Ads 468x60px

.

Minggu, 08 Februari 2015

Jadilah Kitab Walau tanpa Judul


Jadilah Kitab Walau tanpa Judul || Sebuah Eksistensi Perjuangan Menanggalkan Identitas Diri dan Cinta Dunia ||


oleh: Akhi Sauqi Zhaahir

Bismillaahirrahmaanirrahiiim...... 


"Kun kitaaban mufiidan bila 'unwaanan, wa laa takun 'unwaanan bila kitaaban." Jadilah kitab yang bermanfaat walaupun tanpa judul. Namun, jangan menjadi judul tanpa kitab.


Pepatah dalam bahasa Arab itu menyiratkan makna yang dalam, terutama menyangkut kondisi bangsa saat ini yang sarat konflik perebutan kekuasaan dan pengabaian amanah oleh pemimpin-pemimpin yang tidak menebar manfaat dengan jabatan dan otoritas yang dimilikinya. Bangsa ini telah kehilangan ruuhul jundiyah, yakni jiwa kesatria atau jiwa keprajutritan. Jundiyah adalah karakter keprajuritan yang di dalamnya terkandung jiwa kesatria sebagaimana diwariskan pejuang dan ulama bangsa ini saat perjuangan kemerdekaan melawan tirani penjajah.


Semangat perjuangan (hamasah jundiyah) adalah semangat untuk berperan dan bukan semangat untuk mengejar jabatan, posisi, tahta dan gelar-gelar duniawi lainnya (hamasah manshabiyah). Saat ini, jiwa kesatria itu makin menghilang dari dada seluruh kaum muslimin.

Sebaliknya, muncul jiwa-jiwa kerdil, pengecut dan hina yang menginginkan otoritas, kekuasaan, dan jabatan, tetapi tidak mau bertanggung jawab, apalagi berkorban dan memanfaatkan serta mengendalikan dibawah pedang kesholehan, tombak ketaqwaan dan jubah keimanan yang berbalut dengan sorban dan selendang ketawadhuan dan keberanian atas dasar Iman dan Kebenaran. namun kini yang terjadi adalah perebutan jabatan, baik di partai politik, ormas, LSM, komunitas maupun pemerintahan.


Orang berlomba-lomba mengikuti persaingan untuk mendapatkan jabatan, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Akibatnya, di negeri ini banyak orang memiliki "judul", baik judul akademis, judul keagamaan, judul kemiliteran, maupun judul birokratis, yang tanpa makna. Ada judulnya, tetapi tanpa substansi, tanpa isi, tanpa makna dan tanpa roh diibaratkan bagai patung yang rapuh dan dimakan rayap tidak bisa dijadikan hiasan apalagi untuk menyimpan tanaman dan bunga yang indah.



Wujudihi Ka Adamihi......keberadaannya sama saja saat ketiadaannya, tidak ada manfaatnya bukankah bayangan rumahpun masih ada manfaatnya saat terik siang matahari kehadiran bayanganpun yang bukan sebuah benda mampu meneduhkan orang yang kepanasan.Padahal, ada kisah-kisah indah dan heroik berbagai bangsa di dunia.


Misalnya, dalam Sirah Shahabah, disebutkan bahwa Said bin Zaid pernah menolak amanah menjadi gubernur di Himsh (Syria). Hal ini membuat Umar bin Khattab RA mencengkeram leher gamisnya seraya menghardiknya, "Celaka kau, Said! Kau berikan beban yang berat di pundakku dan kau menolak membantuku." Baru kemudian, dengan berat hati, Said bin Zaid mau menjadi gubernur.



  • Ada lagi kisah lain, yaitu Umar bin Khattab memberhentikan Khalid bin Walid pada saat memimpin perang. Hal ini dilakukan untuk menghentikan pengultusan kepada sosok panglima yang selalu berhasil memenangkan pertempuran ini. Khalid menerimanya dengan ikhlas. Dengan singkat, ia berujar, "Aku berperang karena Allah dan bukan karena Umar atau jabatanku sebagai panglima." Ia pun tetap berperang sebagai seorang prajurit biasa. Khalid dicopot "judul"-nya sebagai panglima perang. Namun, ia tetap membuat "kitab" dan membantu menorehkan kemenangan. Sebuah kitab yang Allah sendirilah yang merangkumnya dalam lembaran shahifah-shahifah dari cahaya, emas dan tinta perak yang indah.


Sebuah kitab yang merangkum jejak perjalanan, perjuangan, kesholehan, ketaqwaan, ketaatan, keimanan dan kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebuah kitab yang terbentuk dari manifestasi ruhhiyah didalam dzahiroh setiap mukmin dan muslim. Namun, sejatinya kitab tersebut mampu dibaca melalui aplikasi diri pada pengalaman dan pengamalannya terhadap rangkaian indah tulisan yang digoreskan dan menjadi sastra indah kehidupan, sebagai sejarah, cinta, taqwa, dakwah dan militansi perjuangan untuk Islam yang tercinta.


Ibrah yang bisa dipetik dari kisah-kisah tersebut adalah janganlah menjadi judul tanpa kitab; memiliki pangkat, tetapi tidak menuai manfaat; memiliki jabatan, tapi terbutakan oleh keangkuhan dan kesombongan; memiliki tahta namun enggan tunduk pada Sang Pencipta dan makin tamak akan nafsu dan syahwat kekuasaannya, hingga kebenaran dan nashihat-nashihat keimanan pun terusir pergi dari hatinya. Bahkan memanfaatkan fasilitas dan peluang tahta yang diamanahkan oleh Allah untuk mengeruk keuntungan pribadi.


Maka, seharusnya ruuhul jundiyah atau jiwa kesatria yang penuh pengorbanan harus dihadirkan kembali di tengah bangsa ini sehingga tidak timbul hubbul manaashib, yaitu cinta kepada kepangkatan, jabatan-jabatan, bahkan munafasah 'alal manashib, berlomba-lomba untuk meraih jabatan-jabatan. Dan, menancapkan kuat-kuat benih keikhlasan didalam hati, karena eksistensi keberadaan diri kita dihadapan Allah bukan karena tahta, jabatan, materi, gemerlap duniawi, atau amaliyyah yang bercampur dengan riya dan kesombongan, melainkan eksistensi kita ada pada Taqwa dan keikhlasan.


Karena tanpa taqwa dan keikhlasan tak akan berbuah manis, benih amal yang ditanam melainkan tidak menghasilkan kebaikan melainkan dimakan hama ataupun rontok diterjang badai. Semoga dapat bermanfaat dan menambah referensi khazanah keilmuan antum/antuna sekalian tentang arti eksistensi diri dan arti sebuah keikhlasan dalam medan perjuangan, ketaatan, kepemimpinan, amanah dan pengorbanan apapun.


Selamat mengukir lembaran-lembaran kitab kehidupan-mu
Wassalaam

Sumber : Spirit of Dakwah PKS Forever

0 komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...