Ads 468x60px

.

Jumat, 15 Maret 2013

PELAKSANAAN TARBIYAH



·         PELAKSANAAN TARBIYAH

Para pakar tarbiyah telah memikirkan dan melakukan berbagai percobaan, analisa berbagai macam teknik tarbiyah yang baik. Begitu pula harakah-harakah islamiyah telah mencoba mempraktekkan bentuk-bentuk tarbiyah untuk mencetak umat agar mampu mengangkat kezdaliman yang menimpa islam wal muslimun. Namun sejauh ini ternyata tidak banyak harakah-harakah yang sukses dalam pelaksanaan tarbiyah mereka. 


Salah satu contoh; Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar (tentunya memiliki anggota hrakah terbesar juga) belum mampu hingga saat ini mengembalikan izzah muslimin. Bahkan semakin hari harakah-harakah tersebut semakin kehilangan arah dan kendali dari asas yang telah dicanangkan semula. Adapun harakah yang terlihat kemajuan dan besar dengan aksi-aksi show of powernya ternyata hanyalah kekuatan buih, bertubuh gempal namun rapuh dalamnya. Ditinggalkan anggotanya bila mana para tentara murtadin mencabik-cabiknya. Adakah yang salah dalam tarbiyah ini? Padahal halaqoh-halaoqh tersebar disetiap sudut jalan karena masjid sudah tidak mampu lagi menampung mereka, seminar dan konggres bersifat nasional maupun internasional tak sepi digelar. Lalu manakah kesalahan tersebut?



Syeikh Al-Mujahid Abdullah azzam berkata: “Tarbiyah tidak bisa diperoleh melalui lembaran-lembaran kitab, dan tidak pula dibagi-bagikan lewat brosur-brosur. Mereka yang mengambil sesuatu dari balik kitab dan membaca dalam majalah-majalah, hanyalah mendapatkan tsaqafah bukan tarbiyah. Sungguh beda, dan jauh amat berbeda antara tsaqafah dan tarbiyah. Makanya anda dapati perbedaaan yang sangat jauh antara pemuda yang terdidik melalui lembaran-lembaran buku. Saya tidak mengatakan ‘terbina melalui lembaran-lembaran kitab’”. (Tarbiyah Jihadiyah terbitan Al-Alaq 6/131)

Beliau berkata juga: “Orang yang belajar tanpa murabbi, ibarat batu yang menyebal dalam bangunan kaum muslimin yang tersusun rapi. Setiap orang yang mendapatkan ilmunya dari kitab-kitab, tanpa memperoleh pertolongan, pengawasan dan pengarahan orang-orang yang memang telah mendahuluinya di atas jalan tersebut, pasti akan menimbulkan masalah dalam masyarakat yang teratur baik”. (ibid 6/21)

Ustadz Sayyid Quthb berkata: “Sesungguhnya fiqih agama ini tidak mungkin dapat dipahami kecuali di bumi harakah dan tidak bisa dipakai pendapat orang yang membicarakan hal ini namun lalai dari harakah. Orang-orang yang menulis karya-karya mereka di zaman ini agar disebut sebagai karya ahkam fiqhiyah, sesungguhnya mereka telah memperbarui fikih islam sedang mereka jauh dari harakah yang bertujuan untuk memerdekakan hamba dari peribadatan pada hamba, mengembalikan mereka pada peribadatan kepda Allah saja dengan menerapkan syareat Allah dan melengserkan syareat thagut....Mereka adalah orang-orang yang tidak memahami karakter agama ini”. (Dzilal 1753).

Syeikh Abdullah Azzam berkata: Tarbiyah tidak dapat diperoleh melalui buku-buku. Tarbiyah harus dari qiyadah sedangkan qiyadah harus bersifat maidaniyah (lapangan). (TJ 6/133)

Beliau berkata: “Karena qiyadah dan muallim tidak memberikan pelajaran adab melalui pengetahuan dan fikrahnya saja, tapi dia membina melalui amal perbuatannya, sebagai suri tauladan yang baik bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dia membina anak-anak asuhannya melalui tingkah lakunya yang baik, melalui budi perkertinya dan iltizamnya terhadap Islam. Melalui zuhud dan keberaniannya”. (ibid 6/131)

Ibnu Mubarak berkata: “20 tahun kuhabiskan untuk menuntut ilmu dan 30 tahun untuk menuntut adab”. Olah karena adab tidak diperoleh melalui kitab, adab hanya didapat melalui akhlak para alim ulama. (Ibid 6/132)

Syeikh Azzam berkata: “Mereka yang terbina di tangan para ulama atau para dai yang benar dan muklis, adalah gudang simpanan fikrah. Mereka adalah harta simpanan aqidah yang mereka perjuangkan. Mereka adalah pengemban bendera Islam sejati.” (ibid 142)

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...