Ads 468x60px

.

Senin, 24 Februari 2014

SEBAGIAN PR UMAT NEGERI INI



~~~ 1. Membangun Otoritas Ulama.

Terkait ulama, paling tidak ada dua hal yang perlu diperbaiki, yaitu 


(1) Pemilahan ulama beneran, yang mapan dan luas keilmuan Islamnya serta kuat ketakwaannya. Di negeri ini istilah ulama masih menjadi barang murah, siapapun bisa dilabeli ulama, yang penting bisa ceramah atau khutbah.

(2) Otoritas ulama. Ulama seharusnya menjadi rujukan umat, tempat mereka bertanya persoalan agama dan kehidupan mereka. Fatwa disampaikan oleh para ulama, dan umat mengikutinya. Saat ini? Bejibun fatwa, tapi sedikit sekali yang memedulikannya.


~~~ 2. Kualitas Majelis Ta'lim.

Sebenarnya majelis ta'lim atau pengajian di masjid-masjid, mushalla dan semisalnya bisa menjadi sarana yang sangat efektif untuk mencerahkan, mencerdaskan dan memahamkan umat terhadap ajaran Islam yang murni dan kaffah. Namun sayangnya, terlalu banyak majelis ta'lim yang tidak berkualitas.

Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, misalnya

(1) Pengisi majelis ta'lim yang belum layak tampil di depan secara keilmuan. Betapa sering kita berada di majelis ta'lim yang kita mendapatkan banyak hal di sana, kecuali ilmu. Bahkan, kita sering dipaksa untuk mendengarkan ceramah dari orang yang tak punya rekam jejak thalabul 'ilmi syar'i, ia mungkin hebat beretorika, namun tak ada fawaid 'ilmiyyah yang kita dapatkan.



(2) Mental pendengar yang tak siap menerima ilmu.

Betapa banyak majelis ta'lim atau tabigh akbar yang dikerumuni ratusan bahkan ribuan massa, namun mereka tertarik hadir bukan karena ingin thalabul 'ilm, tapi sering karena penceramahnya terkenal, ngartis, atau banyak lawakannya. Namun, saat dibawa ke majelis ta'lim yang serius membahas ilmu, mereka malas, kalau hadir pun terkantuk-kantuk.



~~~~ 3. Malasnya Dai Menuntut Ilmu Syar'i



Kita sadari sama-sama, banyak dai di negeri ini yang tak belajar Islam secara formal di sekolah. Banyak yang bahkan baru belajar menyambung alif, ba, ta' saat masuk universitas. Mereka baru kenal -agak lumayan- ajaran Islam setelah terlibat dalam organisasi kerohanian Islam kampus, pengajian kampus dan semisalnya. Kemudian, setelah itu mereka menjadi dai, berdakwah ke mana-mana, ceramah di mana-mana.

Hal ini sebenarnya tidak ada masalah, bahkan patut disyukuri. Hanya saja, terkadang pemahaman Islam yang didapatkan di organisasi kerohanian Islam kampus atau pengajian kampus terlalu global dan terbatas pada aspek2 tertentu saja, sedangkan pada rincian ajaran Islam sekaligus syumuliah-nya, tak didapatkan. Padahal seorang dai dituntut untuk lebih alim dari mad'u-nya.

Status dai pun mengharuskan dirinya siap untuk menjadi rujukan umat dalam masalah-masalah keislaman. Nah, apa jadinya jika ia tak lebih paham Islam dari mad'u-nya? Apa jadinya, jika sang mad'u fasih bacaan Qur'an-nya, sedangkan sang dai terbata-bata membaca alif ba ta? Wajarkah hal seperti ini?

Apakah wajar, seorang dai menjelaskan konsep Islam secara panjang lebar di hadapan mad'u yang sudah terbiasa baca kitab tafsir, hadits dan kitab-kitab kuning lainnya sejak tingkat tsanawiyyah, sedangkan sang dai jangankan baca kitab Arab, membedakan isim, fi'il dan harf saja tidak ngerti?

Menghadapi fenomena seperti ini, tentu solusinya bukanlah menyuruh para dai berhenti dakwah, itu sangat tidak bijak. Mereka mau berdakwah, itu sudah sangat bagus. Tinggal tambah satu lagi, semangat juga untuk menuntut ilmu syar'i.

Yang bermasalah, jika sang dai begitu semangat berdakwah, tapi malas-malasan saat diajak thalabul 'ilmi. Semangat mengajak umat untuk berhukum dengan al-Qur'an dan as-Sunnah, tapi dirinya sendiri tak pernah berdekat-dekat dengan al-Qur'an dan as-Sunnah, tak pernah serius berusaha mempelajari ilmu-ilmu yang terkandung dalam keduanya.

Wallahul musta'aan.

ustadz Abu Furqan Al-Banjary

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...