Ads 468x60px

.

Selasa, 13 September 2011

Ingat Tragedi Ambon, Saudaraku!


Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tragedi Ambon terjadi saat Idul Fithri, tanggal 19 Januari 1999. Saat artikel ini ditulis bulan Mei, bukan Januari. Saat ini masih jauh dari momen Idul Fithri, mengapa harus bicara Tragedi Ambon? Apa hubungannya dengan kondisi saat ini? Mengapa tiba-tiba kita harus bicara tragedi berdarah yang sangat memilukan itu? Bukankah seperti menguak luka lama yang mulai kering?

Peristiwa Tragedi Ambon terjadi sekitar 12 tahun lalu. Ketika itu Ummat Islam mendapat serangan hebat dari kufar Nashrani. Banyak Muslim dibantai, rumah dibakar, anak-anak dan kaum wanita dibunuh; begitu pula masjid-masjid dihancurkan. Perkampungan Muslim di Ambon ketika itu seperti porak-poranda. Yang tersisa hanyalah Masjid Al Fatah yang berdiri tegak dan menjadi benteng terakhir Ummat.


Hampir Sempurna Kondisi Menuju Suatu Tragedi. 
Na'udzubillah.

Kami perlu mengingatkan Ummat Islam akan kekejaman yang terjadi di Ambon, sekitar 12 tahun lalu. Kekejaman semisal itu sangat mungkin akan terjadi lagi, di daerah-daerah lain.


Kalau menyaksikan kondisi kaum Muslimin saat ini, termasuk yang berada di Pulau Jawa, ada tanda-tanda mengarah kepada situasi seperti yang kemudian menjadi latar-belakang terjadinya Tragedi Ambon tersebut.
Perhatikan indikasi-indikasi di bawah ini:

Pertama, kaum Muslimin semakin jauh dari komitmen kepada agamanya. Di sisi lain, kehidupan sekuler semakin erat dipeluk oleh Ummat. Tragedi Ambon tidak akan terjadi, melainkan karena kondisi keislaman Ummat Islam disana ketika itu memang buruk.


Kedua, secara akidah sebenarnya kaum kufar -siapapun itu- selalu menyimpan dendam kesumat, kebencian, dan permusuhan total terhadap kaum Muslimin. Jika ada yang bersikap baik, hanya sedikit saja. Mereka tidak bisa hidup tenang dengan melihat Ummat Islam hidup damai. Hati mereka selalu diprovokasi oleh syaitan untuk menghancurkan kehidupan Ummat. Hal itu seperti ketika syaitan memprovokasi hati orang-orang musyrik Makkah untuk memerangi kaum Muslimin di jaman Rasulullah Saw.

Ketiga, peranan negara dalam melindungi, mengayomi, dan memberdayakan rakyatnya semakin jauh merosot. Masyarakat seperti disuruh bertanggung-jawab sendiri dengan kehidupan mereka. Saat Tragedi Ambon terjadi, kontrol negara sangat lemah. Negara seperti tidak bisa mencegah terjadinya tragedi itu.

Keempat, problem kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial, rendahnya taraf pendidikan, korupsi, kemunafikan politik, amoralitas, dll. semakin meluas di tengah masyarakat. Semua itu sangat potensial memantik terjadi konflik, kerusuhan, atau kekacauan sosial. Situasi di Ambon ketika itu dipicu oleh bentrok antar preman yang baru datang dari Jakarta. Namanya preman, jelas mereka bukan orang yang memiliki aktivitas sosial mapan dan produktif. Umumnya pengangguran.

Kelima, kondisi Ummat Islam secara umum semakin hedonis. Memuja kesenangan, hiburan, dan materi. Media TV sangat berperan besar dalam urusan ini. Kalau Ummat sudah sangat terlena seperti itu, mereka “akan dipanen” oleh orang-orang kufar. Hanya tinggal menanti momentumnya saja. Kufar tak akan berani menyerang Ummat, kalau keimanannya kuat. Kaum Muslim di Ambon sebelum kejadian tahun 1999 juga cenderung hedonis.

Keenam, penghujatan terhadap nilai-nilai Islam atau simbol Islam, semakin terang-terangan. Lihat betapa beraninya pembela Zionis berencana memperingati HUT Israel di Jakarta; lihat bagaimana Hanung Bramantyo menyerang Islam melalui film “?”; lihat ucapan Kepala BNPT atau pejabat Mabes Polri yang seenaknya mengaitkan ajaran Islam dengan terorisme; lihat opini di TVOne dan MetroTV yang selalu memojokkan Islam dalam isu terorisme; lihat keberanian Ahmadiyyah dalam menampakkan kesesatannya; lihat ucapan orang-orang JIL, ucapan Abdurrahman Wahid, dan lain-lain. Dulu sebelum kasus Ambon, wakil-wakil rakyat Nashrani dari PDIP juga kencang dalam melakukan serangan-serangan opini. Ucapan atau serangan opini ini sangat membahayakan kedamaian hidup ke depan.

Kami ingin mengingatkan kaum Muslimin agar hati-hati dengan kondisi saat ini. Janganlah kita egois, hanya memikirkan diri sendiri; memburu karier, profesi, hobi, dan aneka kesenangan duniawi. Kita harus selalu cermat, waspada, dan melihat kondisi sosial dengan perspektif yang peka.

Dalam kondisi seperti Indonesia saat ini, ia adalah LAHAN SUBUR bagi munculnya tragedi-tragedi kemanusiaan memilukan. Di negeri ini: Kepemimpinan tak berwibawa, ekonomi morat-marit, korupsi merajalela, hukum tidak tegak, aparat keamanan punya bisnis sendiri, hedonisme luar biasa berkembang, media-media massa hanya mengejar duit, aliran dan paham sesat tumbuh subur, kesenjangan sosial sangat lebar, dll.

Di atas kondisi morat-marit ini, kalau kaum kufar memiliki kuasa politik dan didukung oleh logistik persenjataan, maka sangat mudah bagi mereka untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, yaitu membuat horor dalam kehidupan kaum Muslimin. “Wa laa yazaluna yuqatilunakum hatta yaruddukum ‘anid dinikum, inistatha’uu” (mereka tak henti-hentinya memerangi kalian, sampai mereka bisa membuat kalian murtad dari agama kalian, jika mereka sanggup melakukan semua itu). Al Baqarah: 217.

Mohonlah kita selalu waspada. Senantiasa bergandeng-tangan dengan sesama Muslim. Komitmen dengan agama Allah. Saling bantu-membantu dalam kebajikan dan takwa. Serta mengingatkan Ummat agar tidak lalai oleh acara-acara TV yang semakin hedonis dan merusak akal sehat.

Kami mengingatkanmu akan sesuatu yang sangat jauh dari indahnya mimpi-mimpi; kami mengingatkan akan bahaya yang selalu mengintai. Kalian merasa aman, tenang, dan biasa-biasa saja. Padahal hati-hati musuh kalian selalu bergemuruh, ingin menelan kalian, seperti ingin menelan hidangan di atas meja. Apalagi syaitan yang tidak tampak, mereka terus memprovokasi hati-hati kufar itu agar meluluh-lantakkan kehidupan kalian sehancur-hancurnya.

Para agamawan, ahli-ahli Islam, para sarjana, para master, para doktor di bidang Islam; para dai, para muballigh, para ustadz, para kyai, dan sebagainya; mohon Anda bimbing baik-baik Ummat ini. Mohon beri peringatan ke mereka agar tidak lalai, agar tidak melemah keimanan dan komitmennya. Jangan terlalu banyak basa-basi, sehingga kelak Anda dianggap ikut andil dalam melemahkan kehidupan Ummat ini. Sudahi basa-basi itu, sebab kondisi saat ini membutuhkan ketegasan, sehingga bisa memberikan arah yang jelas. Era basa-basi adalah era tahun 70-an. Kini sudah abad 21, jadi beda tantangannya.

Inilah setitik kerisauan yang ingin diutarakan. Mungkin akan ada yang menuduh, “Ini paranoid.” Tetapi kalau Anda teliti melihat situasi riil yang melingkupi kehidupan Ummat saat ini, niscaya akan Anda tarik kembali tuduhan itu.

Semoga Allah menganugerahkan keselamatan lahir-bathin, dunia-Akhirat, kepada kita semua. Allahumma aamiin.

Abi Syakir.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...