Ads 468x60px

.

Selasa, 04 Februari 2014

ikatlah ilmu dengan menulis

ikatlah ilmu dengan menulis

kaum muslimin yang dirahmati Allahu 'azza wa jalla, sempatkan lah diri kita dengan menulis ilmu syar'i ketika duduk dimajelis ilmu kah, ketika mendengar kajian online kah atau ketika membuka artikel di website yang telah disajikan oleh ulama atau ustadz ustadz kita.

karena percuma saja kita duduk dimajelis ilmu jikalau hanya ngaji kuping, iya kalau otak kita mempunyai ingatan seperti hanphone yang mempunyai fasilitas merekam dan rekaman tersebut sama persis dengan yang disampaikan oleh ustadz kita barusan


  • Ada Seribu Satu Manfaat Menulis  


Jika kita telaah dan kita renungkan, apa yang menjadi pendorong para ulama mampu menghasilkan karya-karya ilmiah yang fantastis jumlahnya, yang sampai sekarang belum ada yang menandingi mereka. Ternyata kalau kita kaji, mereka seperti itu karena mereka tahu janji imbalan yang sangat menggiurkan dari Allah ‘azza wa jalla, berupa Jannah yang indah dan nikmatnya tiada tara, bagi para penegak syariatNya.


Khalifah ‘Umar bin Al-Khaththab jauh-jauh hari sudah memerintahkan untuk menulis ilmu-ilmu syar’i. Beliau berkata, artinya, “Ikatlah ilmu dengan menulis.” [Taqyid Al-'Ilm, Al-Khathib Al-Baghdadi; Jami' Bayan Al-'Ilm, Ibnu 'Abdul Bar, no.395. Dishahihkan Al-Muhaddits Al-Albani dalam footnote Kitab Al-'Ilm karya Ibnu Abu Khaitsamah, no.55]



Ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah pengikatnya.
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.
Termasuk kebodohan, engkau berburu kijang,
Lalu engkau tinggalkan lepas di antara manusia.
[Kitab Al-'Ilm, Ibnu Al-'Utsaimin, hal.63]


Al-Imam Ibnu Al-Jauzi (w. 597H) dalam karyanya, Shaid Al-Khathir hal.386, menuturkan, saya memandang bahwa manfaat menulis lebih banyak daripada manfaat mengajar (secara lisan). Sebab kalau mengajar mungkin hanya beberapa orang tertentu saja, sedangkan tulisan dibaca dan diambil manfaat oleh sekian banyak orang yang tak terhitung jumlahnya, bahkan mungkin oleh mereka yang kini belum terlahir ke dunia. Bukti akan hal ini bahwa manusia lebih banyak mengambil manfaat dari kitab-kitab para ulama pendahulu daripada dari pelajaran guru-guru mereka.


Karenanya, lanjut Ibnu Al-Jauzi, hendaklah orang yang dikaruniai Allah ilmu meluangkan waktunya dalam menulis karya yang bermanfaat, sebab tidak semua orang yang membuat karya berarti bermanfaat, tapi tujuan tulisan bukan hanya sekedar mengumpulkan sana-sini, tetapi itu adalah anugerah Allah kepada hamba pilihanNya sehingga ia mengumpulkan masalah yang berserakan dan menjelaskan masalah yang rumit… inilah tulisan yang bermanfaat. Hendaknya menulis dilakukan ditengah-tengah usia, karena awal usia untuk menuntut ilmu dan akhir usia sudah mengalami keletihan.


Kita lihat karya-karya Al-Imam Al-Bukhari (194H-256H), Al-Imam Muslim (204H-261H), Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani (773-852H), Al-Imam An-Nawawi (631H-676H), dan para ulama salaf lainnya. Karya-karya mereka, mereka tulis berabad-abad silam. Namun sampai sekarang karya-karya mereka tetap utuh dan bahkan dijadikan referensi utama umat Islam. Ini menunjukkan besar kemungkinan karya-karya yang kita buat hari ini, tetap utuh sampai beberapa generasi setelah kita dan karya kita mereka jadikan rujukan. Kita berharap apa yang didapat para ulama salaf juga kita dapatkan.


Dengan hanya sekali menulis atau menghasilkan buku syar’i, maka kita mendapatkan pahala yang mengalir terus-menerus atas setiap orang yang mengamalkan ilmu syar’i yang termuat dalam buku kita, meski kita telah meninggal. Sangat efektif dan efisien bukan? Hanya satu kali kerja, tanpa harus mengeluarkan tenaga ekstra dan terus-menerus, kita tetap mendapat pahala mengalir terus-menerus. 

Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Nabi Muhammad berkata, artinya, “Apabila seorang manusia meninggal, maka akan terputuslah pahala amalnya, kecuali pahala tiga amal; Shadaqah yang terus mengalir pahalanya (jariyah), Ilmu yang dimanfaatkan, Doa anaknya yang shalih kepadanya.” [Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa`i] Nabi Muhammad berkata, artinya, “Sesungguhnya di antara yang akan menyusul seorang mu’min dari amal dan kebaikan-kebaikannya setelah kematiannya adalah;

  • (1) Ilmu yang ia ajarkan dan ia sebar-luaskan,
  • (2) Anak shalih yang ia tinggalkan,
  • (3) Mushhaf yang ia wariskan,
  • (4) Masjid yang ia bangun,
  • (5) Rumah untuk ibnu sabil yang ia bangun,
  • (6) Sungai yang ia alirkan,
  • (7) Shadaqah yang ia keluarkan dari hartanya dalam keadaan ia sehat dan masih hidup. 

Semua itu menyusulnya meski setelah ia mati.” [Sunan Ibnu Majah no.238; Syu'ab Al-Iman no.3294; Shahih Ibnu Khuzaimah no.2293. Dinyatakan hasan oleh Al-Muhaddits Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no.77, 112, 275 dan Shahih Al-Jami' no.2231]


Di samping itu, menulis buku-buku syar’i merupakan sarana bagi para wanita yang juga ingin berda’wah dan ikut berpartisipasi melestarikan ilmu syar’i, tanpa harus berhadapan dengan pria-pria yang bukan mahramnya.

Kini, sudahkah anda bersemangat untuk menulis buku atau lainnya? Apakah anda sudah siap untuk menghasilkan karya ilmiah Islam untuk disebar-luaskan? Siapkah anda mendapat pahala mengalir meski anda telah tiada? Jika ya, segeralah ambil alat tulis atau komputer, kumpulkan bahan-bahan materi ilmu syar’I dan mulai tulis sampai selesai, kemudian sebarkan atau sodorkan ke penerbit buku-buku Islam.

sebagian catatan disunting dari thaybah or.id

semoga bermanfaat

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...