Ads 468x60px

.

Minggu, 21 Desember 2014

Buat Berita Yuk!

Oleh : Sarah Mantovani 

Dalam setiap kesempatan, sering saya mengajak dan meminta teman-teman LDK (Lembaga Dakwah Kampus) atau teman-teman mahasiswa di dalam dan luar negeri agar mereka membuat hasil acara dalam setiap seminar, konferensi atau kegiatan apapun yang bersifat umum ke dalam bentuk berita Spot News atau press release.

Tapi seringkali pula, dalam membuat berita tersebut, teman-teman bingung atau belum tau bagaimana teknis membuat berita yang memenuhi standar Jurnalistik.



Nah untuk kali ini, saya akan membedah sekaligus memberikan panduan bagaimana membuat berita yang baik dan memenuhi standar Jurnalistik berdasarkan apa yang diajarkan oleh Guru-guru Jurnalistik saya.

Sebelumnya, saya akan memberikan satu contoh berita yang di kirim oleh salah satu aktivis LDK yang belum lama ini di kirim pada saya. Berita ini dikirim tanpa judul.



Salah satu calon-calon pemimpin bangsa berasal dari mahasiswa. Kenapa demikian, karena pola pikir mahasiswa sudah bisa dikatakan menggunakan pemikiran logis namun tetap teoritis.  Mahasiswa yang baik bukan hanya berada di dalam kelas, memperhatikan penjelasan dosen, mengerjakan tugas kuliah, atau nongkrong setelah selesai kuliah. Mahasiswa harus bisa menempatkan dirinya di posisi yang tepat saat dimana dia berada. Namun hakekat sebenarnya seorang mahasiswa adalah pribadi yang kreatif, suka dengan hal-hal yang baru, penuh obsesi, suka berkerja sama, dan lebih cenderung kritis. Begitu pula mahasiswa dengan latar belakang keislamannya. Mereka terbiasa dengan mengumandangkan syiar Islam ke objek dakwah yang menjadi targetnya.

Aktivis Dakwah Kampus (ADK) merupakan subjek dari pelaku dakwah kampus itu sendiri. Tidak hanya di kampus sebenarnya aktifitas mereka, namun karena target utamanya adalah masyarakat kampus maka Lembaga Dakwah Kampus (LDK) menjadi naungan organisasi mereka.

LDK se-Banten hari ini Jum’at-Minggu, 18-20 Januari 2013 mengadakan kegiatan Musyawarah Daerah (Musda) ke-4  atau menamakan BMC (Banten Moeslim Conference) sebagai brand event ini. Seluruh LDK yang tergabung dalam FSLDKD (Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Daerah) Banten, mengikuti Musda kali ini. Acara yang berlangsung di Aula Rektorat & Masjid At-Taqwa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) ini, menjadi ujung tombak perisai dakwah terutama di Provinsi Banten. Pembukaan di buka pukul 14.30 oleh Wakil Rektor III UMJ. Kemudian dilanjutkan dengan acara ke-FSLDK-an oleh Puskomda (Pusat Komunikasi Dakwah) Banten yang diisi oleh Acep Sutisna.

Kang Acep sapaan akrab beliau, mengemukakan bahwa ADK tidak cukup menimba ilmu dari dalam kampus saja namun silakan cari ilmu itu dimana saja dan dari siapa saja. Peserta Musda menyimak dengan seksama penjelasan beliau. Ditemui setelah acara ke-FSLDK-an selesai Kang Acep mengatakan kepada Hidayatullah, “Event ini tidak hanya membahas masalah keislaman saja, namun juga membahas masalah sosial yang ada di tengah masyarakat sekarang ini.” Setelah sholat maghrib dan Isya selesai peserta di ajak sharing dan diskusi tentang kondisi dan masalah di LDK masing-masing peserta.

Agenda besok Sabtu adalah sidang Musda dan Seminar Nasional.

Berita di atas kemudian saya ubah menjadi seperti ini :

LDK se-Banten Gelar Banten Moeslim Conference

LDK se-Banten pada hari Jum’at sampai Ahad, tanggal 18-20 Januari 2013 menggelar kegiatan Musda (Musyawarah Daerah, red.) keempat yang dinamai dengan BMC (Banten Moeslim Conference).

Seluruh LDK yang tergabung dalam FSLDKD (Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Daerah, red.) Banten, mengikuti Musda yang berlangsung di Aula Rektorat dan Masjid At-Taqwa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Acara ini menjadi ujung tombak perisai dakwah terutama di Provinsi Banten. Pembukaan di buka pada pukul 14.30 oleh Wakil Rektor III UMJ. Kemudian dilanjutkan dengan acara ke-FSLDK-an oleh Puskomda (Pusat Komunikasi Dakwah, red.) Banten yang diisi oleh Acep Sutisna.

Kang Acep sapaan akrab beliau, mengemukakan bahwa ADK tidak cukup menimba ilmu dari dalam kampus saja namun ilmu itu bisa dicari dimana saja dan dari siapa saja. Peserta Musda terlihat menyimak dengan seksama penjelasan beliau.

“Event ini tidak hanya membahas masalah keislaman saja, namun juga membahas masalah sosial yang ada di tengah masyarakat sekarang ini”, kata kang Acep saat ditemui seusai acara oleh Annisa, salah satu perwakilan LDK Imam (Ikatan Mahasiswa Muslim) Universitas Pamulang, Jum’at (19/01/2013).

Setelah sholat Maghrib dan Isya, peserta diajak sharing dan diskusi tentang kondisi dan masalah di LDK masing-masing. Pada agenda Sabtu (20/01/2013), peserta akan diajak kembali untuk sidang Musda dan Seminar Nasional.


Berita di atas sudah cukup memenuhi standar Jurnalistik, ada unsur 5W+1H, bagaimana acara itu berlangsung, siapa saja yang mengikuti acara tersebut, kapan acara berlangsung, dimana lokasi acara, apa saja yang dibahas saat acara dan kenapa peserta mengikuti acara tersebut.

  • Berikut beberapa panduan untuk menulis berita straight news

> Untuk kategori berita spot news atau straight news atau berita langsung tidak perlu membuat kalimat pembuka yang terlalu banyak atau bahkan bertele-tele, kecuali berita feature, karena bukan straight news namanya kalau terlalu bertele-tele.

> Soal pemilihan judul, maksimal 8 kata atau tergantung dari kebijakan media yang kita tuju dan ambil poin atau bagian menarik dari berita yang kita tulis. Biasanya kata-kata penghubung atau preposisi seperti : terhadap, kepada, di, dalam, dan, atau, yang, itu tidak dihitung dalam judul.

> Berita yang baik juga selalu memenuhi unsur waktu dan tempat kejadian, pada hari apa, tanggal berapa dan dimana lokasi acara tersebut berlangsung. Hal ini bertujuan untuk akurasi berita yang kita tulis.

> Kemudian yang lebih penting lagi adalah, adanya kutipang langsung dari narasumber atau mereka yang mengisi acara. Hal ini penting agar berita terlihat hidup.

> Usahakan memakai kalimat aktif bukan pasif, ini juga bertujuan agar berita terlihat hidup. Kalimat pasif biasanya berawalan di-.

> Perlu juga untuk menuliskan jabatan narasumber yang kita wawancarai agar pembaca tahu siapa narasumber yang kita kutip kalimatnya.

> Untuk singkatan-singkatan, usahakan agar dijelaskan pula kepanjangannya, hal ini mencegah pembaca yang belum mengetahui singkatan tersebut menjadi tahu. Begitu pula untuk istilah asing, harus diterjemahkan dan dijelaskan secara ringkas ke dalam bahasa Indonesia.


  • TIPS AMPUH Menulis Reportase Berita Bagi Pemula

1. Wajib ada unsur 5 W (What, why, who, where, when) + 1 H (How)

2. Jangan boros kata dan dalam satu paragraf tidak boleh lebih dari empat atau lima baris, kecuali keterangan atau penjelasan dari narasumbernya memang panjang, karena ini berita, bukan makalah atau karya ilmiah, hehe . Contoh untuk boros kata, misalnya dalam satu berita ada kalimat “para kaum perempuan seluruhnya menjadi Ayu”, kata “para” saja sudah menunjukkan banyak, jadi tidak usah ada kata “seluruhnya”.


3. Tiap paragraf baru (kalau untuk media online) tidak perlu di-tab (masuk paragrafnya lima spasi), kecuali kalau untuk nulis berita di majalah atau koran.


4. Khusus singkatan, harus diuraikan terlebih dulu kepanjangannya apa, contohnya seperti LGBT. Tata urutannya: kepanjangannya dulu baru singkatannya dalam kurung.


5. Kata atau kalimat asing harus diterjemahkan juga. Kalau mau nulis yang bukan ilmiah atau semi ilmiah, saat menulis kata atau kalimat asing, usahakan posisikan kita sebagai orang awam atau orang yang baru mengenal kata atau kalimat asing tersebut.


6. Jika berita terlalu panjang (lebih dari satu halaman), usahakan ada sub judulnya. Sub judul bisa diberikan jika ada paragraf yang sebelum dan sesudahnya sudah berbeda pembahasannya.


7. 5W+1H, terutama untuk where (dimana acara itu dilangsungkan), when (kapan acara itu dilangsungkan), why (kenapa acara itu dilangsungkan atau kenapa acara berlangsung menarik), who (siapa yang mengadakan acara, siapa pembicaranya, siapa saja yang hadir dalam acara tersebut), what (apa saja yang dibahas atau dibicarakan dalam acara tersebut) tidak harus selalu ada di awal paragraf atau headline berita, 5W ini bisa dipencar letaknya, bisa di tengah ataupun di paragraf terakhir


8. Sangat terlarang jika memakai singkatan seperti dsb, dll, karena ini berita bukan sms atau pun whatsapp.


9. Tips lain, jika kita belum banyak mengetahui subjek yang kita tulis (siapa pembicara dalam acara tersebut) sebaiknya gugling atau bertanya ke yang lebih tau, karena keterangan tambahan tentang subjek itu sangat penting, ini artinya kita mengenal siapa yang kita tulis walau misalnya baru tau saat itu juga, hehe
 

Jadi kalau ada acara yang menarik di sekitar kita tunggu apalagi? Yuk, langsung membuat berita! ^_^


** Penulis saat ini aktif sebagai Wartawan di majalah Hidayahtullah & junior researcher di aila indonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...