Ads 468x60px

.

Jumat, 15 Maret 2013

TUJUAN TARBIYAH & ASPEK-ASPEK TARBIYAH



·         TUJUAN TARBIYAH

Allah berfirman: “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (Ali-Imran: 79).

Imam Ibnu Katsir berkata: Tidak patut bagi seseorang yang telah Allah berikan padanya Al-Kitab, hikmah dan nubuwah menyeru pada manusia sembahlah aku dan sembahlah Allah. (Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam tafsir Muyasar : Tetapi katakanlah: jadilah kamu semua ahli hikmah, fuqoha, ulama atas apa yang kamu pelajari dari orang-orang sekitarmu mengenai wahyu Allah.


Syeikh Abu Mahmudah Al-Harbi menyatakan bahwa tujuan tarbiyah adalah untuk mewujudkan dan mencetak jeilu rabbani (generasi rabbani) yang mampu menegakkan daulah islamiyah dalam rangka merealisasikan peribadatan hanya kepada Allah dan mengeluarkan manusia dari peribadatan antar hamba kepada hamba secara fardi (individu) maupun jama’I (masyarakat). (Risalah Tarbiyah wat Ta’lim 4)

Makna rabbani menurut Ibnu abbas, Abu Razin dan ulama lain yaitu: ahli hikmah, ulama orang-orang yang santun (hulama) Sedang menurut riwayat dari Ibnu Abbas Said bin Jubair, Qotadah, Atho’ Al-Khursani, Uthiyah Al-Aufi, Rabi’ bin Anas dan riwayat dari Hasan yaitu: Ahli ibadah dan ahli taqwa. (Tafsir Ibnu Katsir)

Muhsin Al-Muhsi berkata: yaitu ulama fakih dalam dien yang mengajarkan.

Tidaklah pantas orang yang mendapat gelar rabbani yaitu para ulama fakih, ahli ibadah, ahli hikmah, ahli taqwa kecuali dua golongan saja yaitu mujahid dan mujtahid. Dalam muqadimah Kitab Al-Jihad wal Ijtihad Ta’amulat fil Manhaj mengomentari tafsiran para mufasirin atas ayat: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka tu dapat menjaga dirinya”. (at Taubah :122)

dikatakan: Dalam ayat ini, Allah telah menjadikan manusia menjadi dua golonga; yaitu mujahid dan mujtahid dan tidak ada kebaikan yang tersisa setelahnya. Seorang mujahid adalah mujtahid dan seorang mujtahid adalah mujahid. Karena jihad dan ijtidah merupakan dua pecahan kata dalam bahasa arab, baik dari kata jahdu (fathu jim) yang artinya lelah dan berat atau dari kata juhdu (dhomu jim) yang artinya usaha dan kemampuan. 

Mengapa hanya jihad dan ijtihad? Karena keduanya adalah satu-satunya sarana untuk menegakkan dan memurnikan tauhid di muka bumi. Ust. Sayyid Qutb berkata: “Ketahuilah! Sesungguhnya tujuan dari jihad dan ijtihad ialah: “Mengajak manusia untuk hanya menyembah Allah sebagai satu-satunya sesembahan dan mengeluarkan mereka dari peribadatan sesama hamba serta membersihkan seluruh thagut dari jengkal tanah dan mendongkel dunia dari kerusakan”. (Hadza Dien, Sayyid Qutb 15)

Syeikh Umar Muhammad Abu Umar berkata: “Sesungguhnya ma’rakah (medan tempur) jama’ah yang diberi petunjuk (jama’ah muhtadiyah), ialah ma’rakah tauhid vs kufur, iman vs syirik, bukan ma’rakah versus perekonomian, politik, sosial. Juga bukan ma’rakah versus antara Hambali, Hanafi, Syafi’i atau Maliki, madzhab antar madzhab, fatwa atas fatwa”. (Al-Jihad wal Ijtihad Ta’amulat fil Manhaj 10)


·         ASPEK-ASPEK TARBIYAH


Jama’ah yang bersungguh-sungguh dalam iqamatuddin sangat memperhatikan dan mencanangkan dengan serius aspek-aspek tarbiyah pengkaderan. Karenanya jama’ah tersebut haruslah memiliki cici-ciri sebagi berikut seperti dikatakan oleh Syeikh Umar Muhammad Umar:

1. Jama’ah muhtadiyah merupakan jama’ah yang menggirng umat menuju pengaplikasian ubudiayah hanya kepada Allah semata dengan cara mengkuasakan dien di atas bumi dalam suatu pengaturan pemerintahan negara.
2. Sebab itu jama’ah muhtadiyah ini paham betul bahwa pengaplikasian ubudiyah secara sempurna tidak mungkin dilaksanakan kecuali dengan kemenangan (al-fath) dan tidak ada suatu kemenangan yang nyata kecuali dengan peperangan.
3. Peperangan tidak mungkin terjadi bila jama’ah muhtadiyah tidak menggelorakan semangat mati syahid dalam qolbu ummat. (Jihad wal Ijtihad 11)

Pembinaan generasi rabbani hendaklah memenuhi seluruh aspek yang telah Rasulullah saw praktekkan pada para sahabat sebgai generasi rabbani terbaik. Tidak menyeluruhnya aspek-aspek tarbiyah yang ditanamkan pada umat membuahkan hasil yang kurang bisa diharapkan untuk iqomatuddin. Syeikh Khalid Ahmad Basyantut dalam Tarbiyah Al-Askariyah Al-Islamiyah memerinci aspek-aspek tarbiyah islamiyah dengan enam aspek, yaitu:


  • 1. Tarbiyah ruhiyah: mengangkat umat dari ketergantunga dan kecintaannnya pada dunia.
  • 2. Tarbiyah fikriyah: Mencetak umat agar memahami kedudukan jihad dalam Islam sebagaimana mereka menegatahui siapa musuh-musuh mereka.
  • 3. Tarbiyah nafisyah: Mencetak umat yang berani berkorban dalam jihad baik jihad harta maupun nyawa fisabilillah.
  • 4. Tarbiyah badaniyah: Mencetak tubuh yang kuat dan kokoh agar mampu menopang beratnya medan peperangan.
  • 5. Tarbiyah ijtimaiyah: Mencetak pribadi-pribadi yang saling bergotong royong, syuro dan menyatu dengan para ikhwan sehingga sifat individualisme akan terkikis.
  • 6. Tarbiyah siyasiyah: Mencetak umat agar mampu mengatur dan mengendalikan suatu organisasi dalam skala kecil maupun besar berdasar asas Islam.

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...