Ads 468x60px

.

Kamis, 15 Januari 2015

Erdogan : Soal Serangan Charlie Hebdo, Negara Barat itu Munafik


AntiLiberalNews - Presiden Turki menuduh Barat munafik dalam sikap menghadapi serangan ke majalah satire Charlie Hebdo dan penyanderaan di swalayan Yahudi di Paris, tetapi tidak mengecam aksi anti-muslim di Eropa.


Tayyip Erdogan, yang berbicara di samping Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang sedang berkunjung ke negaranya, juga mengecam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena menghadiri pawai di Paris.

“Bagaimana bisa seseorang yang telah membunuh 25 ribu orang di Gaza melalui terorisme negara melambaikan tangan di Paris, sepertinya orang gembira melihat dia? Berani-beraninya dia ada di sana?” ujarnya, Selasa (13/1/2014) seperti dilansir CNN dikutip Islampos.


“Pertama, anda harus bertanggungjaab atas anak-anak dan perempuan yang anda bunuh,” tambah Erdogan, yang sejak lama merupakan pengkritik serangan Israel terhadap Hamas di Jalur Gaza meski Turki dan Israel memiliki hubungan dagang yang erat.



Erdogan tidak menghadiri pawai di Paris, meski Perdana Menteri Ahmet Davutoglu hadir.
“Kemunafikan Barat jelas terlihat. Sebagai Muslim, kami tidak pernah ikut serta dalam pembantaian massal. Di belakang ini ada rasisme, pidato kebencian dan Islamophobia,” ujar Erdogan. “Tolong, pemerintah di negara-negara di mana masjid diserang harus mengambil tindakan.“

“Dunia Islam sedang dipermainkan, kita harus waspada,” kata Erdogan, yang memiliki akar politik di satu gerakan Islamis yang dilarang.


Masjid-masjid di Prancis, Jerman dan Swedia dirusak sebelum dan setelah serangan yang menurut Turki dan negara lain merupakan perasaan anti-Muslim yang berkembang di seluruh benua Eropa.
Erodan juga mengisyaratkan bahwa serangan yang menewaskan 17 orang itu merupakan kegagalan pasukan keamanan Perancis karena tersangka pernah menjalani hukuman penjara.

“Warga Prancis yang melakukan pembantaian seperti itu, dan Muslim yang menderita. Ini memiliki arti lain…Apakah organisasi intelijen mereka tidak melacak orang yang keluar dari penjara?”
Erdogan menyalahkan Islamophobia menyebabkan Barat ragu menerima lebih banyak pengungsi Suriah setelah hampir empat tahun perang saudara, sementar Turki menampung 1,6 juta warga Suriah.


Sebelumnya, seorang pemimpin redaksi surat kabar terbesar di Qatar akhirnya buka suara terkait Izzah Islam wal Muslimin di Twitter-nya. Beliau mendesak umat Islam tidak perlu minta maaf atas pembantaian di kantor majalah mingguan Charlie Hebdo di Paris.


Apa pernah 300 juta warga Amerika meminta maaf kepada korban-korban perang yang mereka kobarkan di Irak? Apa pernah 66 juta warga Prancis meminta maaf karena telah melakukan serangan udara di Libya? Apa Holocost lebih suci dari nabi Muhammad?”, tulis Pimred portal raialyoum, Abdel Bary Athwan.

Kepada Al Arabiya News, Al-Athba mengatakan; “Menyerang orang tak bersalah tidak dapat diterima. Saya juga menentang pembunuhan wartawan.”

“Tapi mengapa tidak ada orang Kristen yang minta maaf ketika tiga masjid di Swedia diserang dan dibakar, dan di Jerman terjadi kampanye kebencian terhadap Muslim,” lanjutnya.

Jadi, masih menurut Al-Athba, mengapa umat Islam harus capek-capek minta maaf atas kejahatan yang tidak dilakukannya.

“Pengadilan Prancis seharusnya menangani kasus ini tanpa politisasi atau mengambil insiden ini sebagai alasan menekan Muslim Prancis dan di seluruh Eropa, atau di tempat lain,” lanjut Al-Athba.
“Jangan pernah meminta maaf atas kejahatan yang dilakukan orang-orang itu,” tulis Abdullah Al-Athba, pemimpin redaksi Al-Arab.

“Prancis sedang mencari alasan untuk ikut campur di Libya.”

Dalam tweet lain, Al-Athba bertanya; “Ketika Masjid London diserang, apakah ada orang Kristen atau warga Inggris meminta maaf?”

Al-Athba mengatakan pada follower-nya di Twitter untuk melihat pembantaian Charlie Hebdo dari perspektif berbeda.

Ia mengatakan Prancis sedang mencari alasan untuk melakukan intervensi militer di Libya, dan akan menggunakan insiden ini sebagai pembenar tindakan Paris mengirim pasukan.

“Prancis ingin menyerang Libya dengan dalih memerangi terorisme, setelah sukses menduduki Mali dengan alasan serupa,” tulis Al-Athba.

“Operasi ini merupakan alasan tepat untuk membunuh Muslim, dan menguasai ladang minyak-nya.”
Dia juga menyarankan semua pihak untuk melihat hubungan antara peningkatan serangan terhadap sebanyak mungkin masjid di Eropa, dan insiden di kantor Charlie Hebdo.

Serangan di Prancis dimanfaatkan banyak pihak untuk disulap menjadi perang melawan Islam dan warga muslim, lalu mengkambinghitamkan warga muslim di Prancis dan seluruh dunia sebagai pihak yang harus bertanggungjawab, sehingga siapa saja yang tidak mengecam komunitas muslim dan dunia islam terkait kejadian tersebut secara langsung maka dianggap teroris.

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...