Ads 468x60px

.

Minggu, 12 Agustus 2012

Sajadah "senjata penghancur persatuan"

 

Assalamualaikum...
Ini adalah sebuah cerita renungan terhadap diri kita

Mudah-mudahan dengan cerita ini dapat mengingatkan diri sendiri ataupun Orang lain...


Tentang cara Iblis menyesatkan manusia menggunakan SAJADAH

Siang menjelang dzuhur . salah satu iblis ada di masjid. Kebetulan hari itu adalah hari Jum'at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada di dalam masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk dan masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air

Pada setiap orang, iblis masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap SAJADAH. "Hai Blis!" panggil seorang Kiai, ketika baru masuk masjid. Iblis merasa terusik dan berkata : "Kau kerjakan saja tugasmu kiai, Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam masjid ini!"


Pak Kiai : "ini rumah ALLAH, blis! Tempat yang suci, kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!" Kiai coba mengusir iblis.

Iblis : "Kiai, hari ini adalah hari uji coba sistem baru". Kiai tercenggung. "Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu".

Sabtu, 04 Agustus 2012

"BUKAN URUSAN SAYA"



Suatu ketika Kekhhalifahan utsmani yang waktu itu dipimpin Sultan Ahmad I baru saja mengalami sebuah kekalahan yang besar. Hal ini kemudian menjadikan sang khalifah bingung dan kecewa, maka diputuskanlah untuk mengutus orang untuk bertanya kepada seorang ulama.  Seorang ulama besar, yang sangat dipercaya oleh khalifah waktu itu adalah Syeikh Muhammad Sa’ dudin bin Hasan Khan al-Tabrizi (wafat 1008H).

Pertanyaan sang utusan khalifah tersebut berbunyi,

“ Apa kekurangan yang terdapat di Negara ini (sehingga kita mengalami kemunduran dan kekalahan daripada musuh) padahal Allah menjanjikan kememangan bagi umat Islam?”



sang syeikh menjawab dengan kalimat yang sangat sederhana dan ringkas,

“Bukan urusan saya.”



Tentu saja jawaban dari sang syeikh ini membuat heran utusan sang khalifah. Bagaimana tidak, sang syeikh yang terkenal sebagai seorang yang hebat, mampu menjawab ratusan permasalahan hukum dan fatwa melalui hafalannya tanpa merujuk kitab terlebih dahulu. Tetapi mengapa ketika ditanyakan padanya permasalahn yang begitu serius ini jawaban beliau terkesan menyepelekan dan  acuh tidak acuh.
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...