Ads 468x60px

.

Selasa, 28 Januari 2014

Penyebab Banjir Jakarta, dari Teknis hingga Ideologis

Penyebab Banjir Jakarta, dari Teknis hingga Ideologis


Mediaumat.com- Prof Dr Ing Fahmi Amhar, profesor riset Badan Informasi Geospasial (BIG), menyatakan banjir Jakarta hanya bisa diselesaikan dengan ditegakkannya Khilafah, bila penyebabnya adalah masalah ideologis.

“Kalau benar masalahnya ideologis, maka benar bahwa usaha tuntas mengatasi banjir itu adalah mengganti ideologi itu dengan Islam. Dan sebuah negara yang ideologinya Islam, disebut Khilafah,” tegasnya kepada mediaumat.com, Selasa (21/1) melalui surat elektronik.


Karena, menurutnya, kalau banjir itu cuma insidental, maka itu persoalan teknis belaka.


Tetapi kalau banjir itu selalu terjadi, berulang, dan makin lama makin parah, maka itu pasti persoalan sistemik.


“Kalau banjir sistemik itu dapat selesai dengan bendungan baru, pompa baru, kanal baru dan lain-lain, maka itu sistem teknis,” ungkapnya.

Minggu, 26 Januari 2014

Gambar Kereeen Eeeuuuy :-)


 
|| TELADAN SEORANG GURU ||

Imam Ahmad bin Hambal

termasuk yang membid’ahkan qunut dalam subuh, namun Beliau memiliki sikap yang menunjukkan ketajaman pandangan, keluasan ilmu, dan kedewasaan bersikap. Hal ini dikatakan oleh Al ‘Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin

Rahimahullah sebagai berikut:

“Adalah Imam Ahmad Rahimahullah berpendapat bahwa qunut dalam shalat fajar (subuh) adalah bid’ah. Dia mengatakan: “Jika aku shalat di belakang imam yang berqunut, maka aku akan mengikuti qunutnya itu, dan aku aminkan doanya, semua ini lantaran demi menyatukan kalimat, melekatkan hati, dan menghilangkan kebencian antara satu dengan yang lainnya.” (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syarhul Mumti’, 4/25. Mawqi’ Ruh Al Islam)




|| MANFAAT MADU ||

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan  Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS An Nahl : 69)

Mewujudkan Generasi Qur'ani


Mewujudkan Generasi Qur'ani
Membangun peradaban Islam itu kerangkanya harus jelas. Tahu Hilya kan? Dia yang juara Hafidz Indonesia. Usianya lima tahun. Selama mengandung Hilya, ibunya sudah khatam Al Quran 9 kali. Setelah lahir, aqiqahnya dilakukan dengan syar’i.

Setiap sebelum menyusui, ibunya berwudhu dulu. Dan saat wudhu, air wudhunya ikut dibasuhkan di dadanya. Tujuannya agar ketika anaknya meminum asi, ia diminum dengan bismillah. Agar setiap air susu yang masuk ke tubuh Hilya mengandung keberkahan.

Anak usia 2.5 sampai 5 tahun adalah seorang peniru sejati. Ibunya setiap cuci piring, atau melakukan hal-hal kecil lainnya sembari menggumamkan tartil Quran. Maka Hilya menirunya.

Ayah juga tidak kalah penting perannya dalam membangun generasi Qur'ani, yaitu saat Ayah memilihkan Ibu yang baik kepada anak-anaknya kelak. Karena memilihkan Ibu yang baik merupakan salah satu hak anak yang harus diberikan bahkan saat mereka belum lahir.

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...