Ads 468x60px

.

Sabtu, 12 April 2014

Kuliah Agama

Oleh : Dr Hamid Fahmy Zarkasyi  (Direktur INSISTS) 
Kamis 18 Juli 2013
Jurnal Pemikiran ISLAM Republika

Ketika bertemu dengan Menteri Pendidikan Prof Nor Muhammad Nuh, saya menyampaikan masa­lah rendahnya kualitas mata kuliah agama Islam di perguruan tinggi negeri. Bukan hanya materinya. melainkan juga kualitas dosennya. Kanan di Gajah Mada. pada 80- an dosen agama Islam di sebuah fakultas diganti oleh guru agama. Kini. di Unair banyak dosen agama Islam yang tidak berlatar belakang studi Islam. Masih banyak lagi kasus serupa.

Saya berharap pak menteri membe­ berkan rencana perbaikannya. Namun. beliau malah bercerita "waktu beliau di ITS dulu" katanya. mata kuliah agama Islam masih kalah mutu dibandingkan mata pelajaran agama di madrasah dulu. Kini, beliau bingung soal teknis bagaimana ke­pangkatan dosen agama difakultas umum.

Padahal. jika kita menoleh ke bela­ kang. akan kita temui sesuatu yang luar biasa. TAP MPR REPUBLIK INDONESIA No XXVI /MPR/1966 Bab '. Pasal 1. ber­bunyi. "menetapkan pendidikan agama menjadi mata pelajaran di sekolah­ sekolah mulai dari sekolah dasar sampai dengan universitas-universitas negeri". lsi pelajaran itu kemudian dijelaskan pada Bab II. pasal4. bahwa isi pendidikan ada­lah untuk "Mempertinggi mental modal budi pekerti dan memperkuat keyakinan beragama.

Sejauh pengetahuan saya. TAP MPRS di atas tidak pernah dihapus. bahkan diper­kuat. TAP MPR/Nomor IV/MPR/1978. TAP MPR No II/MPR/1983 menyatakan bah­wa tujuan pendidikan adalah untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pada TAP MPR No 11/­ MPR/1988 diperjelas lagi bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mening­katkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Ini pulalah yang diulang dalam Un­dang-Undang No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal4.

Anehnya. yang justru dipikirkan oleh para petinggi kita adalah bagaimana me­ ningkatkan pengetahuan "umum" dise­kolah dan pergurutan tinggi agama. Sekolah agama dan perguruan tinggi agama dianggap tidak mampu membekali siswa dan mahasiswa ilmu pengetahuan untuk bisa hidup di dunia yang makin maju yang memboluhkan penguasaan iptek. lulusan madrasah kurang dapat bersaing di bidang penggunaan iptek dibandingkan anak-anak lulusan sekolah umum.

Dari asumsi ini. dibuatlah Surat Kepu­tusan Bersama Tiga Menteri yang kemudian dikenal dengan SKB 3 Menteri. Yaitu. Menteri Agama dengan SK No 6 Tahun 1975. Menteri P&K dengan SK No 37/U/- 1975. dan Menteri Dalam Negeri dengan SK No 36 Tahun 1975 tertanggal24 Maret 1975. tentang peningkatan mutu madra­sah. Di perguruan tinggi. kini institut agama Islam ditingkatkan menjadi uni­versitas Islam.

Setidaknya terdapat dua kesalahan dari asumsi di atas. Pertama. ilmu penge­ tahuan agama dianggap tidak bisa diguna­ kan untuk menempuh kehidupan di dunia. Kedua. ilmu pengetahuan umum dianggap dapat menjamin siswa dan mahasiswa dapat mengarungi hidup di dunia. Arti hidup di sini benar-benar dipahami secara sekuler. Padahal. napas lagu "Indonesia Raya" memotivasi agar bangsa hidup jiwa dan raganya secara simultan ("Hlduplah Jiwanya. Hiduplah Badannya"). TAP-TAP MPR di atas seperti tidak berguna.

Mengapa di negeri ini tidak ada yang berani berpi kir bagaimana para siswa dan mahasiswa yang belajar ilmu pengeta­ huan umum bisa meningkatkan iman­ takwa mereka. Mengapa negeri ini tidak lahir SKB tiga menteri lain untuk me­ ningkatkan mutu pelajaran dan mata ku­ liah agama disekolah dan perguruan tinggi "umum". PadahaI. tujuan utama pendidikan nasi anal adalah mencetak sumber daya manusia yang bertakwa.

logikanya jika santri atau siswa madrasah dan mahasiswa lAIN dan UIN harus dibekali ilmu pengetahuan umum. siswa SMA.mahasiswa universitas umum negeri atau swasta. harus dibekali ilmu agama. IImu agama yang tidak untuk menjadi ahli agama dan menguasai ilmu­ ilmu tradisional layaknya ulama. IImu agama yang mendorong kesadaran moral dan meningkatkan kemampuan intelek­tual. Ilmu agama yang menjadi jiwa dan nilai bagi pengetahuan umum.llmu aga­ma yang selaras dengan bidang studi ma­sing-masing mahasiswa. Bangsa ini su­ dah cukup tinggi kemampuan ipteknya, tapi sungguh rendah kesadaran moralnya.

Maka dari itu. ilmu agama itu mesti di­ajarkan oleh dosen-dosen yang benar­ benar berkompeten atau otoritatif dalam bidangnya. Dosen agama harus dapat me­ nuntun mahasiswa bukan saja secara aka­ demis. melainkan juga secara spiritual. Jika kata Einstein. "Sains tanpa agama buta. agama tanpa sains lumpuh,"layaklah dosen agama menjadi penuntun maha­siswa yang "buta" agama dan moralitas.

Jika ini terlaksana dengan baik. tindak korupsi oleh para petinggi negara dan pe­negak hukum dapat diatasi. Jumlah pe­nguasa yang "'amanah" dapat ditingkatkan dan tindak kriminal masyarakat awam da­pat diminimalisasi. Sabda Nabi "agama manusia itu tergantung agama rajanya" bisa diartikan "kejujuran rakyat itu bergan­tung pada kejujuran penguasanya. Maka pendidikan agama di perguruan tinggi ada­lah untuk menyiapkan calon penguasa yang jujur dan amanah. Wallahu a'lam.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...