kepala BNPT atau pejabat Mabes Polri yang seenaknya mengaitkan ajaran Islam dengan terorisme; lihat opini di TVOne dan MetroTV yang selalu memojokkan Islam dalam isu terorisme; lihat keberanian Ahmadiyyah dalam menampakkan kesesatannya; lihat ucapan orang-orang JIL, ucapan Abdurrahman Wahid, dan lain-lain. Dulu sebelum kasus Ambon, wakil-wakil rakyat Nashrani dari PDIP juga kencang dalam melakukan serangan-serangan opini. Ucapan atau serangan opini ini sangat membahayakan kedamaian hidup ke depan.

Kami ingin mengingatkan kaum Muslimin agar hati-hati dengan kondisi saat ini. Janganlah kita egois, hanya memikirkan diri sendiri; memburu karier, profesi, hobi, dan aneka kesenangan duniawi. Kita harus selalu cermat, waspada, dan melihat kondisi sosial dengan perspektif yang peka.

Dalam kondisi seperti Indonesia saat ini, ia adalah LAHAN SUBUR bagi munculnya tragedi-tragedi kemanusiaan memilukan. Di negeri ini: Kepemimpinan tak berwibawa, ekonomi morat-marit, korupsi merajalela, hukum tidak tegak, aparat keamanan punya bisnis sendiri, hedonisme luar biasa berkembang, media-media massa hanya mengejar duit, aliran dan paham sesat tumbuh subur, kesenjangan sosial sangat lebar, dll.

Di atas kondisi morat-marit ini, kalau kaum kufar memiliki kuasa politik dan didukung oleh logistik persenjataan, maka sangat mudah bagi mereka untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, yaitu membuat horor dalam kehidupan kaum Muslimin. “Wa laa yazaluna yuqatilunakum hatta yaruddukum ‘anid dinikum, inistatha’uu” (mereka tak henti-hentinya memerangi kalian, sampai mereka bisa membuat kalian murtad dari agama kalian, jika mereka sanggup melakukan semua itu). Al Baqarah: 217.

Mohonlah kita selalu waspada. Senantiasa bergandeng-tangan dengan sesama Muslim. Komitmen dengan agama Allah. Saling bantu-membantu dalam kebajikan dan takwa. Serta mengingatkan Ummat agar tidak lalai oleh acara-acara TV yang semakin hedonis dan merusak akal sehat.

Kami mengingatkanmu akan sesuatu yang sangat jauh dari indahnya mimpi-mimpi; kami mengingatkan akan bahaya yang selalu mengintai. Kalian merasa aman, tenang, dan biasa-biasa saja. Padahal hati-hati musuh kalian selalu bergemuruh, ingin menelan kalian, seperti ingin menelan hidangan di atas meja. Apalagi syaitan yang tidak tampak, mereka terus memprovokasi hati-hati kufar itu agar meluluh-lantakkan kehidupan kalian sehancur-hancurnya.

Para agamawan, ahli-ahli Islam, para sarjana, para master, para doktor di bidang Islam; para dai, para muballigh, para ustadz, para kyai, dan sebagainya; mohon Anda bimbing baik-baik Ummat ini. Mohon beri peringatan ke mereka agar tidak lalai, agar tidak melemah keimanan dan komitmennya. Jangan terlalu banyak basa-basi, sehingga kelak Anda dianggap ikut andil dalam melemahkan kehidupan Ummat ini. Sudahi basa-basi itu, sebab kondisi saat ini membutuhkan ketegasan, sehingga bisa memberikan arah yang jelas. Era basa-basi adalah era tahun 70-an. Kini sudah abad 21, jadi beda tantangannya.

Inilah setitik kerisauan yang ingin diutarakan. Mungkin akan ada yang menuduh, “Ini paranoid.” Tetapi kalau Anda teliti melihat situasi riil yang melingkupi kehidupan Ummat saat ini, niscaya akan Anda tarik kembali tuduhan itu.

Semoga Allah menganugerahkan keselamatan lahir-bathin, dunia-Akhirat, kepada kita semua. Allahumma aamiin.

Abi Syakir.

Jumat, 09 September 2011

Anda Ingin Bermaksiat ??? Penuhi dulu Syarat-Syarat nya !!

oleh Azzam Al Intifadha pada 09 September 2011 jam 14:13

ذهب رجل إلى إبراهيم أين أدهم وقال له : يا أبا اسحق أنى مسرف على نفسي في ارتكاب المعاصي فاعرض علي ما يكون لها زاجرا ومستنقذ قال : أن قبلت خمس خصال وقدرت عليها لم تضرك المعصية ولم توبقك لذة ، قال : هات يا أبا اسحق قال : أما الأولى فإذا أردت أن تعصى الله عز وجل فلا تأكل من رزقه قال فمن أين آكل وكل ما في الأرض من رزقه ؟ قال : يأخذا أفيحسن بك أن تأكل رزقه وتعصيه ؟ قال : لا هات الثانية : قال وإذا أردت أن تعصيه فلا تسكن شيئا من بلاده قال : هذه اعظم من الأولى يأخذا إذا كان المشرق والمغرب وما بينهما ملك له فأين أسكن ؟ قال يأخذا أفيحسن بك أن تأكل رزقه وتسكن بلاده وتعصيه ؟ قال : هات الثالثة : قال وإذا أردت أن تعصيه وأنت تحت رزقه وبلاده فانظر موضعا لا يراك فيه فاعصه فيه قال يا إبراهيم ما هذا وهو يعلم السر و أخفي قال : يا هذا أفيحسن بك أن تأكل رزقه وتسكن بلاده وتعصيه وهو يراك ويعلم ما تجاهر به ؟ قال : لا هات الرابعة قال : فإذا جاءك ملك الموت ليقبض روحك فقل له أخرني حتى أتوب توبة نصوحا وأعمل لله صالحا ، قال : لا يقبل مني قال : يأخذا أفأنت إذا لم تقدر أن تدفع عنك الموت لتتوب وتعلم أنه إذا جاءك لم يكن له تأخير فكيف ترجو وجه الخلاص ؟ قال : هات الخامسة قال : إذا جاءك الزبانية يوم القيامة ليأخذوك إلى النار فلا تذهب معهم قال : انهم لا يدعونني ولا يقبلون مني قال : فكيف ترجو النجاة أذن ؟ قال له يا إبراهيم حسبي حسبي ، أنا أستغفر الله وأتوب إليه ولزم العبادة والأدب مع الله حتى فارق الدنيا

Artinya:


Seseorang menemui Ibrohim bin Adham lalu berkata, “Wahai Abu Ishaq, sungguh aku orang yang berlebihan pada diriku dalam melakukan ma’shiyat. Maka sampaikanlah padaku sesuatu yang dapat membuatku jera dan menyelamatkanku.”

Sabtu, 03 September 2011

JAUHILAH MAKSIAT WAHAI MUJAHID

  • DIENUL ISLAM ADALAH NASEHAT 
Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam bersabda :

 “Dienul Islam adalah Nasehat”. kami bertanya : “Milik (bagi) siapakah ya Rasulullah ?” Rasulullah menjawab : “Milik Allah, Kitab-Nya (Al Qur’an), Rasul-Nya dan juga kaum muslimin, baik  para  pemimpinnya maupun orang-orang awam”. (HR Bukhari Muslim)

Inilah yang diajarkan oleh Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam suri teladan kita, agar kita saling memberi nasehat  menuju ketaqwaan dan kebajikan  dan ini pula yang mendorong penulis untuk menyusun nasehat ini.

Semoga Allah mengampuni kelemahan penulis dan kekurangannya dalam memadukan antara ilmu dan amal, antara tulisan dan tindakan. Semoga nasehat ini bermanfaat bagi penulis dan keluarga khususnya, dan juga bagi kaum muslimin seluruhnya. Amien.

إِلَهِى لاَ تُعَذِّبْنىِ فإَِنِّى              مُقِرّاً بِالَّذِى قَدْ كاَنَ مِنِّى
يَظُنُّ النّاَسُ بِى خَيْراً فَإِنِّى    لَشَرُّ الْخَلْقِ لَوْ لَمْ تَعْفُ عَنِّى
فَماَ لِي حِيْلَةٌ إِلاَّ رَجاَئِيْ    وَعَفْوَكَ إِنْ عَفَوْتَ وَحُسْنَ ظَنِّي


Ya Allah....  janganlah Engkau siksa diriku  
karena aku telah mengakui segala dosa-dosaku
Manusia menyangka diriku adalah orang baik,
Padahal akulah se buruk-buruk makhluk-Mu,
 Jika Engkau tak  sudi Mengampuniku
Tak ada lagi dayaku selain mengharap rahmat dan ampunan-Mu
Serta husnudzdzon akan belas kasih-Mu
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...