Ads 468x60px

.

Jumat, 14 September 2012

PERSELISIHAN DALAM ISLAM

Oleh Ustadz Abu Ubaidah Yusuf

I. PENGANTAR

“Perselisihan umatku adalah rahmat“. Hampir tidak ada di antara kita yang tak pernah mendengar atau membaca hadits ini.  Ia sangat begitu akrab dan populer sekali, baik di kalangan penceramah, aktivis dakwah, penulis, bahkan oleh masyarakat biasa masa kini.

Hanya saja, sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban: Apakah kemasyhuran ungkapan tersebut berarti kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan?! Pernahkah terlintas dalam benak kita untuk mengkritisi ungkapan tersebut dari sudut sanad dan matan-nya?! Tulisan berikut mencoba untuk mengorek jawabannya. Semoga Allah menambahkan ilmu yang bermanfaat kepada kita. Aamiin.

Minggu, 12 Agustus 2012

Sajadah "senjata penghancur persatuan"

 

Assalamualaikum...
Ini adalah sebuah cerita renungan terhadap diri kita

Mudah-mudahan dengan cerita ini dapat mengingatkan diri sendiri ataupun Orang lain...


Tentang cara Iblis menyesatkan manusia menggunakan SAJADAH

Siang menjelang dzuhur . salah satu iblis ada di masjid. Kebetulan hari itu adalah hari Jum'at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada di dalam masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk dan masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air

Pada setiap orang, iblis masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap SAJADAH. "Hai Blis!" panggil seorang Kiai, ketika baru masuk masjid. Iblis merasa terusik dan berkata : "Kau kerjakan saja tugasmu kiai, Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam masjid ini!"


Pak Kiai : "ini rumah ALLAH, blis! Tempat yang suci, kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!" Kiai coba mengusir iblis.

Iblis : "Kiai, hari ini adalah hari uji coba sistem baru". Kiai tercenggung. "Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu".

Sabtu, 04 Agustus 2012

"BUKAN URUSAN SAYA"



Suatu ketika Kekhhalifahan utsmani yang waktu itu dipimpin Sultan Ahmad I baru saja mengalami sebuah kekalahan yang besar. Hal ini kemudian menjadikan sang khalifah bingung dan kecewa, maka diputuskanlah untuk mengutus orang untuk bertanya kepada seorang ulama.  Seorang ulama besar, yang sangat dipercaya oleh khalifah waktu itu adalah Syeikh Muhammad Sa’ dudin bin Hasan Khan al-Tabrizi (wafat 1008H).

Pertanyaan sang utusan khalifah tersebut berbunyi,

“ Apa kekurangan yang terdapat di Negara ini (sehingga kita mengalami kemunduran dan kekalahan daripada musuh) padahal Allah menjanjikan kememangan bagi umat Islam?”



sang syeikh menjawab dengan kalimat yang sangat sederhana dan ringkas,

“Bukan urusan saya.”



Tentu saja jawaban dari sang syeikh ini membuat heran utusan sang khalifah. Bagaimana tidak, sang syeikh yang terkenal sebagai seorang yang hebat, mampu menjawab ratusan permasalahan hukum dan fatwa melalui hafalannya tanpa merujuk kitab terlebih dahulu. Tetapi mengapa ketika ditanyakan padanya permasalahn yang begitu serius ini jawaban beliau terkesan menyepelekan dan  acuh tidak acuh.

Minggu, 25 Maret 2012

Sifat-Sifat Salaf

Salafusshalih (orang-orang terdahulu dari kalangan umat Islam yang shalih) memiliki segudang akhlak mulia yang “barangkali” sudah sangat jarang ditemui di masa sekarang ini. Maka, dalam risalah ini, saya coba susun beberapa akhlak mulia mereka agar bisa menjadi perenungan bagi kita semua. Sudahkah kita memiliki akhlak mereka?


I. Salaf tidak Mencari-Cari Keburukan Muslim yang lain…
Seorang salaf, yang bernama Sahal ibn ‘Abdillah berkata, “Jangan suka mencari-cari kekurangan orang lain dankeburukan akhlaknya. Akan tetapi, cari dan telitilah bagaimana kondisi Anda di dalam akhlak Islam, sehingga Anda selamat dan bisa menghormati kedudukannya di dalam diri Anda dan di sisi Anda” [ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, IV/279 ].
II. Salaf Senantiasa Berwajah Ceria terhadap Orang Lain
Urwah bin Zubair, murid shahabat Nabi, berkata, “Tertulis di dalam hikmah, “Ucapkanlah kata-kata yang baik dan tampilkanlah wajah yang cerah. Niscaya Anda lebih dicintai orang daripada mereka yang memberikan banyak hadiah.” [ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, II/178 ]

Sabtu, 24 Maret 2012

Tuhan Macam Apa yang Diklaim Firaun ?

Oleh: Ust. Abu Sulaiman Aman Abdurrahman (Fakallahu ‘Asrah)

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul’alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan para shahabatnya seluruhnya.

Sering sekali kita mendengar ucapan: “Alangkah durjananya Fir’aun, bagaimana bisa dia mengaku tuhan dan membunuhi anak-anak laki-laki?”. Ada pertanyaan yang harus dijawab: Ketuhanan macam apa yang diklaim oleh Fir’aun saat dia mengatakan:

“Akulah tuhan kalian yang paling tinggi” (An Nazi’at: 24)
Dan saat Dia mengatakan:

“Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagi kalian selain aku” (Al Qashash: 38)


Apakah dia mengklaim menciptakan langit dan bumi beserta isinya? Apakah dia mengklaim memiliki manfaat dan madlarat? Dan apakah bentuk peribadatan kaum Fir’aun kepadanya? Serta apakah ada orang-orang di zaman sekarang yang seperti Fir’aun?

Kamis, 15 Maret 2012

Beda Ahlus Sunnah dengan “Salafi"



Mengingat kelompok murji’ah berbaju “salafi” semakin berkembang di negeri Indonesia, maka kita patut waspada agar virus murji’ah ini tidak menyebar dikalangan kaum muslimin. Dengan mengetahui ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan Ahlus Sunnah dengan “Salafi” diharapkan kita tidak tertipu dengan ucapan mereka yang mengklaim dirinya ahlus sunnah, namun pada hakekatnya mereka adalah murji’ah disadari maupun tanpa mereka sadari. Berikut penjelasannya...


Pertama, perbedaan inti ahlus sunnah dengan salafi adalah ahlus sunnah menyakini bahwa seseorang bisa kafir karena hati, ucapan, maupun perbuatannya dan ahlussunnah menghukumi kafir seseorang berdasarkan dhohir ucapan dan perbuatan seseorang. Hal ini berdasarkan surat at taubah ayat ke 65-66 yang yang mana Alloh mengkafirkan sekelompok orang yang menghina Rosululloh dan para sahabatnya. Sedangkan salafi menghukumi kafir seseorang berdasarkan hatinya, kalo ada seseorang yang mengucapkan dan mengamalkan perbuatan kufur maka salafi belum berani mengkafirkannya sebelum mengetahui isi hatinya.

Kamis, 08 Maret 2012

Resiko Menjadi Seorang Da'i

1. Menghina dengan kata-kata

Majnun (orang gila) pernah diterima oleh Musa dan rosululloh shollallohu alaihi wasallam :

 فَتَوَلَّى بِرُكْنِهِ وَقَالَ سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

Maka Dia (Fir'aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila." [ADZ DZAARIYAAT: 39]

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

35. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,

36. Dan mereka berkata: "Apakah Sesungguhnya Kami harus meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena seorang penyair gila?" [ASH SHAAFFAAT: 35-36]

Kamis, 01 Maret 2012

Andai Aku Memiliki 100 Nyawa

 

KISAH ABDULLAH BIN KHUDZAFAH DAN RAJA ROMAWI


 
Ibnu Katsir dan lainnya meriwayatkan, Umar bin Khattab radhiyallahu'anhum. mengutus pasukan melawan Romawi. Ikut serta dalam pasukan ini, seorang sahabat muda bernama Abudullah bin Khudzafah radhiyallahu'anhum. Perang pun berkecamuk hebat. Kehebatannya menyisakan dercak kagum panglima Romawi atas keteguhan kaum Muslimin dan keberanian mereka menghadapi maut.


Kemudian raja Romawi memerintahkan agar pasukan Muslimin yang mereka tawan dihadapkan kepada mereka. Didatangkanlah di hadapannya, Abdullah bin Khudzafah radhiyallahu'anhum. Ia diseret dengan tangan yang dirantai dan kaki yang diikat.


Setelah berbincang-bincang dengannya, raja kagum atas kecerdasannya. Ia berkata kepada Abdullah, “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kubebaskan.” Abdullah radhiyallahu'anhum. menolaknya. Raja tetap menawarinya lagi, “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kuberikan separo kekuasaanku.”
 


Namun Abdullah tetap tegas menolaknya. “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kuberi separo dari kekuasaanku dan kuikutsertakan kau dalam pemerintahanku,” desak raja. Abdullah berkata, “Demi Allah, andai saja engkau berikan seluruh kekuasaanmu dan kekuasaan nenek moyangmu kepadaku bahkan seluruh kekuasaan Arab dan Ajam (non Arab), aku tetap tak sudi untuk keluar dari Islam.” “Kalau begitu kamu akan kubunuh,” putus raja. “Bunuhlah,” jawab Abdullah.

Rabu, 29 Februari 2012

Bahaya Bicara Agama Tanpa Ilmu



Memahami ilmu agama merupakan kewajiban atas setiap muslim dan muslimah. Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim. [HR. Ibnu Majah no:224, dan lainnya dari Anas bin Malik. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani]

Dan agama adalah apa yang telah difirmankan oleh Alloh di dalam kitabNya, Al-Qur’anul Karim, dan disabdakan oleh RosulNya di dalam Sunnahnya. Oleh karena itulah termasuk kesalahan yang sangat berbahaya adalah berbicara masalah agama tanpa ilmu dari Alloh dan RosulNya.Sebagai nasehat sesama umat Islam, di sini kami sampaikan di antara bahaya berbicara masalah agama tanpa ilmu:

1.Hal itu merupakan perkara tertinggi yang diharamkan oleh Allah.

Alloh Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” (Al-A’raf:33)

Jumat, 24 Februari 2012

Hukum Menghancurkan Buku-Buku Ahli Bid'ah Dan Sesat !!!



Oleh : Syaikh Masyhur bin Hasan Ali Salman


Didalam As-Shawarimul Haddad hal. 68 Imam Syaukani menukil ucapan sekelompok ulama seperti Al-Bulqainy, Ibnu Hajar, Muhammad bin Arafah, dan Ibnu Khaldun, berkaitan dengan buku-buku yang ditahdzhir:

Hukum mengenai buku-buku yang berisi aqidah yang menyesatkan dan buku-buku yang banyak beredar di tengah-tengah masyarakat seperti al-Fushulul Hikam dan Futhuhatul Makkiyah karya Ibnu Arabi, Al-Bad karya Ibnu Sab'in, Khal'un Na'lain karya Ibnu Qasi, 'Alal Yakin karya Ibnu Barkhan dan disamakan dengan buku-buku ini kebanyakan syair-syair Ibnu faridh dan Al-'Afif At-Tilmisani. Demikian juga buku syarh Ibnul Farghani terhadap qasidah at-Taiyah karya Ibnul Faridh.

Hukum dari buku-buku ini dan semisalnya adalah "Harus Dilenyapkan Kapan Saja Ditermukan" dengan cara dibakar atau dilunturkan tintanya dengan air.

Imam Ibnul Qayyim mempunyai perkataan yang sangat bagus tentang keharusan membakar dan menghancurkan buku-buku ahli bid'ah dan sesat, dan behwa orang yang melakukan hal itu tidak menanggung ganti rugi, beliau rahimahullahu berkata :" Demikian juga tidak ada ganti rugi didalam membakar dan menghancurkan buku-buku yang menyesatkan."

Al Marudzi berkata kepada Imam Ahmad :"Aku meminjam buku yang banyak berisi hal-hal yang jelek, menurut pendapatmu apakah (lebih baik) aku rusakkan atau aku bakar ?

Imam Ahmad menjawab :"Ya, Nabi Shalallahu alaihi wa sallam pernah melihat buku ditangan Umar yang ia salin dari Taurat dan ia terkagum-kagum dengan kecocokan Taurat dengan Al-Qur'an, maka berubahlah raut muka Nabi Shalallahu alaihi wa sallam sehingga pergilah Umar ketungku lalu melemparkannya ke dalam tungku."

Minggu, 19 Februari 2012

Peringatan Bagi Mujahid Islam

"hal-hal yang perlu di HINDARI oleh seorang mujahid (ketika ingin, sedang dan setelah berperang)"

1. Melarikan diri saat perang berkecamuk


يأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا إذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا زَحْفًا فَلاَ تُوَلُّوْهُمُ الأدْبَارَ

وَمَنْ يُوَلِّيْهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إلاَّ مُتَحَرِّفًا لِّقِتَالٍ أوْ مُتَحَيِّزًا إلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ الله وَمَأْوَاهُ

جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيْر

15. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).

16. Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. dan Amat buruklah tempat kembalinya. [al anfal : 15-16]

Pelajaran yang bisa diambil dari ayat ini bahwa dua hal yang akan diterima bagi mujahid yang diserse yaitu kemurkaan dari Alloh dan neraka jahanam kecuali bila larinya dengan tujuan untuk strategi atau bergabung dengan kelompok lain

HIKMAH DI BALIK TERTUNDANYA DOA





"HIKMAH DI BALIK TERTUNDANYA DOA"


1 >>> Telah pasti, berdasarkan dalil-dalil yang tegas, kebijaksanaan ALLAH 'Azza wa Jalla adalah pemilik dan Pemilik berhak memberikan atau tidak memberikan apa-apa yang dimiliknya. oleh karna itu memprotesnya adalah sauatu tindakan yang tak punya alasan, walau cuma sedikit

Kamis, 26 Januari 2012

Mereka -Non Muslim- Berbicara Tentang Islam




 

  •  Al Quran Menurut Para Ilmuwan


“Agama dapat menjadi petunjuk yang berhasil untuk pencarian ilmu pengetahuan. Dan agama Islam dapat mencapai sukses dalam hal ini. Tidak ada pertentangan antara ilmu genetika dan agama. Kenyataan di dalam al-Quran yang ditunjuk­kan oleh ilmu pengetahuan menjadi valid. AI-Quran yang berasal dari Allah mendukung ilmu pengetahuan.
- Prof. Dr. Joe Leigh Simpson
Ketua Jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi dan
Prof. Molecular dan Genetika Manusia,
Baylor College Medicine, Houston,
Amerika Serikat.



"Nabi Muhammad SAW sebagai buku ilmu pengetahuan dari Allah. "
- Prof. Marshall Johnson
Guru Besar ilmu Anatomi dan Perkembangan Biologi,
Universitas Thomas Jefferson,
Philadelphia, Pennsylvania,
Amerika Serikat.


“AI-Quran adalah sebuah kitab, petunjuk, kebenaran, bukti,” dan kebenaran yang abadi bagi kita sampai akhir zaman. "
- Prof. TVN Persaud
Ahli anatomi, ahli kesehatan anak-anak,
dan ahli ginekologi kebidanan dan ilmu reproduksi
di Universitas Manitoba, Winnipeg, Menitoba,
Kanada.


"Semua yang tertulis di dalam al-Quran pasti sebuah kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan peralatan ilmiah. "
- Prof. Tejatat Tejasen
Ketua Jurusan Anatomi Universitas Thailand,
Chiang Mai


"...metode ilmiah modern sekarang membuktikan apa yang telah dikatakan Muhammad 1400 tahun yang lalu. AI-Quran adalah buku teks ilmu pengetahuan yang simpel dan sederhana untuk orang yang sederhana. "
- Prof. Alfred Kroner
Ketua Jurusan Geologi Institut Geosciences,
Universitas Johannnes Gutterburg, Maintz,
Jerman.

ISLAM DAN PEDANG (-LANJUTAN-)




“Mengapa Rasulullah menyebarkan Islam lewat pedang (dengan jalan kekerasan) ?”



Pertanyaan ini paling banyak ditanyakan orang-orang barat, oleh karena pengaruh pers di negara mereka yang sangat menjelek-jelekkan Islam, terlebih mengenai kepribadian Nabi Muhammad. Seperti yang sudah saya kemukakan pada artikel ‘Makna Jihad Sesungguhnya!!’, bahwa umat Islam dilarang untuk memulai suatu tindakan yang sifatnya “tidak terpuji”, misalnya dengan jalan paksa atau kekerasan bila tidak didahului. Islam sangat menjunjung tinggi HAM (Hak-hak Asasi Manusia) dan perdamaian. Ini tersirat jelas lewat firman-firman Allah dalam ayat-ayat pada Al-Qur’an, seperti misalnya pada ayat-ayat berikut ini :



009. Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al-Hujuraat [49] : 9)


039. Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maaidah [5] : 39)

Rabu, 25 Januari 2012

Islam dan Pedang (DR Zakir Abdul Karim Naik)




Keluhan umum di kalangan non muslim adalah Islam tidak akan memiliki jutaan penganut di seluruh dunia, sekiranya ia tidak disebarkan dengan menggunakan kekerasan. Poin-poin berikut akan menjelaskan bahwa selain di sebarkan dengan pedang, kekuatan kebenaran, nalar, dan logikalah yang menyebabkan penyebaran Islam menjadi pesat.


 
  • 1. Islam berarti damai

Islam berasal dari akar kata salaam yang berarti damai. Selain itu juga berarti penyerahan kehendak seseorang kepada Allah. Dengan demikian Islam adalah agama kedamaian yang diperoleh dengan penyerahan kehendak seseorang kepada kehendak Allah.


  •  2.Terkadang kekerasan harus duginakan untuk memelihara kedamaian


Tidak setiap orang di dunia mendukung perdamaian dan harmoni. Ada banyak orang yang akan merusak kedamaian demi kepentingan mereka sendiri. Ada kalanya kekerasan harus di gunakan untuk memelihara kedamaian. Persisnya untuk alasan inilah kita punya polisi yang menggunakan kekerasan terhadap para penjahat dan anasir anti-masyarakat menjaga kedamaian di suatu negara.

Selasa, 24 Januari 2012

Matahari telah terbit dari Barat?

Oleh: Ali Said



menanggapi diskusi Miling List MIIAS beberapa bulan yang lalu tentang perkembangan Islam di Negara-negara barat adalah bahwa perkembangan Islam yang cepat di Negara-negara barat erat kaitannya dengan salah satu tanda-tanda kiamat yang disebutkan dalam sebuah hadist yaitu "matahari akan terbit dari arah barat". Menurutnya, salah satu tanda-tanda kiamat tersebut dapat ditafsirkan dengan "Islam akan bersinar dari dunia barat". Tulisan ini mencoba membahas sejauh mana keberanaran tafsir tersebut berdasarkan bukti-bukti yang ada, serta pendapat dari berbagai kalangan baik dari kelompok Islam maupun non-Islam. Selain itu, tulisan ini akan mencoba melihat perkembangan Islam di Negara-negara barat secara umum baik Eropa maupun Amerika, dan selanjutnya penekanan akan lebih dititik beratkan pada Amerika Serikat sesuai dengan ketersediaan data yang ada untuk analisis.


Kalau salah seorang jamaah MIIAS menasfsirkan kata "matahari" dalam kalimat "matahari akan terbit dari barat" dengan kata "Islam", maka berarti kalimat tersebut tergolong dalam gaya bahasa metamorfosa. Sebenarnya gaya bahasa metamorfosa banyak digunakan manusia dari berbagai belahan bumi. Misalnya di Indonesia kita mengenal "Ayam Jantan dari Timur" yang menggambarkan kepahlawanan Pattimura. Kemudian mungkin ada yang pernah mendengar atau melihat film berjudul "Lion on the Desert" atau "Singa Padang Pasir". Dan juga Sahabat Ali RA dikenal dengan julukan "Al Baabu al-ilmu" atau "Pintunya Ilmu". Jadi pada dasarnya penafsiran salah seorang jamaah MIIAS tersebut mungkin ada benarnya, mengingat bahwa Islam berfungsi sebagai penerang yang menerangi kehidupan manusia untuk berjalan pada rel-rel kebenaran sesuai yang digariskan oleh Allah SWT. Sehingga fungsi Islam dapat diidentikan dengan Matahari.

Senin, 23 Januari 2012

Fundamentalis dan Teroris




Tiap – tiap kita harus pandai memahami istilah – istilah asing yang keluar dari mulut orang kafir agar bisa menempatkan itu sesuai pada tempat dan tatarannya.


Menurut Dr. Zakir Abdul Karim Naik (Presiden Badan Riset Islam –IRF- di Mumbai, India), seorang fundamentalisme adalah seseorang yang mengikuti atau menganut fundamental (asas) suatu doktrin atau teori yang dianut.


Contoh, agar bisa menjadi seorang dokter yang baik, dia harus mengetahui, mengikuti, dan mempraktekkan fundamental – fundamental kedokteran. Sekali lagi saya tekankan, agar bisa menjadi seorang dokter yang baik, dia harus MENGETAHUI, MENGIKUTI dan MEMPRAKTEKKAN FUNDAMENTAL – FUNDAMENTAL KEDOKTERAN.


Dengan kata lain, dia harus menjadi seorang fundamentalis di bidang kedokteran. Untuk menjadi ahli Tekhnik Informatika yang baik, dia harus menjadi seorang fundamentalis di bidang informatika. Untuk menjadi ahli kimia yang baik, dia pun harus menjadi seorang fundamentalis di bidang kimia. Dan untuk menjadi Muslim yang baik, maka ia harus menjadi seorang fundamentalis di bidang keislamannya.


Jika kita ingin menjadi seseorang fundamentalis di suatu bidang, maka kita harus MENGETAHUI, MENGIKUTI dan MEMPRAKTEKKAN fundamental – fundamental di bidang yang kita inginkan. (inilah kuncinya).

Dan kita tidak boleh memukul rata semua fundamentalis, seorang fundamentalis tidak bisa dikategorikan baik secara keseluruhan. Pengkategorian setiap fundamentalis tergantung pada bidang / aktivitas dimana ia menjadi seorang fundamentalis

Contoh, seorang perampok fundamentalis menyebabkan kerugian dan keburukan di masyarakat dan karenanya ia tidak dikehendaki oleh social masyarakat. Sedangkan seorang Muslim yang fundamentalis bisa bermanfaat bagi masyarakat dan bisa dihormati bahkan bisa menghapus para perampok fundamentalis yang meresahkan masyarakat. Karena Muslim yang fundamentalis adalah Muslim yang MENGETAHUI, MENGIKUTI dan MEMPRAKTEKKAN fundamental – fundamental (asas – asas) agama Islam di dalam dirinya.


Saya adalah fundamental muslim yang dengan rahmat ALLAH, mengetahui dan berusaha melaksanakan fundamental-fundamental/ prinsip-prinsip Islam. Seorang muslim sejati tidaklah merasa malu untuk menjadi seorang fundamentalis. Saya bangga menjadi fundamentalis muslim karena saya mengetahui bahwa fundamental-fundamental/pokok-pokok Islam sangat menguntungkanbagi  kemanusiaan dan seluruh dunia ini.


Tidak ada satupun fundamental-fundamental Islam yang membahayakan ataupun berlawanan dengan kepentingan ras manusia keseluruhan. Banyak orang salah konsepsi tentang Islam dan melihat beberapa ajaran Islam dengan tidak benar dan keliru. Hal ini dikarenakan kurang dan buruknya pengetahuan tentang Islam. Jika seseorang menganalisa secara kritis tentangiajaran Islam dengan pokiran terbuka, maka tidak dapat dipungkiri bahwa Islam sarat dengan karunia serta manfaat baik pada level individu maupun kolektif.



Jika orang – orang kafir dungu itu masih mestereotipkan kita (kaum Muslim) dengan konotasi buruk : “Muslim fundamentalis yang meresahkan”. Maka ketahuilah bahwa di kamus Webster arti dari fundamentalisme adalah sebuah GERAKAN PROTESTANISME AMERIKA yang muncul pada paruh pertama abad ke-20. Gerakan ini adalah reaksi terhadap modernisme dan menekankan kebenaran mutlak injil, bukan hanya dalam perkara iman dan moral tetapi juga sebagai catatan sejarah sesungguhnya.


Jadi, bisa kita simpulkan bahwa istilah fundamentalisme pertama kali dikoar – koarkan oleh orang Kristen sendiri yang saat ini sering menuduh bahwa Muslim itu adalah fundamentalis jahat dan teroris.

Jadi, sebenarnya, siapakah yang patut dituduh fundamentalis jahat ???

Dan saya pribadi bangga menjadi seorang Muslim yang fundamentalis !!! Karena bisa MENGETAHUI, MENGIKUTI dan MEMPRAKTEKKAN fundamental – fundamental agama Islam.



  • Teroris

Teroris itu adalah orang yang mendatangkan teror / ancaman bagi orang lain. Nah, istilah asing ini juga sering distigmakan terhadap seorang Muslim yang fundamentalis tanpa ada keadilan dalam menstigmatisasi.

Jika kita mau menilai dengan adil. Maka akan kita temukan bahwa polisi juga sekelompok teroris. Kenapa ? karena polisi juga meneror para penjahat. Perampok, penjahat, pemerkosa, pencuri, pembunuh merasa takut (terteror) jika kebusukannya telah tercium oleh polisi. Suatu hal yang lumrah jika polisi menjadi teroris bagi kalangan para penjahat.

Begitu juga Muslim, setiap muslim wajib menjadi teroris bagi kelompok – kelompok anti-sosial kemasyarakatan (sampah – sampah masyarakat) seperti pemabuk, pezina, pencuri, penjudi dan pecandu kemaksiatan lainnya. Seharusnya jika kelompok –kelompok anti-sosial kemasyarakatan tadi bertemu seorang Muslim yang fundamental harusnya mereka merasa terteror oleh Muslim itu karena setiap Muslim berkewajiban melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar (menyerukan kebaikan / kebenaran dan mencegah kemunkaran). Nah, disinilah tugas seorang Muslim harus menjadi teroris bagi para pelaku meksiat tesebut.

Jadi, tindakan meneror itu wajib dalam Islam. Bahkan ALLAH sendiri telah menurunkan suatu ayat yang mewajibkan untuk menakut – nakuti (meneror) musuh :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menakut - nakuti (menggentarkan / meneror) musuh Alloh dan musuhmu..” (Al-Anfaal : 60)

Tapi, anehnya masih banyak orang dari kalangan Muslim awam (yang tidak faham agama secara benar) yang latah (ikut – ikutan) mengartikan bahwa Muslim yang menjadi teroris adalah buruk dan tak berkprikemanusiaan.

Padahal, jika kita semua menjadi teroris bagi para pelaku kejahatan maka kita mampu menghapus tingkat kejahatan yang merajalela. Inilah yang harus difahami oleh Muslim awam, bukan memahami definisi terorisme yang diberikan Amerika kepada para aktivis Islam.


Sejarah pernah mencatat, ketika pada 19 April 1995 terjadi bom gedung Federal Amerika di Oklahoma, para pers media Amerika yang dungu dan bodoh itu ramai – ramai menyatakan bahwa itu adalah Konspirasi Timur Tengah dan pelakunya adalah teroris Islam.  Ternyata, pas belakangan diketahui biang keladinya adalah Timothy MCVeigh (Kristen) seorang serdadu Angkatan Bersenjata Amerika. Tanpa meminta maaf kepada ummat islam, berita itu tak santer lagi dibicarakan. Inilah sebuah fitnah keji para pers media kafir yang sangat bernafsu melahap Islam dan kaum Muslimin.


  • ANTARA teroris dan patriot

Sebelum India menerima kemerdekaan dari pemerintah Inggris, beberpa pejuang kemerdekaan India yang berkaitan dengan tindak kekerasan dicap sebagai teroris oleh pemerintah inggris. Namun mereka puji masyarakat India sebagai ‘patriot’. Demikianlah, dua cap yang diberikan kepada orang yang sama bagi tindakan yang sama. Ada yang menyebut teroris dan yang lain menyebutnya sebagai patriot. Mereka yang yakin bahwa inggris berhak memerintah India menyebut orang-orang ini sebagai teroris, sementara mereka yang meyakini inggris tidak berhak memerintah India menyebut orang-orang ini sebagai patriot dan pejuang kemerdekaan.


Oleh sebab itu, sangat penting menilai seseorang secara adil, sebelum memberikan vonis kepadanya. Argumen kedua belah pihak harus di dengarkan, situasinya harus dipertimbangkan dan alasan serta niat yang bersangkutan harus diperhitungkan. Setelah itu, barulah orang tadi dinilai dengan pertimbangan-pertimbangan tadi


Jadi, berhati – hatilah menggunakan istilah asing, jangan mudah termakan isu propaganda media kafir.

ALLAH Ta’ala telah berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujuraat : 6)

SUMBER : buku " MEREKA BERTANYA ISLAM MENJAWAB" HAL : 183 ___KARYA : DR ZAKIR NAIK____

Sabtu, 21 Januari 2012

Nasehat Kematian Umar Bin Abdul Aziz



Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz r.a mengiringi jenazah. Ketika semuanya telah bubar, Umar dan beberapa sahabatnya tidak beranjak dari kubur jenazah tadi. Beberapa sahabatnya bertanya, “wahai Amirul Mukminin, ini adalah jenazah yang engkau menjadi walinya. Engkau menungguinya disini lalu akan meninggalkannya“.

Umar berkata, “Ya. Sesungguhnya kuburan ini memanggilku dari belakang. Maukah kalian kuberitahu apa yang ia katakan kepadaku?“.

Mereka menjawab, “Tentu”.

Umar berkata, “Kuburan ini memanggilku dan berkata, ‘Wahai Umar bin Abdul Aziz, maukah kuberitahu apa yang akan kuperbuat dengan orang yang kau cintai ini?‘, “Tentu“, jawabku.

Kuburan itu berkata, “Aku bakar kafannya, kurobek badannya dan kusedot darahnya serta kukunyah dagingnya. Maukah kau kau kuberitahu apa yang kuperbuat dengan anggota badannya?“.

“Tentu“, jawabku.

“Aku cabut (satu per satu dari) telapak ke tangannya, lalu dari tangannya ke lengan dan dari lengan menuju pundak. Lalu kucabut pula lutut dari pahanya. Dan paha dari lututnya. Ku cabut pula lutut itu dari betis. Dan dari betis menuju telapak kakinya“.

Lalu Umar bin Abdul Aziz menangis dan berkata,

Bintang-bintang Top Dunia Bertahan Demi Sebuah Keyakinan

Oleh Fathuddin Ja'far, MA

Ketika ayat-ayat Alquran sudah melekat kuat dalam hati seseorang, tidak seorang pun yang dapat mengubah keyakinan tersebut. Walaupun hal itu harus mengorbankan karir, ketenaran, dan sebagainya.
Untuk menjadi bintang top dunia, khususnya di bidang olah raga, seseorang yang sudah mendapat hidayah Allah swt. tidak harus melepas jati diri sebagai Muslim taat. Bila iman sudah menancap ke dalam lubuk hati seorang Muslim, uang, harta, ketenaran dan berbagai tawaran dunia yang menggiurkan tidaklah sebanding nilainya dengan jati diri sebagai Muslim taat.

Paling tidak, inilah yang dirasakan oleh beberapa bintang top Muslim di dunia olah raga :

Jumat, 20 Januari 2012

5 Kaedah Pernikahan


Judul di atas disarikan dari firman Allah swt yang terdapat dalam surat Ar-Rum, ayat 21 :


وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ


” Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istrimu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang mau berfikir. “


Ketika kita menghadiri resepsi pernikahan, ayat di atas adalah ayat yang paling sering dibacakan oleh qari’ yang ditugaskan melantunkan ayat-ayat Al Qur’an untuk memulai acara resepsi. Para pembicarapun tidak pernah bosan-bosannya menyebut ayat tersebut sebelum memulai ceramahnya untuk menasehati kedua penganten. Maka, sangat penting sebagai seorang muslim yang akan melangsungkan pernikahan ataupun yang sudah menikah untuk merenungi kembali ayat di atas secara lebih seksama. Ayat di atas walaupun singkat dan pendek akan tetapi mengandung pelajaran yang sangat banyak dan bermanfaat, dan selanjutnya bisa kita jadikan pedoman di dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Dari ayat di atas, paling tidak, kita bisa mengambil lima faedah, yang untuk lebih mudahnya kita sebut sebagai lima kaedah pernikahan. Lima kaedah ini akan kita bahas satu persatu dalam tulisan ini.





Kaedah Pertama :


Bahwa pernikahan yang berlangsung antara laki-laki dan perempuan adalah salah satu tanda kekuasaan Allah swt. Artinya bahwa semua pernikahan yang terjadi adalah atas izin Allah swt. Ini yang harus diyakini oleh setiap muslim, terutama yang masih bujang dan mempunyai rencana untuk menikah. Hal ini sangat penting dan akan berpengaruh terhadap psikologi kedua calon penganten. Banyak di antara calon penganten yang stress sebelum menikah, karena calon yang diidam-idamkan selama ini ternyata tidak jadi menikah dengan dirinya. Bahkan sebagian dari mereka bertengkar, dan tidak sedikit yang berakhir dengan kematian hanya karena memperebutkan pacar untuk dinikahinya. Sebagian lain, hari-harinya hanya diisi dengan pertengkaran mulut dengan orang tuanya atau pamannya, hanya karena dia belum mengijinkan anaknya untuk menikah karena mempunyai suatu pertimbangan. 


Bahkan tidak sedikit dari orang-orang yang tahu agama tergelincir dalam masalah yang satu ini. Mereka kadang menuduh orang tuanya telah menghalanginya untuk melaksanakan sunnah Rosulullah saw, padahal sebenarnya orang tuanya mengijinkan anaknya menikah dengan pasangan pilihannya, hanya saja waktunya belum pas untuk dilaksanakan dalam waktu dekat. Dan banyak lagi contoh-contoh yang menunjukkan bahwa calon penganten belum bisa memahami ayat di atas, bahwa semua pernikahan yang dilakukan oleh manusia di dunia ini tidak akan terjadi kecuali dengan ijin Allah swt.

Perlu diketahui bahwa Allah swt telah menentukan taqdir setiap makhluk di dunia ini jauh-jauh sebelumnya yaitu 50.000 tahun sebelum diciptakan langit dan bumi ini, sebagaimana yang disebutkan dalam suatu hadist , bahwasanya Rosulullah saw bersabda ;


أول ما خلق الله القلم قال له: اكتب، فكتب مقادير كل شيء قبل أن يخلق السماوات والأرض بخمسين ألف سنة، وكان عرشه على الماء

” Pertama kali yang diciptakan Allah adalah qalam ( pena ), Allah berfirman kepadanya ; ” Tulislah ” , maka dia menulis taqdir segala sesuatu semenjak 50.000 tahun sebelum diciptakan langit dan bumi dan Arsy Allah di atas air. ‘ ( HR Muslim )


Hadist di atas menjelaskan secara tidak langsung bahwa istri kita telah ditentukan oleh Allah swt, jauh sebelum kita diciptakan di muka bumi ini, kalau kita mengetahui hal itu, kenapa harus stress ? , kenapa harus berebut pacar ? dan kenapa harus bertengkar dengan orang tua hanya karena belum menyetujui rencana penikahannya ?





Kaedah Kedua :


Bahwa istri yang akan kita nikahi nanti adalah dari jenis kita sendiri, yaitu dari jenis manusia, dan bukan dari jenis jin atau malaikat. Rahmat Allah swt seperti ini harus kita syukuri. Bayangkan kalau istri kita dari jenis jin, tentunya akan mendapatkan kesulitan untuk berhubungan dengannya. Kesulitan itu akan terasa sejak awal, bagaimana cara mengenalnya, bagaimana bentuk wajahnya, siapa yang akan menjadi walinya, maharnya berapa, mau tinggal dimana dan bagaimana berhubungan dengannya, bagaimana bentuk anaknya dan seabrek kesulitan-kesulitan lainnya.
Muncul suatu pertanyaan yang perlu jawaban segera : Apakah mungkin kita manusia bisa menikah dengan seorang jin ? dan bagaimana hukumnya dalam Islam ?


Imam Badru Ad Dien Abi Abdillah As Syibl di dalam bukunya ” Akam Al Marjan fi Ahkam Al Jan, telah menyebutkan beberapa riwayat para ulama yang menunjukkan bahwa manusia kemungkinan bisa menikah dengan Jin. ( [1] ) Hal yang sama juga disebutkan oleh Imam Suyuti dalam bukunya : ” Luqat Al Marjan fi Ahkam Al Jan “( [2] ) Hal ini dikuatkan juga dengan perkataan Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawanya : ” Seorang manusia kemungkinan bisa menikah dengan jin dan dari keduanya akan lahir seorang anak, dan hal seperti ini sangat banyak terjadi. ” ( [3] ) 

Ayat yang menunjukkan kemungkinan terjadinya pernikahan antara manusiaa dan jin adalah firman Allah swt :

وَشَارِكْهُمْ فِي الأَمْوَالِ وَالأَوْلادِ وَعِدْهُمْ

” Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri 
janjilah mereka. ” (Qs Al Isra’ : 56 )

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata ; ” Jika seorang laki-laki menggauli istrinya dalam keadaan haidh , maka syetan akan mendahuluinya, seandainya istrinya hamil, maka anak yang lahir akan menjadi anak yang banci (waria ) . ” ( [4] )


Walaupun demikian para ulama banyak berpendapat bahwa penikahan antara manusia dan jin hukumnya makruh, karena akan sulit menjalin tali kasih sayang antara keduanya. Dan hal seperti ini ,menurut Imam Malik, akan banyak membawa kerusakan yang luas dalam masyarakat, karena jika seorang wanita kedapatan hamil tanpa suami, akan dengan mudah dia mengatakan bahwa dia sudah punya suami dari jin. ( [5] ) Yang seperti ini, jelas akan membawa kerusakan di tengah-tengah masyarakat khususnya pada zaman sekarang .





Kaedah Ketiga :


Bahwa istri yang akan kita nikahi nanti adalah makhluk Allah yang diciptakan dari diri kita sendiri. Para ulama menyebutkan bahwa Siti Hawa diciptakan dari tulang rusuk nabi Adam as. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas bahwasanya ketika Adam tinggal di dalam syurga sendiri, dia merasa kesepian. Dan ketika dia sedang tidur, diciptakanlah Siti Hawa dari tulak rusuknya yang pendek dari pinggang kirinya , agar Adam bisa merasa tenang berada di samping Siti Hawa. Inilah arti firman Allah swt :


هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا

“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya.” ( Qs Al A’raf : 189 )

Di dalam hadist Abu Hurairah ra bahwa Rosulullah saw bersabda :

( استوصوا بالنساء خيراً ، فإن المرأة خلقت من ضلع ، وإن أعوج ما في الضلع أعلاه ، فإن ذهبت تقيمه كسرته ، وإن تركته لم يزل أعوج ، فاستوصوا بالنساء ) ، وفي رواية ( المرأة كالضلع إن أقمتها كسرتها ، وإن استمتعت بها ، استمتعت وفيها عوج(

“Berwasiatlah kepada perempuan dengan hal-hal yang baik, sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulak rusuk, dan sesungguhnya bagian yang bengkok dari tulang rusuk terdapat disebelah atas, , dan jika anda ingin meluruskannya, berarti anda akan mematahkannya, dan jika anda biarkan maka dia akan terus bengkok, maka berwasiatlah kepada perempuan. ( [6] )
Dan dalam riwayat lain disebutkan : ” perempuan itu bagaikan tulang rusuk, jika anda ingin meluruskannya, berarti anda akan mematahkannya, jika anda bersenang-senang dengannya, maka anda akan bersenang-senang dengannya, sedangkan dia masih dalam keadaan bengkok ” ( [7] )


Mungkin sebagian orang memahami bahwa penciptaan siti hawa dari tulak rusuk nabi Adam merupakan simbol diskriminasi dan pelecehan kaum hawa, sehingga mereka kurang bisa menerima isi hadist di atas, dan menganggapnya sebagai hadist yang bias gender. Sebenarnya, kalau mereka memahami hadist tersebut dengan baik, akan di dapatkan banyak hikmah dari diciptakannya Siti Hawa dari tulang rusuk Nabi Adam. Diantara hikmah-hikmah itu adalah :


Pertama : Bahwa tulang rusuk dalam tubuh kita sebenarnya berfungsi untuk melindungi organ dada dan hati. Sebagaimana kita ketahui bahwa hati adalah bagian yang terpenting dalam tubuh kita. Artinya seorang perempuan bertugas untuk menjaga, membina dan mendidik hati orang, yaitu hati generasi dan anak didik kita. Inilah tabiat seorang perempuan, kita dapatkannya sabar dan tekun di dalam merawat anak-anak atau orang-orang yang lemah, serta orang-orang yang perlu perlindungan dan kasih sayang. Sifat seperti ini tidak dimiliki oleh laki-laki. Tulang rusuk artinya tulang yang melindungi bagian-bagian tubuh yang lemah. Selain itu, seorang perempuan juga melindungi kaum laki-laki ketika dia merasa tidak tenang, menemaninya ketika ia merasa kesepian, dan merawatnya ketika sedang sakit. Dari sini, seorang laki-laki tidak akan bisa merasakan hidup dengan sempurna tanpa kehadiran perempuan.


Kedua : Tulang rusuk ini bersifat bengkok. Kenapa harus bengkok ? Iya karena dengan bengkoknya tulang rusuk tersebut, maka hati atau bagian- bagian tubuh yang lemah tadi akan terlindungi dari arah lain. Jika tulang rusuk tersebut tidak bengkok, maka hati dan bagian tubuh lainnya akan dengan mudah mengalami luka-luka hanya dengan pukulan pelan saja, dan akan bisa menyebabkan kematian jika terkena pukulan atau benturan yang lebih keras.



Ketiga : Tulang rusuk yang bengkok itu juga menandakan bahwa kaum perempuan itu mempunyai sifat yang mengedepankan perasaan daripada akal. Oleh karenanya, kaum perempuan kurang tepat, jika ditempatkan pada beberapa posisi yang menuntut ketegasan dan kekerasan , seperti dalam memimpin Negara atau bekerja di tempat-tempat kasar.



Keempat : Dalam hadist disebutkan bahwa seorang laki-laki akan sangat sulit untuk meluruskan tulang yang bengkok tersebut. Artinya seorang laki-laki di dalam berhubungan dengan perempuan harus bersifat lembut dan tidak kasar. Mendidik merekapun harus pelan-pelan dan sabar , tidak bisa dilakukan dengan tangan besi. Oleh karenanya, Rosulullah saw berwasiat agar kaum laki-laki memperlakukan perempuan dengan baik. Dalam kehidupan keluarga, jika seorang suami ingin memaksakan kehendaknya kepada istrinya dengan paksaan dan kekerasaan maka akan berakibat fatal, dan tidak sedikit yang berakhir dengan perceraian.




Kelima : Tulang rusuk yang bengkok juga menunjukkan bahwa kaum perempuan itu mempunyai kekurangan dalam akal dan ibadatnya. Maksud kurang akal di sini, sebagaimana diterangkan di atas, bahwa perempuan lebih mengedepankan perasaan dari pada laki-laki, maka dalam persaksian seorang laki-laki sebanding dengan dua perempuan. Dalam masalah pernikahan, seorang perempuan harus mempunyai wali laki-laki, karena tingginya perasaanya, seorang perempuan mudah dipermainkan dan ditipu oleh orang lain. Berbeda dengan laki-laki, dia dibolehkan melakukan pernikahan tanpa perantara seorang wali. Dan yang dimaksud kurang ibadatnya adalah bahwa seorang perempuan sering meninggalkan kewajiban ibadat sholat atau puasa atau yang lainnya, karena ada halangan syar’I seperti datangnya bulan ( keluarnya darah haidh ) atau darah nifas setelah melahirkan.




Kaedah Keempat :


Salah satu fungsi dari pernikahan adalah mewujudkan ketenangan. Ketenangan yang di dapat seseorang dari pernikahan bisa diklasifikasikan menjadi tiga :


Pertama : Ketenangan Jiwa. Banyak fakta menyebutkan bahwa rata-rata orang yang sudah dewasa dan belum menikah, mereka mengalami kegoncangan jiwa, karena ada sesuatu yang kurang pada diri mereka. Mereka merindukan teman hidup yang memperhatikan kehidupan mereka. Kegonjangan jiwa itu akan terus berlanjut sampai mereka mendapatkan teman hidup yang sesuai dengan yang mereka inginkan.


Di sini pernikahan adalah salah satu jalan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk mendapatkan ketenangan. Seorang laki-laki yang merasa capek dan penat karena seharian kerja mencari nafkah, ketika kembali ke rumah, tiba- tiba hatinya menjadi sejuk dan tenang, karena di depan pintu rumahnya telah disambut istrinya dengan senyuman. Ketika ia lapar, tiba-tiba di meja makan sudah tersedia aneka macam masakan yang disediakan istrinya. Selain itu, di dalam pernikahan seseorang bisa membicarakan dengan pasangannya seluruh masalah-masalah yang dihadapinya di kantor, di pasar di sekolah maupun di tempat-tempat lainnya. Dengan leluasa masing-masing dari suami istri mengeluarkan unek-uneknya dengan hati dalam suasana yang tenang dan penuh rasa kekeluargaan.


Hal yang demikian ini jelas akan berdampak pada ketenangan jiwa. Karena masing-masing telah mendapatkan tempat untuk mengadukan segala problematika hidupnya. Ketenangan jiwa seperti ini akhirnya akan membawa pada ketenangan jasmani.


Kedua : Ketenangan Jasmani.Banyak para ahli menyebutkan bahwa di sana ada hubungan sangat erat antara kesehatan ruhani dengan kesehatan jasmani. Seseorang yang selalu dirundung kesedihan di dalam hidupnya, akan melemahkan kesehatan jasmaninya. Salah satu contoh sederhana adalah seseorang yang terkena penyakit maagh. Jika ia sedang memikirkan sesuatu yang agak rumit, biasanya maagh-nya akan kambuh. Orang yang terkena penyakit jantung, ketika mendengar bahwa orang yang dicintainya tertabrak mobil, bisa mati seketika karena kaget. Begitu juga orang yang sudah menikah dan merasakan kebahagiaan di dalamnya, biasanya jarang terkena penyakit dalam.


Selain itu sebagaimana yang disebutkan oleh beberapa ulama, bahwa air mani yang tersimpan lama dalam tubuh seseorang dan tidak disalurkan akan menyebabkan penyakit. Dalam kehidupan ini ada suatu kaedah : bahwa sesuatu yang berhenti dan tidak dialirkan, maka akan merusak. Air yang tergenang akan merusak, tapi jika dialirkan akan bermanfaat karena akan membentuk energi yang bisa menyalakan lampu. Dalam fikih kita temukan juga bahwa air sungai yang tidak mengalir akan menjadi najis dan tidak boleh digunakan untuk bersuci. Jika ia mengalir, boleh untuk bersuci.


Seseorang yang tergeletak tidur di atas kasur berbulan-bulan lamanya, bisa lumpuh kakinya, karena tidak dilatih untuk berjalan. Bahkan badan kita yang tidak digerakkan dengan olah raga, akan terasa pegal dan berat, dan begitu seterusnya. Maka air mani yang ada dalam tubuh seseorang jika disalurkan pada yang halal, selain akan menghilangkan penyakit, air mani tersebut akan berubah menjadisebuah janin yang ada di perut istrinya. Betapa besar perbedaan antara keduanya, yang satu merusak dan menimbulkan penyakit , sedang yang lain menyembuhkan dan mewujudkan generasi baru.



Ketiga : Ketenangan Materi.Orang yang menikah akan mendapatkan ketenangan materi. Ketenangan materi ini terwujud dalam tiga hal :


Yang Pertama : Dalam hadist disebutkan bahwa Rosulullah saw bersabda :

الدنيا متاع وخير متاعها المرأة الصالحة

” Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah . ” ( HR Muslim )

Hadist diatas menerangkan bahwa hakikat dunia ini adalah perhiasan. Perhiasan adalah salah satu bentuk materi yang dikejar oleh manusia. Karena kebanyakan manusia mengira bahwa perhiasan dunia ini akan membawa kebahagian hidup. Akan tetapi Rosulullah menjelaskan juga bahwa hakikat perhiasan yang bisa membawa ketenangan adalah wanita sholelah.
Oleh karenanya, banyak kita dapatkan seseorang yang tidak mempunyai harta banyak, tetapi mempunyai istri sholehah, dia jauh lebih berbahagia di dalam hidupnya dibanding dengan orang yang kaya tetapi istri tidak sholehah. Inilah arti pertama bahwa istri sholehah merupakan wujud dari ketenangan materi.


Yang Kedua : Istri 
yang sholehah atau suami yang sholeh adalah orang yang selalu dekat dengan Allah. Dia akan selalu meningkatkan ketaqwaanya kepada Allah swt dengan menjalankan perintah-NYa dan menjauhi larangan-Nya. Orang seperti akan membawa barakah dalam rumah tangga. Ketika ia berdoa mohon rizki kepada Allah, maka Allah akan mengabulkannya, sehingga istri atau suami yang seperti ini akan membawa rizki yang berlimpah dan barakah.


Yang Ketiga : Allah swt telah berfirman :

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

” Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui ” ( Qs An Nur : 32 ) .


Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa orang yang mau menikah dengan niat mencari ridha Allah dan menghindari maksiat, maka Allah berjanji akan memberikan karunia kepada mereka dengan rizki yang halal. Dan kita sebagai orang Islam harus berkeyakinan seperti yang disebutkan Allah di dalam ayat di atas.


Selain itu, kalau ditinjau dari ilmu psikologi dan sosiologi, maka akan kita dapatkan seorang laki-laki yang sepanjang hidupnya, hidup dalam kemiskinan, ketika menikah tiba-tiba menjadi lebih kaya dari sebelumnya. Kenapa ? Karena dengan menikah, dia dituntut untuk memberikan nafkah kepada istrinya. Kewajiban tersebut menuntutnya untuk bekerja keras. Selain ia mendapatkan pahala karena bekerja untuk memberikan nafkah keluarganya, juga Allah akan melimpahkan rizki yang halal kepadanya, karena 

kesungguhannya. Allah berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

” Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. ” ( Qs Al Ankabut : 69 )




Kaedah Kelima :

Bahwa cinta yang tumbuh dalam pernikahan bukan sekedar cinta jasmani, atau cinta seorang laki-laki terhadap perempuan sebagaimana yang dipahami orang selama ini. Bukan pula seperti cinta seorang pacar dengan pacarnya yang sekedar janji dan ungkapan mulut tanpa ada komitmen di dalamnya. Cinta dalam pernikahan adalah cinta yang dibangun diatas mawaddah dan rahmah ( kasih dan sayang ). Artinya cinta tersebut diiringi dengan tanggung jawab dan komitmen. Seorang suami yang mencintai istrinya, maka dia bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidupnya, dia harus menjaga kesehatannya, menjaga keamanannya, menjaga perasaannya, dan menjaganya supaya tetap selalu bahagia hidup bersamanya .


Cinta dalam pernikahan bukan berarti dia pasti mencintai semua yang ada pada diri pasangannya, karena seperti ini adalah sesuatu yang mustahil. Masing-masing dari pasangan suami istri akan mendapatkan kekurangan dari pasangannya. Secara naluri manusia, dia akan membenci kekurangan tersebut, Cuma dia harus bersabar dengan kekurangan itu. Dia harus berusaha bagaimana kekurangan yang dimiliki pasangannya tetap membuatnya cinta dan sayang kepadanya. Maka dalam surat An Nisa’ ayat 19 , Allah berfirman :


وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
” Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. ”


Melalui ayat di atas, Allah memerintahkan kita untuk menggauli dan bersikap dengan istri kita secara patut dan baik, walaupun kita membenci sebagian sifat atau bagian dari badannya. Inilah yang dinamakan mawaddah dan rahmah, yaitu cinta kasih sayang yang diiringi dengan komitmen dan tanggung jawab serta kesabaran untuk menerima segala kekurangan. Maka sangat tepat kalau Allah menyebut bahwa dalam pernikahan bukan sekedar ” hubb ” ( cinta jasmani ), akan tetapi lebih daripada itu, yaitu mawaddah wa rahmah ( cinta kasih sayang dan komitmen ) .


Yang perlu disebutkan juga di sini bahwa cinta kasih sayang dalam pernikahan ini yang menumbuhkannya adalah Allah swt. Tanpa pertolongan Allah, kedua pasangan suami istri tidak akan mungkin bisa mengukir kecintaan dan kasih sayang di dalam kehidupan rumah tangga. Ayat dalam surat rum di atas juga dengan sendirinya akan menolak falsafat pacaran yang menyiratkan bahwa kecintaan antara laki-laki dan perempuan harus ditumbuhkan oleh masing-masing pasangan.


Hal ini dikuatkan dengan banyaknya fakta yang menunjukkan bahwa orang-orang yang menikah tanpa didahului dengan pacaran ternyata justru malah lebih harmonis, lebih hangat, dan lebih langgeng serta lebih bahagia. Hal itu dikarenakan Allah-lah yang menciptakan dan menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang pada diri kedua pasangan.

Lima kaedah pernikahan yang sudah diterangkan di atas, sebenarnya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang hanya bisa dicerna oleh orang-orang yang terus mau berfikir. Sebagaimana yang disebutkan Allah pada akhir ayat : ” Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang-orang yang mau berfikir . ” Sungguh Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.


Kairo, Sabtu Pagi, 28 April 2007 M


* Asal makalah ini adalah ceramah yang disampaikan penulis pada acara resepsi pernikahan dua orang mahasiswa/I Al Azhar, pada tanggal 15 Juli 2006 M , di Aula Masjid As- Salam, Nasr City, Kairo, Mesir


[1] ) Lihat Badru Ad Dien Abi Abdillah As Syibly, Akam Al Marjan fi Ahkam Al Jan ( Beirut, Dar Ibnu Zaidun, 1405 H ) , Hal. 94-96.
[2] ) sebagaimana yang dinukil oleh Prof. DR. Umar Sulaiman Al Asyqar di dalam bukunya, Alam Al Jin wa As Syayatin, ( Kairo, Dar As Salam, 2005 ) Hal. 30
[3] ) Ibnu Taimiyah, Majmu Al Fatawa ( Riyad, TP, 1381 H ) Cet. Pertama, Juz ; IX, Hal. 39
[4] ) Lihat Badru Ad Dien Abi Abdillah As Syibly, Op. Cit., hal. 91 .
[5] ) Lihat Badru Ad Dien Abi Abdillah As Syibly, Op. Cit., Hal. 92
[6] ) Hadits riwayat Bukhari, no : 3331, dan muslim no : 1468
[7] ) Hadits riwayat Bukhari, no : 5184 , dan muslim no : 1468

Sumber : Ahmadzain.com


Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...