Ads 468x60px

.

Jumat, 25 November 2011

Rukhshoh Edisi 10 dan 11 " selesai ALHAMDULILLAH"

Nih yang ke 10 nya...Pengguguran kewajiban

Prinsip perintah dilaksanakan sesuai dengan kemampuan. Demikianlah Alloh memaafkan orang-orang karena udzur yang ia hadapi sehingga menyebabkan gugurnya kewajiban. Di antaranya :

1. Gugurnya jihad bagi orang lemah

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلاَ عَلَى الْمَرْضَى وَلاَ عَلَى الَّذِيْنَ لاَ يَجِدُوْنَ ماَ يُنْفِقُوْنَ حَرَجٌ إذَا نَصَحُوْا لله وَرَسُوْلِهِ

Berdasarkan ayat ini maka Syaikh Abdurrohman Nashir Assa’di membagi tiga kelompok yang digugurkan kewajibannya untuk berjihad :

• Dlu’afa (orang-orang lemah) baik karena badannya karena sudah tua atau pandangan matanya

• Mardlo (orang sakit) meliputi semua penyakit yang menyebabkan dirinya tidak mampu berangkat berperang

• Orang yang tidak cukup bekal untuk berangkat

2. Gugurnya haji bagi yang tidak memiliki isthitho’ah (kemampuan)

ولله عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطاَعَ إلَيْهِ سَبِيْلاً

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah [ali imron : 97]

Haji adalah ibadah berat. Memerlukan kekuatan fisik dan dana yang tidak sedikit sehingga bagi yang tidak memiliki kemampuan maka sungguh Alloh Maha Pengampun. Setidaknya ada kelompok yang diperkenankan untuk tidak menunaikan ibadah haji. Di antaranya : wanita yang tidak memiliki mahrom, orang yang sudah tua, orang fakir yang tidak memiliki cukup bekal dan ketiadaan kendaraan yang bisa mengantar para calon haji sampai ke tanah suci. Hal ini berdasarkan nash-nash di bawah ini :

ولله عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطاَعَ إلَيْهِ سَبِيْلاً

mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah [ali imron : 97]

وَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: ( قِيلَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ, مَا اَلسَّبِيلُ ? قَالَ: اَلزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, وَالرَّاجِحُ إِرْسَالُهُ

Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah sabil (jalan) itu? beliau bersabda: "Bekal dan kendaraan." Riwayat Daruquthni. Hadits shahih menurut Hakim. Hadits mursal menuru pendapat yang kuat.

وَعَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا َوَعَنْهُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ يَقُولُ: ( " لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِاِمْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ, وَلَا تُسَافِرُ اَلْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ " فَقَامَ رَجُلٌ, فَقَالَ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ, إِنَّ اِمْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً, وَإِنِّي اِكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا, قَالَ: اِنْطَلِقْ, فَحُجَّ مَعَ اِمْرَأَتِكَ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika khutbah bersabda: "Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menyepi dengan seorang perempuan kecuali dengan mahramnya, dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama mahramnya." Berdirilah seorang laki-laki dan berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku pergi haji sedang aku diwajibkan ikut perang ini dan itu. Maka beliau bersabda: "Berangkatlah dan berhajilah bersama istrimu." Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.

3. Gugurnya ibadah shoum dan fidyahnya bagi orang yang sudah tua renta sementara ia adalah orang fakir
Nih yang ke 11nya.... "HARAM JADI MAHAL"
Tidak ada satupun perintah dari Alloh bila dilaksanakan kecuali akan menjadi maslahat bagi hambaNya, demikian juga larangan yang Alloh tetapkan pada hambaNya. Ditaati akan mendatangkan kebahagiaan, dilanggar akan mengundang kesengsaraan.
Dengan rahmat Alloh bagi hambaNYa, dalam situasi tertentu terkadang keharaman tidak berlaku selamanya, artinya bisa saja kondisi menyebabkan seseorang bisa dimaklumi oleh syariat untuk menerjang larangan. Di antaranya :

1. Pemakaian kain sutra bagi laki-laki yang berpenyakit gatal

Hal ini berlaku bagi Abdurrohman bin Auf dan Zubair sebagaimana hadits di bawah ini :

وَعَنْ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: ( نَهَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ لُبْسِ اَلْحَرِيرِ إِلَّا مَوْضِعَ إِصْبَعَيْنِ, أَوْ ثَلَاثٍ, أَوْ أَرْبَعٍ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang memakai sutera kecuali sebesar dua, tiga, atau empat jari. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.

َوَعَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَخَّصَ لِعَبْدِ اَلرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ, وَالزُّبَيْرِ فِي قَمِيصِ اَلْحَرِيرِ, فِي سَفَرٍ, مِنْ حَكَّةٍ كَانَتْ بِهِمَا ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memberi keringanan kepada Abdurrahman Ibnu Auf dan Zubair untuk memakai pakaian sutera dalam suatu bepergian karena penyakit gatal yang menimpa mereka. [Muttafaq Alaihi]

Bagi yang tidak berpenyakit gatalpun ternyata diperkenankan untuk mengenakannya dengan syarat lebarnya tidak lebih dari empat jari.

وَعَنْ عُمَرَ رضي الله عنه قَالَ: ( نَهَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ لُبْسِ اَلْحَرِيرِ إِلَّا مَوْضِعَ إِصْبَعَيْنِ, أَوْ ثَلَاثٍ, أَوْ أَرْبَعٍ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

Umar Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang memakai sutera kecuali sebesar dua, tiga, atau empat jari. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.

2. Makanan haram dalam kondisi mendesak

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ باَغٍ وَلاَ عاَدٍ فَلاَ إثْمَ عَلَيْهِ إنَّ الله غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[albaqoroh : 173]

Syaikh Abdurrohman Nashir Assa’di berkata : manusia dalam kondisi terdesak diperintahkan untuk memakan makanan yang diharamkan, ia dilarang mencampakkan dirinya ke dalam kebinasaan dan membunuh dirinya, oleh karena itu wajib baginya untuk memakannya dan ia berdosa bila meninggalkannya hingga akhirnya ia mati. Kalau itu terjadi maka ia dinilai telah membunuh dirinya sendiri.

Inilah pembolehan dan keluasan rohmat Alloh bagi hambaNya selanjutnya Alloh menutup ayat ini dengan dua namaNya yang Mulia yang selaras dengan pembahasan ayat “ ghofuurun dan rohiimun “

3. Ucapan kekufuran di bawah tekanan

مَنْ كَفَرَ بِالله مِنْ بَعْدِ إيْماَنِهِ إلاَّ مَنْ أكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيْماَنِ وَلكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْراً فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ الله وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah Dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, Maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar [annahl : 106]

Ibnu Katsir menerangkan ayat ini turun berkenaan dengan Amar bin Yasir ketika disiksa oleh orang-orang musyrik hingga ia kufur kepada Muhammad shollallohu alaihi wasallam. Ia ikuti paksaan orang musyrik dengan lafadznya karena ia berada dibawah intimidasi dan siksaan sementara hatinya bertentangan dengan apa yang ia ucapkan dan hatinya tetap tentram dalam keimanan kepada Alloh dan rosulNya.

Akhirnya Alloh turunkan ayat ini sebagai hiburan bagi Ammar atas ampunan dan pemakluman dari Alloh.

Alhamdulillahi Robil 'aalamiin, Wa Shalallahu 'alaa muhammadin...Wallahu 'alam bisshowaab. Semoga Bermanfaat ... 

Wassalaamu'alaikum warahmatullohi wabarokaatuh.  

sumber tulisan Rukhsoh part 1-11 :
 
oleh Hardi Ansyah

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...