Ads 468x60px

.

Jumat, 22 Maret 2013

Refleksi Kader Tarbiyah: Mengingat Siapa Kita Dahulu?

dakwatuna.com - Muhasabah adalah sarana untuk menghisab diri di dunia. Generasi sahabat biasa melakukan muhasabah diri di waktu-waktu yang mereka punya, di kala bangun tidur, di kala mau tidur, setelah shalat, setelah makan dan kesempatan lainnya. Salah satu cara sahabat melakukan muhasabah ialah merasakan kenikmatan Islam dengan mengingat diri mereka yang dahulu berada di kejahiliyahan. Umar bin Khattab RA pernah tersenyum-senyum sendiri di saat sedang melakukan muhasabah karena Umar bin Khattab pernah memakan patung Tuhannya dulu di masa kejahiliyahan. Umar bin Khattab RA tersenyum karena begitu jahilnya dia dahulu sebelum masuk Islam, kita sendiri bisa bayangkan betapa “lucunya” sebuah “Tuhan” bisa dibuat dan bisa dimakan oleh diri kita sendiri, begitulah Umar bin Khattab RA dia yang membuat Tuhan dari tepung gandum, di saat dia lapar dia sendiri yang memakan “Tuhannya”.


Generasi sahabat melakukan muhasabah dengan mengingat kejahiliyahan ialah dengan maksud betapa luar biasa nikmat, karunia, rahmat yang Allah berikan kepada mereka yaitu Islam. Islam telah menunjukkan kesadaran yang mendalam bagi sahabat Umar bin Khattab RA akan Tuhan semesta alam ialah Allah SWT. Islam pula yang telah menjadikan generasi sahabat yang tak hanya Umar bin Khattab menjadi generasi terbaik sepanjang masa yang tidak ada penggantinya.

Saudaraku, tulisan di atas adalah pengantar untuk mengajak diri kita bersama, kader tarbiyah sebagai aktivis dakwah untuk merefleksikan diri tentang “siapa diri kita dahulu”? Sebenarnya tulisan ini adalah hasil pengamatan dari fenomena berjalannya dakwah di kampus oleh kader tarbiyah.


Banyak yang lupa akan dirinya ketika “kita” telah menjadi tokoh di lingkungan. Banyak pula yang lupa akan dirinya ketika “kita” sudah punya wawasan dan kemampuan berpikir yang luas akan hal Islam, politik, dakwah, ekonomi, pergerakan, fenomena umat, dan lainnya. Banyak pula yang lupa ketika “kita” sudah mengetahui kebaikan dan kekurangan jamaah ini. Banyak pula yang lupa di saat “kita” sudah punya kapasitas keilmuan, komunikasi, financial, dan kapasitas diri yang lain. Banyak pula yang lupa ketika “kita” telah banyak mendapatkan keuntungan yang banyak sekali di saat “kita” berada dalam barisan ini.

Lupa apanya? Lupa dari mana kita dibesarkan. Lupa dari mana kondisi dan lingkungan apa kita banyak belajar. Lupa siapa yang menyambut diri kita dengan ukhuwah, lupa siapa menempatkan diri kita melebihi orang lain. Bertanya kepada diri kita, kenapa saya bisa terkenal? Kenapa saya bisa tahu banyak hal tentang Islam, politik, dakwah, ekonomi, berwawasan? Kenapa saya bisa mendapatkan amanah, kenapa saya bisa tampil bicara di depan publik? Kenapa saya bisa mengetahui ukhuwah dan memiliki kenalan, memiliki saudara yang banyak?


Siapa dahulu kita? Seorang yang tidak kenal apa itu Islam, seorang yang tidak tahu apa itu pergerakan. Siapa dahulu kita? Seorang yang tidak tau persaudaraan itu seperti apa, seorang yang tidak terkenal, seorang yang tidak apa itu dakwah, bagaimana caranya? Seorang yang tidak bisa memimpin, seorang yang tidak berani tampil di publik, seorang yang tidak berkapasitas.


Begitu banyak di antara “kita” yang telah menjadi “mereka”. Mereka berseberangan dengan kita di saat mereka sudah mendapatkan keterkenalan, ketika mereka sudah mendapat keuntungan yang amat banyak pada diri mereka, tetapi hanya karena kecewa akan suatu hal, mereka berseberangan bahkan memusuhi kita. Mereka membongkar aib-aib kita, mereka mencaci-caci kita, memberi tahu ke public strategi-strategi dakwah, opini-opini gelap, lalu mereka buat barisan yang isinya hanya bentuk kekecewaan terhadap barisan ini. Apa yang mereka kecewakan? Mereka kecewa ketika di antara kita ada yang melakukan kesalahan, mereka kecewa ketika mereka harus mengalah dalam hal jabatan, seolah-olah jamaah menyingkirkannya, seolah-olah jamaah tidak memperdayakannya, mereka kecewa ketika teladan mereka tidak sesuai idealitas mereka, mereka kecewa hanya karena di antara kita kurang memperhatikannya. 

Mereka hina dan pojokkan ustadz, mereka tidak mau menggunakan ilmu yang disampaikan oleh ustadz yang ada kaitannya dengan barisan “kita”, padahal ulama mereka adalah ulama kita dan ulama kita adalah ulama mereka, yang menyedihkan mereka bangga menggunakan pendapat-pendapat orang yang bukan berasal dari Islam. Memang kita berdakwah untuk jabatan? Memang kita berdakwah karena ingin perhatian orang? Memang kita berdakwah karena ustadz?


Sedih rasanya, melihat mereka yang dahulu satu lingkaran bersama kita saat ini menjadi berseberangan bahkan tidak berdakwah. Sedih rasanya, melihat mereka yang dahulu bersama kita berdakwah sudah tidak berdakwah. Sedih rasanya, karena mereka yang harus kita hadapi.


Ingat ini barisan manusia bukan barisan malaikat tetapi barisan ini adalah barisan manusia yang punya azzam yang sangat kuat menjadi barisan yang malaikat pun menangis, yang malaikat pun memohonkan ampunan dan berdoa, malaikat pun malu kepada barisan ini. Memang bisa jadi “kita dan mereka” menjadi besar karena dirinya sendiri, memang semuanya berasal dari Allah, tetapi lingkaran ini, barisan ini dimana kita dan mereka juga dibesarkan.

Orang yang ada di dalam barisan ini belum tentu adalah kita dan orang yang ada di luar kita bisa jadi mereka adalah kita. Orang yang banyak kecewa pastilah dia akan kecewa lagi, begitu pula dengan barisan yang berisikan orang-orang yang pernah kecewa, tidak berarti di dalam barisan itu tidak ada kekecewaan, bahkan bisa pasti di dalam barisan itu mereka juga akan menemukan sebuah kekecewaan.

Kecewa karena dunia mengantarkan diri ini jauh dari agama, dan tak ada kecewa karena akhirat.

Siapa kita dahulu?

Wallahu a’lam.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...