Ads 468x60px

.

Minggu, 25 Maret 2012

Sifat-Sifat Salaf

Salafusshalih (orang-orang terdahulu dari kalangan umat Islam yang shalih) memiliki segudang akhlak mulia yang “barangkali” sudah sangat jarang ditemui di masa sekarang ini. Maka, dalam risalah ini, saya coba susun beberapa akhlak mulia mereka agar bisa menjadi perenungan bagi kita semua. Sudahkah kita memiliki akhlak mereka?


I. Salaf tidak Mencari-Cari Keburukan Muslim yang lain…
Seorang salaf, yang bernama Sahal ibn ‘Abdillah berkata, “Jangan suka mencari-cari kekurangan orang lain dankeburukan akhlaknya. Akan tetapi, cari dan telitilah bagaimana kondisi Anda di dalam akhlak Islam, sehingga Anda selamat dan bisa menghormati kedudukannya di dalam diri Anda dan di sisi Anda” [ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, IV/279 ].
II. Salaf Senantiasa Berwajah Ceria terhadap Orang Lain
Urwah bin Zubair, murid shahabat Nabi, berkata, “Tertulis di dalam hikmah, “Ucapkanlah kata-kata yang baik dan tampilkanlah wajah yang cerah. Niscaya Anda lebih dicintai orang daripada mereka yang memberikan banyak hadiah.” [ حلية الأولياء و طبقات الأصفياء, II/178 ]

Sabtu, 24 Maret 2012

Tuhan Macam Apa yang Diklaim Firaun ?

Oleh: Ust. Abu Sulaiman Aman Abdurrahman (Fakallahu ‘Asrah)

Segala puji hanya bagi Allah Rabbul’alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan para shahabatnya seluruhnya.

Sering sekali kita mendengar ucapan: “Alangkah durjananya Fir’aun, bagaimana bisa dia mengaku tuhan dan membunuhi anak-anak laki-laki?”. Ada pertanyaan yang harus dijawab: Ketuhanan macam apa yang diklaim oleh Fir’aun saat dia mengatakan:

“Akulah tuhan kalian yang paling tinggi” (An Nazi’at: 24)
Dan saat Dia mengatakan:

“Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagi kalian selain aku” (Al Qashash: 38)


Apakah dia mengklaim menciptakan langit dan bumi beserta isinya? Apakah dia mengklaim memiliki manfaat dan madlarat? Dan apakah bentuk peribadatan kaum Fir’aun kepadanya? Serta apakah ada orang-orang di zaman sekarang yang seperti Fir’aun?

Kamis, 15 Maret 2012

Beda Ahlus Sunnah dengan “Salafi"



Mengingat kelompok murji’ah berbaju “salafi” semakin berkembang di negeri Indonesia, maka kita patut waspada agar virus murji’ah ini tidak menyebar dikalangan kaum muslimin. Dengan mengetahui ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan Ahlus Sunnah dengan “Salafi” diharapkan kita tidak tertipu dengan ucapan mereka yang mengklaim dirinya ahlus sunnah, namun pada hakekatnya mereka adalah murji’ah disadari maupun tanpa mereka sadari. Berikut penjelasannya...


Pertama, perbedaan inti ahlus sunnah dengan salafi adalah ahlus sunnah menyakini bahwa seseorang bisa kafir karena hati, ucapan, maupun perbuatannya dan ahlussunnah menghukumi kafir seseorang berdasarkan dhohir ucapan dan perbuatan seseorang. Hal ini berdasarkan surat at taubah ayat ke 65-66 yang yang mana Alloh mengkafirkan sekelompok orang yang menghina Rosululloh dan para sahabatnya. Sedangkan salafi menghukumi kafir seseorang berdasarkan hatinya, kalo ada seseorang yang mengucapkan dan mengamalkan perbuatan kufur maka salafi belum berani mengkafirkannya sebelum mengetahui isi hatinya.

Kamis, 08 Maret 2012

Resiko Menjadi Seorang Da'i

1. Menghina dengan kata-kata

Majnun (orang gila) pernah diterima oleh Musa dan rosululloh shollallohu alaihi wasallam :

 فَتَوَلَّى بِرُكْنِهِ وَقَالَ سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ

Maka Dia (Fir'aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila." [ADZ DZAARIYAAT: 39]

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ
وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

35. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,

36. Dan mereka berkata: "Apakah Sesungguhnya Kami harus meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena seorang penyair gila?" [ASH SHAAFFAAT: 35-36]

Kamis, 01 Maret 2012

Andai Aku Memiliki 100 Nyawa

 

KISAH ABDULLAH BIN KHUDZAFAH DAN RAJA ROMAWI


 
Ibnu Katsir dan lainnya meriwayatkan, Umar bin Khattab radhiyallahu'anhum. mengutus pasukan melawan Romawi. Ikut serta dalam pasukan ini, seorang sahabat muda bernama Abudullah bin Khudzafah radhiyallahu'anhum. Perang pun berkecamuk hebat. Kehebatannya menyisakan dercak kagum panglima Romawi atas keteguhan kaum Muslimin dan keberanian mereka menghadapi maut.


Kemudian raja Romawi memerintahkan agar pasukan Muslimin yang mereka tawan dihadapkan kepada mereka. Didatangkanlah di hadapannya, Abdullah bin Khudzafah radhiyallahu'anhum. Ia diseret dengan tangan yang dirantai dan kaki yang diikat.


Setelah berbincang-bincang dengannya, raja kagum atas kecerdasannya. Ia berkata kepada Abdullah, “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kubebaskan.” Abdullah radhiyallahu'anhum. menolaknya. Raja tetap menawarinya lagi, “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kuberikan separo kekuasaanku.”
 


Namun Abdullah tetap tegas menolaknya. “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kuberi separo dari kekuasaanku dan kuikutsertakan kau dalam pemerintahanku,” desak raja. Abdullah berkata, “Demi Allah, andai saja engkau berikan seluruh kekuasaanmu dan kekuasaan nenek moyangmu kepadaku bahkan seluruh kekuasaan Arab dan Ajam (non Arab), aku tetap tak sudi untuk keluar dari Islam.” “Kalau begitu kamu akan kubunuh,” putus raja. “Bunuhlah,” jawab Abdullah.
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...