Ads 468x60px

.

Selasa, 04 Maret 2014

CIIA: Ghuluw Fi Takfir Bisa Dimanfaatkan Proyek “Terorisme” di Indonesia




JAMAAH Kofar Kafir Indonesia (JKKI), tiba-tiba menjadi istilah ngetrend di sebagian umat muslim Indonesia dalam melihat kelompok maupun individu tertentu yang berlebihan dalam takfir (
ghuluw fi takfir).

Kalangan dengan pemahaman yang berlebihan dalam perkara takfir inipun pernah memberikan cap jihadis murjiah kepada salah seorang Ustadz dari Jama’ah dengan gerakan tauhid dan jihad karena enggan mengkafirkan presiden Mursi karena bersikap tawaqquf.


Sebagian kelompok jihad yang masih melihat Indonesia sebagai lahan dakwah tiba-tiba mendapat sentilan dengan istilah qoidun atau orang-orang yang duduk dalam pengajian dan membicarakan jihad. Meski mereka mendukung jihad di Afghan, Suriah, ataupun Palestina. Bahkan menggalang dana bantuan kemanusiaan untuk wilayah Syam.

Aktivis Islam dan pengamat kontra terorisme Harits Abu Ulya memiliki analisa terkait berkembangnya fenomena seperti ini. Harits menilai pemahaman kelompok yang ekstrem memahami takfir lebih banyak melakukan kritik tanpa membangun konsep perjuangan yang jelas.

Padahal, kata Harits, dakwah memiliki target politik yang jelas, seperti dicontohkan Rasulullah Shalallahu ’alaihi wassalam dalam membangun Negara Islam di Madinah al Munawaroh.

Dan itu diraih dengan tandzim yang kokoh, berdasarkan persatuan umat, tidak dengan jalan sendirian tanpa menjalin sinergi dengan muslim lainnya.

Berkaca dari perjuangan Rasulullah, seharusnya kelompok-kelompok tersebut dapat mengambil pelajaran.

“Jika serius dan memiliki visi besar, tentu bisa dibuktikan secara konsepsional. Bukan sekedar mengkafirkan sana sini, baik sistem maupun individu-individunya tapi minus solusi,” katanya kepada Islampos, Selasa (4/3).

Dengan hanya berbekal pengajian pemahaman takfir, Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) ini menilai kelompok-kelompok tersebut sama saja bekerja untuk meredekalisasi individu maupun kelompok tanpa memilki target dakwah yang jelas.

“Saat berdakwah di hadapan orang kafir musyrikin, Rasulullah menggunakan nash-nash yang dengan redaksi ya ayuhal kaafirun tentu sesuai konteksnya. Namun, sekarang ini yang kita hadapi adalah orang-orang muslim, dan mereka sebagai obyek dakwah yang perlu hidayah dan ditunjukkan kepada jalan hidayah tersebut. Bukan kemdian sibuk ‘menghakimi’ status mereka,” terangnya panjang lebar.

Harits menambahkan dilihat dari aspek strategi dakwah, dakwah takfiri model seperti di atas lebih cenderung berubah menjadi “dakwah mencari musuh”. Fakta empiriknya strategi dakwah yang bergaya penghakiman cukup kontraproduktif di tengah-tengah umat Islam.

“Jika sebuah kelompok dengan tandzim atau semrawut tanpa tandzim pilihannya adalah memilah mana musuh dan mana saudara berdasarkan konsep-konsep takfiri, tentu akan menambah blunder di tengah-tengah kehidupan masyarakat,” paparnya.

Pengamat kontra intelijen ini menegaskan sebenarnya Barat maupun intelijen diuntungkan dengan karakteristik kelompok maupun individu seperti ini. Karena mereka memiliki “legitimasi” adanya terorisme maupun radikalisme di kalangan umat Islam.

“Ada ‘aktris’ yang tanpa disadari telah didapuk dengan peran-peran untuk kelanggengan proyek terorisme. Dan ‘aktris’ yang tidak sadar ini diposisikan sebagai ‘marja’ alias rujukan dalam menghelat agenda. Padahal lingkungan diseputar ‘aktris’ model ini sejatinya termonitoring dan terkondisikan agar bisa jadi ‘figur publik’ orang-orang di level bawah,” pungkasnya.



SUMBER : ISLAMPOS

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...